Dilla, S.Pd. 
Pemerhati Pendidikan dan Anak

Pada perang dunia ke-2 ketika bom atom menghancurkan Nagasaki dan Hirosima, Kaisar Hirohito di Jepang bergegas mengumpulkan para jendral yang selamat. Pertanyaan pertamanya adalah “Berapa jumlah guru yang tersisa?” dia menyuruh mengumpulkan para guru yang selamat. Begitu besarnya peran dan fungsi guru bagi seorang pemimpin, menyiratkan bagaimana pentingnya dunia pendidikan sebagai salah satu sektor yang menjadi perhatian bagi keberlangsungan suatu bangsa. Terlepas dari apa dan bagaimana  kondisi serta keadaan yang dihadapai oleh bangsa, pemerintah sebagai garda terdepan tetap harus menunjukkan komitmen yang tinggi  kepada sektor pendidikan sebagai kunci kemajuan bangsa.

Demikian juga yang terjadi di negara kita saat ini. Sejak pandemi covid-19 menyapa hampir semua negara di dunia, otomatis berbagai sektor yang menunjang kehidupan manusia menjadi lumpuh. Semua pelayanan kemasyarakatan dan proses industri besar maupun kecil menjadi terhenti.  Tidak terkecuali dengan sektor pendidikan, semua sekolah dari TK, sampai Perguruan Tinggi harus melakukan pembelajaran daring dan luring dari rumah masing-masing. Pemerintah memberlakukan PSBB (Pembetasan Sosial Berskala Besar) dan Lockdown  untuk membatasi penyebaran virus yang tak kasat mata ini.

Bagaimana dengan dunia pendidikan? Di mana–mana kita dengar jeritan guru, masyarakat dan orang tua dengan berbagai polemik pembelajaran daring dan luring ini. Mulai dari pemberian tugas dengan menggunakan kuota internet yang tidak sedikit. Anak-anak yang susah di atur, gawai android tidak ada, dan sinyal internet yang bermasalah ketika pembelajaran daring harus dilakukan. Walau bagaimanapun pembelajaran  harus tetap berjalan meskipun itu dari rumah. Pendidikan tidak boleh terhenti hanya karena wabah, ilmu harus tetap digali demi kemajuan suatu negeri. Karena kemajuan suatu bangsa terletak pada kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) nya, yang berkaitan erat dengan dunia pendidikan.

  Pemerintah sebagai ujung tombak pengatur dan pelaksana pembangunan dan juga pembiayaan di berbagai sektor pelayanan, tidak lepas tangan dengan keadaan dan situasi ini. Pendidikan tetap menjadi fokus utama pemerintah di tahun 2020 ini, dengan alokasi 20% atau berkisar Rp. 152,69 triliun dari APBN. Hal ini ditujukan untuk dapat meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, karena kita masih menduduki peringkat ke-62 di dunia. Dalam arti kata, tingkat pendidikan kita di Indoneisa masih berada di dalam kulivikasi rendah. Oleh karena itulah selama sepuluh tahun terakhir pemerintah menganggarkan biaya pendidikan 20% untuk pembangunan infrastruktur di dunia pendidikan. Bisa dilihat dari diagram berikut!

 Sumber : https://www.kemenkeu.go.id

APBN tahun anggaran 2020 ini berjumlah sekitar 508,1 triliun. Meningkat dari tahun sebelumnya yang sebesar 478,4 triliun. Jadi anggaran dana pendidikan adalah keseluruhan pembiayaan dan pengeluaran yang berupa sumber daya (Input) baik berupa barang maupun berupa uang yang ditujukan untuk menunjang kegiatan proses belajar mengajar. Apa saja sasaran pembiayaan dalam anggaran pendidikan ini, mulai dari riset oleh LPDP, beasiswa S2/S3 LPDP, KIP kuliah, Kartu Indonesia Pintar, BOP PAUD berupa DAK non fisik, Bantuan Operasional Sekolah (BOS), sarpras PAUD berupa DAK fisik, bangunan/rehab ruang kelas, dan bangun/rehab kampus. Belum lagi anggaran sertifikasi guru yang tetap dibayarkan oleh pemerintah.

Begitu besarnya perhatian pemerintah untuk dunia pendidikan, sudah seharusnya diapresiasi oleh semua pihak. Berbagai pos anggaran tidak dipotong dalam masa pandemi ini, semua disalurkan untuk pembiayaan  dan pendanaan proses pendidikan, baik dari segi sarana dan prasarana, maupun fasilitas pendidikan itu sendiri. Peningkatan kualitas  sumber daya manusia yang bergerak dalam dunia pendidikan, kebutuhan oprerasional sekolah, siswa, guru dan pembiayaan peningkatan komponen pendidikan yang ada di lembaga ini. Dengan anggaran khusus yang diberikan kepada sektor ini diharapkan bisa mengejar ketertinggalan kita dari Negara lain. Maju tidaknya suatu bangsa tergantung maju atau tidaknya pendidikan di negara tersebut.

