Hati yang Nelangsa


Mundur bukan berarti kalah, diam bukan berarti takut. Sering kadang kita menyakiti hati orang lain tanpa kita sadari. Lisan menggambarkan bagaimana hati dan prilaku yang sebenarnya. Sebagai orang yang merasa disakiti, jangan mendendam. Walaupun kadang  nyelekit dan selalu teringat,  lupakan dan  lupakan.  Karena di agama kita pun di ajarkan. Lupakan orang yang menyakitimu, dan ingat selalu kebaikan orang kepadamu.  Memang susah sih, memaafkan ketika kita disakiti dan tersakiti oleh teman sendiri. Tapi jadikan saja bahan instropeksi diri, agar kita tak berbuat hal serupa. Anggap saja kalau ini adalah balasan mungkin kalau kitapun pernah menyakiti hati orang lain juga tanpa kita sadari. Semua nya tentu berbalas, biarkan saja Allah yang membalasnya, kalah memang itu harus terbalaskan. Dunia ini hanyalah persinggahan jangan terlalu dipikirkan. Memang iya susah untuk menetralisir hati ketika kata kata dan perilaku mereka menyakiti kita, tapi mau tidak mau kita harus bisa memaafkan dan berusaha ikhlas menerima. Mengadu sajalah hanya kepada yang maha kuasa. Sang pemilik hati dan pemilik kehidupan ini, cukup tidak perlu di ekspos dan dibuka lagi aib nya aib mereka.  Ini adalah ujian hidup  yang harus dijalani dan harus diterima dengan ikhlas. Jangam berbuat sama atau membalas semua perilaku orang yang tidak pantas kepada kita. 
Hanya Allah yang tahu bagaimana susahnya bersabar tanpa bercerita kepada orang lain. Hanya Allah yang tahu bagaimana susahnya meredam rasa yang muncul tiba tiba ketika mendengar kata kata orang yang menyakiti. Kadang  lisan ini tak terkendali juga untuk tidak bercerita bagaimana susahnya meredam rasa. Semoga ini bukanlah b├álasan karena lisan ini juga sering menyakiti. Gak tau juga apakah karena usia ini semakin menua sehingga kadang mudah sekali merasa tersinggung dengan semua kata yang tidak sesuai dengan hati ini. 

0 comments:

Post a comment