Di masa pandemi covid-19 ini, banyak anggaran yang harus dialihkan dan dipakai untuk mengatasi krisis ini. Di mana-mana masyarakat menjerit karena tidak bisa bekerja dan menghasilkan, otomatis pemerintah mengambil alih untuk memberikan bantuan langsung tunai (BLT) untuk meringankan beban masyarakat. Pemerintah harus mengorbankan berbagai anggaran dari beberapa sektor untuk mengatasi masalah ini, namun tidak untuk sektor pendidikan. Ternyata pembiayaan pendidikan tidak diganggu atau dikurangi. Kemenkeu (Kementrian Keuangan) menjelaskan, “Di masa pandemi covid–19 ini pembiayaan pendidikan tidak akan diganggu ataupun dikurangi. Bagaimana caranya yaitu melalui dana abadi dan akumulasi dana abadi pendidikan.”  Ujar Kemenkeu (14/04/2020). Hal ini diatur melalui perpu nomor 1 tahun 2020.

Dunia pendidikan sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia (SDM) setiap bangsa, harus mendapat perhatian khusus dalam menjalankan programnya. Staf khusus Mentri Keuangan Yustinus Prastowo juga menjelaskan, bahwa saat ini anggaran pendidikan sekitar Rp 508 triliun secara khusus tidak dipangkas. Padahal, semua kementrian anggarannya terkena pemotongan untuk penanganan covid-19 ini. Kemenkeu sebagai lembaga resmi yang mengatur tentang keuangan dan belanja negara, sudah melakukan pengelolaan dan penyaluran anggaran pendidikan yang lebih efektif dan efisien dalam penyaluran dananya. Dengan ini diharapkan sekolah bisa lebih leluasa dalam hal pendanaan dan pembiayaan operasional sekolah

Apa tujuan dari pembiayaan pendidikan? Sebagai hasil akhir untuk mutu pendidikan yang terjaga. Dengan kata lain, pembiayaan pendidikan adalah upaya pengumpulan dana untuk membiayai operasional dan pengembangan pendidikan, untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) sehingga mampu bekerjasama dilingkup lokal, regional, nasional, maupun internasional. Begitu besarnya peran APBN bagi dunia pendidikan,  melalui Kemenkeu pemerintah terus mengupayakan dan mendukung dunia pendidikan dan melindunginya dari dampak pandemi.  Berbagai usaha dilakukan agar tidak ada pemotongan dalam sector pendidikan ini. Bagaimanapun wabah memburu saat ini, pendidikan tetap harus melaju. 


Oleh Dilla, S.Pd.
Praktisi Pendidikan dan Anak

       Mendambakan anak yang sholeh dan bertqwa kepada Allah adalah  cita-cita semua orang tua. setiap orang tua bisa dan mempunyai hak yang sama untuk bisa menjadikan anak-anaknya menjadi anak yang sholeh, bertakwa dan kaya. Kaya ilmu dan kaya harta, semua adalah dambaan semua insan. Bisakah kita melatih dan menjadikan anak-anak kita kaya dan takwa? Tentu sangat bisa, setiap orang tua mempunyai kesempatan yang sama untuk bisa mencetak anak-anak yang kaya dan taqwa kepada Allah. Bagaimana caranya, yaitu dengan mengisi otak anak dengan kata-kata dan hikmah yang bermanfaat.  Kata-kata adalah doa, jadi selalulah sebutkan dan ucapkan kata-kata penuh hikmah kepada anak-anak kita. Jangan menasihati anak ketika dia sedang emosi. Nasihatilah anak ketika dia sedang senang dan siap menerima nasihat. Kapan anak siap menerima nasihat, ketika mereka sedang senang, gembira dan bahagia. Kebiasaan kita sebagai orang tua menasihati anak justru ketika anak sedang kesal, karena kita marahi setelah melakuakan kesalahan. Asalkan tahu, otak anak tidak akan menerima satupun nasihat yang kita sampaikan,  karena dia sedang kesal dan juga marah. Dia hanya bisa diam dan menunduk, sedangkan hatinya dongkol tidak terkira. 

Lalu, bagaimana cara menanamkan keimanan dan ketakwaan kepada anak? Rasulullah SAW, menunjukkan betapa pentingnya menanamkan keimanan kepada anak. Rasulullah juga memberikan nasihat yang berharga dan luar biasa untuk ibnu ‘Abbas yang ketika itu masih kecil. Rasulullah bersabda: “ Wahai Anakku, sesungguhnya aku mengajarkanmu beberapa kata ini sebagai nasihat buatmu. Jagalah hak-hak Allah swt, niscaya Allah swt akan menjagamu. Jagalah dirimu dari berbuat dosa kepada Allah niscaya Allah swt akan berada di hadapanmu. Apabila Engkau menginginkan sesuatu mintalah kepada Allah swt. Dan apabila ingin meminta pertolongan mintalah pertolongan kepada Allah swt. Ketahuilah apabila seluruh umat manusia berkumpul untuk memberi manfaat kepadamu, mereka tidak akan mampu melakukannya kecuali apa yang telah dituliskan Allah swt di dalam takdirmu.  Juga sebaliknya apabila mereka berkumpul untuk mencelakai dirimu, niscaya mereka tidak akan mampu mencelakaimu sedikitpun kecuali atas kehendak Allah swt. Pena telah diangkat dan lembaran takdir telah kering.” (HR Tarmizi )

   Hadist tersebut mengajarkan kepada kita bahwa kita harus menggambarkan kepada anak dasar keimanan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah swt karena: tiada penolong kecuali Allah swt yang maha kuasa. Allah swt yang senantiasa membalas kebaikan. Tidak ada tempat meminta kecuali Allah swt. Dan tidak ada tempat bergantung kecuali kepada Allah swt. Selain meberikan nasihat kepada anak hal dasar yang harus ditunjukkan kepada anak adalah keteladan. Karena sebaik-baiknya dakwah adalah dengan keteladanan. Keteladanan adalah perkataan yang tercermin dalam tindakan atau sebaliknya.  Dalam memberikan keteladanan, lakukan dengan konsisten karena konsisten akan membuat keteladanan melekat dalam diri anak. Istiqomah, dan selalu lakukan setiap hari tanpa putus-putus. 

        Apa saja contoh keteladan yang mulai dapat dibiasakan di rumah? Keteladanan dalam membaca alquran setiap hari, salat berjamaah di masjid bagi laki-laki, berjilbab bagi perempuan, berdoa dan berkata lembut, tidak merokok, bersadakah jariyah, dan masih  banyak keteladanan dari Rasulullah saw yang dapat mulai dibiasakan dengan diri sendiri dan pasangan sebelum meminta anak melakukannya. Keteladan akan masuk ke otak anak, tanpa kita minta dan paksa. Anak akan melihat, dan dia akan melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan oleh orangtuanya.  Apa yang di dengar dan dilihat anak sejalan, tidak hanya omdo atau omong doang. Janganlah seorang ibu, menyuruh anak salat, namun si ibu tetap asik dengan gawainya. Anak akan menilai, kenapa berbeda ya apa yang dilihat dan apa yang di dengar. Seharusnya sama apa yang di dengar dan apa yang dilihat anak. Ketika kita menyuruh mereka salat, ya kita bergerak mengambil wuduk. Jadi kalau menyuruh anak, sang ayah atau ibu harus siap dulu melakukan apa yang diperintahkan. Maka anak pasti akan melakukan apa yang disuruh. Jadi antara mata dan telinga harus sejalan, barulah keteladanan itu berjalan. 

         Selain itu,  apalagi yang harus  dilakuakan untuk menumbuhkan rasa cinta (mahabbah) keimanan kepada anak?  Rasa cinta (mahabbah) itu bisa tumbuh dengan suatu pembiasaan. Yaitu mengubah lingkungan sekitar sehingga senantiasa mengingatkan kita pada sesuatu yang kita cintai. Dan akan timbul rasa cinta yang begitu kuat tertanam sangat dalam, apalagi saat kecil. Karena akan masuk ke otak anak. Bagaimana cara menumbuhkan rasa inta anak kepada Robnya. Yaitu  melalui keteladanan. Rasa cinta kepada Allah swt atau mahabbatullah adalah rasa cinta paling tinggi yang dapat diwujudkan seorang hamba kepada Robbnya. Caranya adalah dengan  sering menyebut asma Allah swt. Ajari anak untuk memahami sifat-sifat Allah swt, ajari untuk senantiasa bersyukur kepada Allah swt, dan kaitakan semua kebaikan dengan Allah swt, namun lakukan dengan cara dialogis. Atau dialog. Lakukan ketika anak sedang gembira, bukan ketika mereka sedang lelah dan capek atau anak sedang banyak masalah. Perdengarkan semua kalimat-kalimat toibah kepada mereka, seperti: basmalah, hamdalah, Allahuakbar, subhanallah, dan banyak kalimat toibah lainnya dalam setiap melakukan tindakan. Jika kita selalu mengucapkan kalimat-kalimat tersebut, mereka akan mendengar dan merekam semua ucapan kita, dan juga akan mempraktikannya.   

     


Oleh Dilla, S.Pd. 

Anak lahir dalam keadaan fitrah (QS. 7:172 ). Anak adalah anugerah terbesar yang diberikan oleh Allah kepada setiap insan yang bernama orang tua. Fitrah keimanan sudah ditanamkan oleh Allah pada setiap anak. Setiap anak telah bersaksi bahwa Allah adalah tuhan mereka. Mereka dilahirkan bersih dan suci tanpa noda, diibaratkan seperti tabula rasa atau kertas putih polos, lingkungannya lah yanga akan menwarnai kertas tersebut sesuai dengan pemahaman-pemahaman yang mereka dapat di sekitarnya, terutama keluarga dan orang tua.

Bagaimanakah cara memberikan dan menumbuhkan fitrah keimanan kepada anak?  Apakah sama cara setiap orang tua dalam menanamkan pendidikan yang diberikan kepada anaknya? Pendidikan yang diberikan seharusnyalah bukan hanya sekadar proses mengajarkan menulis dan membaca, mempersiapkan dan mengejar agar masuk universitas ternama saja. Mendidik juga bukan menyerahkan anak ke sekolah agama agar dilatih menjadi penghapal alquran, lalu kita sudah merasa aman. Lebih dari itu, sebagai orang tua kita harus bisa menjadi panutan dan  menumbuhkan fitrah keimanan pada anak semenjak dini. Proses pendidikan keluarga adalah proses mengenal Rabb-nya, mencintai Rabb-nya, akidah, akhlak, serta ibadah yang utama. Selain itu, adalah pendukung untuk meraih surga-Nya.

Apabila semua keluarga dan orang tua sudah bisa memberikan pendidikan dan menumbuhkan fitrah keimanan sejak dini kepada anak, maka akan muncul lah anak-anak dan manusia yang handal dan beriman kuat di masa depan. Akan hadir anak-anak yang tahu adab dan berakhlak mulia serta berkarakter. Dalam tuntutan kurikulum saat ini lebih  mengedepankan nilai karakter kepada anak didik. Kenapa bisa demikina? Karena memang karakterlah modal utama dalam menjalani kehidupan ini. Apapun yang dilakukan dalam setiap lini kehidupan dan pekerjaan semua membutuhkan adab dan karakter yang mulia. Apakah itu nilai religius, sosial, tanggung jawab, kerja keras, disiplin, dan masih banyak karakter-karakter positif lainnya yang harus di bina sejak dini. Jika nilai karakter dan fitrah keimanan ini sudah melekat dalam diri anak, maka itu akan bersifat permanen dan tahan lama. Harus kita sadari bahwa penanaman nilai karakter dan fitrah keimana anak itu tidak bisa di ajarkan, namun dicontohkan untuk diteladani oleh anak-anak. Dari mana mereka dapatkan? Ya dari keluarga khususnya orang tua.

Kenapa harus sejak usia dini menanamkan dan menumbuhkan fitrah keimanan dan nilai karakter ini pada anak? Karena mendidik anak sedini mungkin lebih baik sebelum lingkungan mengajarkan banyak hal kepada mereka. Sebelum mereka melangkah ke luar rumah, penanaman fondasi keimanan harus kita teladankan kepada anak. Semua bisa dilakukan dalam keseharian kita kepada anak. Pendidikan anak sejak usia dini, bagaikan mengukir di atas batu. Ukirannya  begitu kokoh dan berlaku seumur hidup dan bersifat permanen. akan membekas sepanjang umur mereka. Jadi sudah seharusnyalah orang tua menyadari hal tersebut dan mengisi hari anak-anak di masa umur keemasan mereka yang sering disebut dengan golden ages dengan hal-hal yang bermanfaat dan menjadi kenangan seumur hidup mereka.

Apa yang harus ditanamkan kepada anak usia dini dalam menanamkan fitrah keimanan nya ini? Merujuk kepada Alquran dan hadist, Allah sudah punya standar keimanan kepada hamba-Nya yang disebut takwa. Takwa itu lah yang akan ditanamkan kepada anak sejak dini, bagaimana menanamkan mental percaya bahwa segala sesuatu itu ada yang mengatur, dan setiap hal yang akan kita lakukan juga ada aturannya.  Prosesnya memang tidak mudah dan tidak instan, namun kita bisa lakukan dengan sungguh sungguh dan secara terus menerus maka tidak akan ada yang tidak bisa. Anak adalah investasi akhirat, sebab doa anak yang sholeh yang akan sampai kepada orang tuanya di akhirat kelak, oleh karena itulah sudah selayaknya kita mempersiapkan investasi kita sejak didni. Regenerasi ketakwaan akan berjalan mulus sampai akhir hayat dan sampai kita meninggalkan dunia ini jika bisa mempersiapkan mereka anak-anak dan buah hati kita sebagai investasi terbaik dalam hidup.

Tanpa disadari, bahwa saat ini kita sedang bertarung dengan makar iblis? Allah telah memberi peringatan, “Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya 'auratnya’. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.” (QS, Al A'raf: 27). Apa target capaian Iblis sesungguhnya? “Jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, (manusia) kecuali sebagian kecil dari mereka yang beriman dan bertakwa (QS, Al Isra' : 62). Ini adalah jawaban dari iblis.

 

Mendidik dan menanamkan fitrah keimana sejak dini kepada anak adalah misi peradaban besar, investasi paling serius dalam proses meninggalkan jejak. Kita sedang mencetak warna generasi penerus, itu sebabnya mendidik anak akan diminta pertanggungjawabannya langsung oleh Allah di akhirat kelak. Apalagi sekarang ini, di abad-21, generasi milenial sudah sangat maju dengan semua teknologi yang menunjang aktivitasnya. Sangat banyak tantangan yang akan dilalui dalam mendidik para milenial saat ini. Apabila kita tidak didik mereka sejak usia dini, maka akan semakin kompleks lah permasalahan yang akan kita hadapi di masa depan. Semakin maju peradaban. maka manusianya semakin sudah di atur,  itu sudah menjadi suatu keniscayaan.

Lalu apa langkah yang harus ditempuh agar anak-anak kita bisa kembali kepada fitrahnya? Pertama, perbaikilah komunikasi kita kepada anak, sebagai orang tua kita harus bisa memperbaiki cara komunikasi kepada anak, karena cara komunikasi yang salah akan menyebabkan masalah yang lebih besar lagi bagi anak. Kedua, hadirlah sebagai sosok yang menyenangkan sehingga anak menjadikan kita orang tuanya sebagai teman curhat dan tempat bercerita. Ketiga, ajarkan anak bagaimana cara mencintai, cinta kepada Tuhannya, dan cita kepada sesama. Cintai mereka setulus hati maka mereka akan mencintai kita sepenuh jiwanya. Kecintaan yang muncul dari hati lebih penting dari pada sekadar ungkapan tanpa makna.   Dengan menanamkan konsep cinta kepada Tuhannya, anak akan menyadari mengapa mereka harus sholat, mengapa harus puasa, mengapa mereka harus bersikap baik pada sesama mahluk, dan mengapa-mengapa lainnya yang dilandasi oleh rasa cinta.

Untuk semua jawaban mengapa merka adalah bahwa  Allah cinta dan sayang kepada kita. Dengan menjalankan perintah-Nya adalah bentuk kecintaan Hamba pada Rabb-nya. Tanamkan terus menerus konsep dicinta dan mencintai Rabb pada anak, agar sepanjang masa nilai berharga dirinya terletak pada ridho Allah, bukan yang lain. Jika anak bertanya apa yang dimaksud cinta, beri tahu mereka dengan contoh belaian orang tua. Jika anak sudah usia di atas 7 tahun, ajarkan pula bentuk cinta tak selalu indah di awal. Allah larang kita ini itu pun adalah bentuk cinta. Agar suatu saat anak menghadapi hal yang sulit, ia akan terus berpikir segala ketetapan Allah adalah bentuk cinta dan hikmah dalam hidupnya.

Dilla, S.Pd. Pemerhati Pendidikan dan Anak

Membangun Keluarga yang Dirindukan

Oleh, Dilla, S.Pd.

Guru SMP Islam Al-IShlah Bukittinggi

 

            Setiap insan pasti mempunyai keluarga. Terlepas dari lengkap tidaknya keluarga yang dimiliki, setiap kita berasal dari sebuah keluarga dan akan kembali ke keluarga. sebesar dan sehebat apapun usaha dan kehebatan kita, selelah apapun kita bekerja, pasti kita akan kembali kepada keluarga. Sekarang masalahnya, sudahkan keluarga yang kita punya adalah keluarga yang dirindukan oleh semua penghuninya?  Bagaimana menjadikan sebuah keluarga, menjadi keluarga yang dirindukan oleh setiap anggota keluarganya? Mari kita lihat empat tipe keluarga yang ada di dalam alquran. Tipe keluarag apakah yang akan dan telah kita bina selama ini.

Ada empat tipe keluarga yang terdapat di dalam alquran yaitu Keluarga Firaun, keluarga Abu Lahab, keluarag nabi Ibrahim, dan keluarga Imran. Siapakah keluraga pilihan Allah yaitu Keluarga Nabi Ibrahim dan keluarga Imran. Terdapat di dalam QS. Ali Imran ayat 33 yang artinya, “Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat di usia mereka masing-masing”. Kenapa keluarag para nabi itu yang menjadi pilihan Allah, apa rahasia kesuksesan keluarag nabi Ibrahim dan keluaraga Imran tersebut?

Keluarag Ibrahim memiliki visi yang jelas yaitu “Mencari Kebahagiaan Akhirat”. Sudah selayaknyalah kita sebagai keluarga muslim harus memiliki visi yang sama. Apa visi yang harus kita tanamkan, Harus masuk surga sekeluarga. Tidak hanya mementingkan ibadah kita saja danmengabaikan ibadah anak-anak dan pasangan kita. Anak-anak jika tidak dididik dengan baik dan berpedoman kepada agama, maka akan bisa berubah menjadi musuh. Maka jangan biarkan musuh kita lahir dari Rahim kita sendiri. Berapa banyak anak-anak yang tumbuh di rumah kita namun bukan kita yang mendidiknya melainkan fasilitas yang ada di rumah kita. Fasilitas yang kita berikan kepada mereka dengan alas an untuk sumber informasi dan hiburan mereka selagi kita juga sibuk bekerja.

Jadi apa yang harus kita lakukan di dalam keluarag kita untuk menjadikan keluarga dirindukan oleh setiap anggota keluarganya? Yang pasti ayah dan ibu harus mempunyai visi yang sama.  Ayah dan ibu sebagai ujung tombak dalam mengatur keluarga harus bisa menyatukan visi yang sama. Lalu memahamkan kepada setiap anggota keluarga dengan visi yang telah dibangun bersama. Haruslah semua anggota keluaraga bisa memperbaiki kualitas diri sebagai orang tua baik keilmuan maupun keshalehan. Hiasi rumah kita dengan shalat dan memperbanyak berinteraksi dengan alquran, buat aturan keluarga dan tanamkan rasa takut berbuat dosa kepada seluruh anggota keluarga.

 

Bayangkanlah, bagaimana bahagianya bahwa surga yang merindukan kita, bukan yang lain. Pertanyaannya sudahkah layak keluarga kita dirindukan oleh surga? Bagaiman tipe atau kriteria keluarga yang dirindukan oleh surga? Mari kita bahas. Keluarga yang dirindukan oleh surga yaitu tipe keluarganya Imran. Siapa itu Imran? Imran adalah satu-satunya tokoh islam  bukan nabi yang namanya diabadikan oleh Allah di dalam Alquran. Yaitu surat Ali Imran. Di dalam surat ini dijelaskan bagaimana Luqman mengajarkan ketaudan dan keesaan kepada Allah. Apa saja yang di ajarkan Luqman kepada anaknya? Yaitu tentang bersyukur terhadap nikmat Allah SWT, tentang menyembah Allah dan menghindari syirik, dan mengajarkan agar kita tidak boleh sombong dalam menjalani kehidupan ini.

            Lalu tipe keluarga siapa lagi yang dirindukan oleh surga? Yaitu keluarga nabi Ibrahim. Keluarga Ibrahim adalah kelurag yang sangat sabar dalam menjalani ujian kehidupan dari Allah swt. Dia adalah keluarga yang mengutamakan musayawarah dalam mengambil keputusan. Sama-sama kita tahu bagaimana Ibrahim meminta pendapat Ismail ketika Allah menyuruh menyembelih Islamil putra kesayangannya. Di sana terjadi musaywarah untuk mufakat. Mengajarkan kepada kita bagaimana seharusnya di dalam keluarga. Jangan hanya ingin memnang sendiri dan mementingakn diri sendiri. Sepahit apaun keputusan yang akan di ambil, harusdibicarakan dengan kelauaraga.

            Lalu kenapa kelauraga Imran dan Ibrahim ini yang dirindukan oleh surga? Karena keluarga ini mempunyai visi yang jelas. yaitu mencari kebahagiaan akhirat. Rabbi syrahli minasshalihin. Nabi Ibrahim diuji selama 65 tahun untuk meminta anak. Visi keluarga Ibrahim terdapat dalam surah Al Baqarah ayat 132. Visi keluarga Imran dalam QS Ali Imran ayat 35. Jika ibu soleh, maka anakpun akan sholeh. Jika ayah soleh, ibu durhaka, maka anakpun akan durhaka. Untuk mejadi keluarga yangdirindukan maka samakan visi anatar ayah dan ibu. Visi pasangan hidup. Yang harusnya memiliki visi adalah ayah sebagai kepala keluarga. Target untuk anak adalah akhirat. Kalau hanya target duniaa, hewanpun bisa hidup.

 

Ada beberapa tipe keluarga di dalam Al-Qurannul Kariim. Yaitu, keluarga nabi Nuh, siapa yang durhakan? Ya, anaknya. Lalu kelurga nabi Luth, siapa yang durhaka pada nabi Luth? Istrinya. Keluarga kedua adalah keluarganya Firaun, suaminya yang durhaka, ketiga keluarga Abu Lahab: suami dan istri yang durhaka. Yang keempat, adalah keluraga nabi Ibrahim dan keluarga Imran. Dari keempat keluarga di atas, keluarga siapakah yang patut kita jadikan teladan? Yah. Keluarga nabi Ibrahim dan keluarga Imran.

            Satu-satunya tokoh islam yang disebutkan namanya dalam Al Quran adalah Imran. Bahkan namanya diabadikan dalam Al-Quran surat Ali Imran ayat 33 yang berbunyi, Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, nuh, keluarga ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat (di mana mereka masing-masing)

            Rahasia sukses keluarga Ibrahim dan Imran adalah, memiliki visi yang jelas           Visi keluarga mulia adalah masuk keluarga sekeluarga, jika tidak dididik sebagaimana \mestinyaa ana\k akan berubah menjadi musuh. Maka jangan biarkan musuh kita lahir dalam rahim kita sendiri. Sekarang banyak yang mendidik anak adalah dengan vasilitas yang kita berikan kepada anak. Jadi para ibu, dan ayah, para orangtua, jangan ciptakan jahanam di rumah sendiri. Apa rahasia kesuksesan nabi Ibrahim dan imran dalam mendidik keluarganya? yaitu adanya keteladanan. Karena kesholehan itu ditularkan, bukan diajarkan.

            Yang kedua adalah tutur kata  dan komunikasi dalam pengasuhan. Seperti dialog antara Ya’Qub dan Ysusf. Harus ada dialog yang penuh dengan kasih sayang dalam keluarga. Ketiga adalah kesabaran, kesolehan orangtua membawa kebaikan bagi anak. Keempat, adalah kekuatan doa, maskimalkan doa pada Allah sampai ajal berpisah dari jasad. Maksimalkan usaha denga penyerahan total kepada Allah. Selalu minta solusi pada Allah, minta tolong dalam mengasuh anak, yakin doa bjsa mengubah takdir,

            Bagaimana menjadi keluarga yang dirindukan surga: hiasi rumah dengan shalat dan perbanyak berinteraksi dengan Al Quran, perbaiki kualitas diri sebagai orang tua baik kelimuan dan kesholehan. Buat aturan dalam keluarga dan tanamkan rasa takut berbuat dosa kepada Allah. Insyaallah keluarga kita akan menjadi keluarga yang dirindukan oleh setiap anggota keluarganya.

 


MANFAAT GEMAR MENULIS

Oleh, Dilla, S.Pd.

Pemerhati Pendidikan dan Anak 

 

Jika ingin mengenal dunia, Mebacalah! Jika ingin dikenal dunia Menulislah!

            Pernahkan mendengar ungkapan di atas? Pada kenyataannya itulah yang berlaku. Kita bisa menjelajah kemana saja di penjuru dunia ini, dengan hanya duduk manis dimana saja dengan cara membaca. Namun kita bisa di kenal dunia, walaupun nyawa tidak bersemayam lagi di raga ini, dengan buah karya kita berupa tulisan. Betapa banyak tokoh-tokoh besar yang nama nya tetap hidup walaupun raganya tak lagi ada, namun mereka hidup dengan karya-karya tulisnya. Masih malaskah untuk memulai menulis?

            Menulis!!! Susah, ah... Gak ada Ide... Gak tau mau mulai dari mana... dan banyak celetukan lainnya kalau ada saran atau motivasi untuk menulis. Menulis menjadi momok yang cukup menakutkan bagi banyak orang. Tapi menulis, tanpa dimulai tidak akan bisa. Ibarat orang belajar naik sepeda, pasti ada jatuh dan lecetnya, namun jika sudah lancar, bahkan bisa lupa bagaiman proses belajarnya. Demikian jugalah dengan menulis. Tanpa di coba dan dilatih terus menerus, tidak akan bisa kita menulis.

Dalam kehidupan sehari-hari banyak dijumpai orang –orang yang senang bercerita, terutama dalam proses berkomunikasi antarsesamanya. Bagi seorang penulis, menulis tidak ubahnya seperti berbicara. Ketika mengeluarkan argumen dan opini dia bisa menuliskannya seperti layaknya orang bercerita. Apalagi jika bahan yang di tulis sangat dikuasainya. Semua tulisannya mengalir begitu saja.

Jika ditanya, mengapa menulis, seorang penulis akan mengemukakan pendapat yang berbeda-beda. Bisa jadi karena uang, ketenaran, hobi, bahkan karena tidak ada hal lain yang bisa dilakukan. Seperti yang diungkapkan Lie Charlie dalam "Jadi Penulis Ngetop Itu Mudah", dengan menulis kita dapat mengekspresikan diri, memberikan opini dan teori, memberikan informasi, mengabadikan sejarah, mencerahkan jiwa, bahkan untuk menghibur orang lain. Alasan dan tujuan seorang penulis itu perlu digali secara dalam dan jelas, karena dapat menggerakkan penulis dalam kegiatan mengayunkan pena di atas kertas dan menghadapi rintangan selama proses menulis berlangsung.

Dibandingkan berbicara, menyimak, maupun membaca, menulis memang memiliki kelebihan tersendiri. Dengan menulis, seseorang dapat mengungkapkan sesuatu yang tak terucapkan, mencerminkan kedalaman pikiran, dapat dibaca berulang-ulang, mudah dipublikasikan, berdaya sebar tinggi, dan abadi melampui zaman. Tidak salahkan dengan ungkapan pada awal tulisan di atas? Melihat hal-hal yang bisa dilakukan dengan menulis, seorang penulis dapat meraih manfaat dalam kegiatan menulis, baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain.

Menulis dapat menyelamatkan hidup. Banyak orang yang terselamatkan hidupnya dengan menulis. Seseorang dapat mengambil keputusan-keputusan yang buruk bagi dirinya, seperti bunuh diri, ketika tidak sanggup lagi menahan geliat kesedihan, tekanan hidup, dan tekanan rasa kecewa yang begitu menyakitkan. Apalagi saat merasa bergumul sendirian dan tidak ada satu pun tempat untuk mencurahkan setiap rasa yang ada. Kita dapat mencurahkan semua rasa itu  dalam bentuk  tulisan atau curahan hati yang kita ungkapkan dalam bentuk tulisan. Karena banyak penulis besar yang dikenal dunia, bangkit dari keterpurukan hidupnya, dan dia coba untuk menulis. Salah satunya adalah Caryn Mirriam-Golberg, Ph.D, Dalam bukunya "Daripada Bete, Nulis Aja!”. Dia merasa hidupnya sudah hancur. Ketika mencoba menulis, dia sadar bahwa hal itu telah menyelamatkan hidupnya. Menulis membuka pikirannya bahwa bunuh diri bukanlah keputusan yang benar dalam menghadapi kesulitan dan kesedihan yang melanda. Menulis juga membantunya memahami luka hati dan membuat hidupnya menjadi lebih berarti.

Menulis juga menyehatkan lhoo. Mungkin terdengar lucu, namun hal ini telah diteliti dan dibuktikan bahwa menulis berdampak baik bagi kesehatan. Dalam buku "Quantum Writing: Cara Cepat Nan Bermanfaat untuk Merangsang Munculnya Pontensi Menulis" dikisahkan mengenai penelitian yang dilakukan Dr. James W. Pennebaker, era tahun 1990-an. Ia melakukan penelitian selama lima belas tahun mengenai pengaruh upaya membuka diri terhadap kesehatan fisik. Dia berpendapat bahwa upaya mengungkapkan segala pengalaman yang tidak menyenangkan dengan kata-kata dapat memengaruhi pemikiran, perasaan, dan kesehatan tubuh seseorang. Hasil penelitiannya menyebutkan bahwa; menulis menjernihkan pikiran; menulis dapat mengatasi trauma; menulis membantu mendapatkan informasi baru;   menulis membantu memecahkan masalah.

Menulis membuat kita selalu dikenang sepanjang masa. Seperti ungkapan di awal tulisan ini, Orang hidup dibatasi oleh usia. Namun, sebuah tulisan hidup untuk selamanya. Banyak penulis yang sudah meninggal dunia, akan tetapi karyanya tetap hidup sampai sekarang dan menjadi rujukan serta referensi bagi peneliti dan bagi pembacanya. Tulisan bersifat lebih abadi daripada bahasa lisan. Setelah mendengar orang bicara, selang beberapa menit seseorang bisa lupa. Berbeda dengan tulisan, ketika seseorang lupa tentang apa yang dibacanya, dia dapat membaca kemudian mengingatnya kembali. Selain itu, ketika tidak mengerti maksud sebuah tulisan, seseorang dapat mempelajarinya berulang-ulang sampai dia mengerti. Kelak, meskipun kita telah tiada, ide dan pikiran kita tetap ada.

Saat akan mulai menulis, berbagai ide dan gagasan seperti simpang siur dalam pikiran seorang penulis. Ide dan gagasan tersebut harus disusun secara sistematis agar dapat dipahami dan dimengerti orang lain dengan baik. Dengan menulis kita dapat meningkatkan kemampuan berpikir  kita secara optimal . Proses penyusunan ide agar tulisan dapat dengan mudah dipahami akan membawa kita kepada pengenalan terhadap ide-ide orang lain dan melahirkan pendapat atas ide-ide tersebut. Karena itu, belajarlah menyusun argumentasi untuk menopang ide agar mudah dipahami (rasional). Hal tersebut berarti menulis membuat kita terbiasa berpikir sistematis dan saksama. Apabila terbiasa melakukannya, kemampuan berpikir kita akan semakin tajam.

Menulis dapat  mendatangkan kesehatan jasmani dan rohani bagi kita. Karena dengan menulis, kita bisa mengalihkan pikiran, dan menuangkan rasa yang ada pada tulisan. Kita pun bisa mengirimkan tulisan kita ke media cetak sebagai motivasi dalam berkarya. Yakinlah akan ada rasa kepuasan tersendiri jika karya kita bisa di baca oleh orang lain. Dalam arti kata adanya pengakuan bahwa karya kita bisa diterima oleh masyarakat. Hal itu akan menambah kepercayaan diri dalam berkarya. Tetapi terlepas dari semua itu, yang utama dan terutama adalah kita telah mengembangkan talenta menulis yang Allah sudah berikan kepada kita.

Manfaat-manfaat menulis yang sudah diuraikan di atas kiranya dapat memberi semangat bagi kita yang sedang mulai menjejakkan kaki dalam dunia tulis menulis. Sebagai umat muslim pun kita juga harus tahu, bahwa mukjizat sepanjang zaman yaitu Al-Quran pun jadi abadi karena dituliskan. Oleh karena itu marilah kita budayakan menulis. Di mulai dari diri sendiri dan dimulai dari sekarang.

 


Membangun Keluarga yang Dirindukan

Oleh, Dilla, S.Pd.

Pemerhati Pendidikan dan Anak 


            Setiap insan pasti mempunyai keluarga. Terlepas dari lengkap tidaknya keluarga yang dimiliki, setiap kita berasal dari sebuah keluarga dan akan kembali ke keluarga. sebesar dan sehebat apapun usaha dan kehebatan kita, selelah apapun kita bekerja, pasti kita akan kembali kepada keluarga. Sekarang masalahnya, sudahkan keluarga yang kita punya adalah keluarga yang dirindukan oleh semua penghuninya?  Bagaimana menjadikan sebuah keluarga, menjadi keluarga yang dirindukan oleh setiap anggota keluarganya? Mari kita lihat empat tipe keluarga yang ada di dalam alquran. Tipe keluarag apakah yang akan dan telah kita bina selama ini.

Ada empat tipe keluarga yang terdapat di dalam alquran yaitu Keluarga Firaun, keluarga Abu Lahab, keluarag nabi Ibrahim, dan keluarga Imran. Siapakah keluraga pilihan Allah yaitu Keluarga Nabi Ibrahim dan keluarga Imran. Terdapat di dalam QS. Ali Imran ayat 33 yang artinya, “Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat di usia mereka masing-masing”. Kenapa keluarag para nabi itu yang menjadi pilihan Allah, apa rahasia kesuksesan keluarag nabi Ibrahim dan keluaraga Imran tersebut?

Keluarag Ibrahim memiliki visi yang jelas yaitu “Mencari Kebahagiaan Akhirat”. Sudah selayaknyalah kita sebagai keluarga muslim harus memiliki visi yang sama. Apa visi yang harus kita tanamkan, Harus masuk surga sekeluarga. Tidak hanya mementingkan ibadah kita saja danmengabaikan ibadah anak-anak dan pasangan kita. Anak-anak jika tidak dididik dengan baik dan berpedoman kepada agama, maka akan bisa berubah menjadi musuh. Maka jangan biarkan musuh kita lahir dari Rahim kita sendiri. Berapa banyak anak-anak yang tumbuh di rumah kita namun bukan kita yang mendidiknya melainkan fasilitas yang ada di rumah kita. Fasilitas yang kita berikan kepada mereka dengan alas an untuk sumber informasi dan hiburan mereka selagi kita juga sibuk bekerja.

Jadi apa yang harus kita lakukan di dalam keluarag kita untuk menjadikan keluarga dirindukan oleh setiap anggota keluarganya? Yang pasti ayah dan ibu harus mempunyai visi yang sama.  Ayah dan ibu sebagai ujung tombak dalam mengatur keluarga harus bisa menyatukan visi yang sama. Lalu memahamkan kepada setiap anggota keluarga dengan visi yang telah dibangun bersama. Haruslah semua anggota keluaraga bisa memperbaiki kualitas diri sebagai orang tua baik keilmuan maupun keshalehan. Hiasi rumah kita dengan shalat dan memperbanyak berinteraksi dengan alquran, buat aturan keluarga dan tanamkan rasa takut berbuat dosa kepada seluruh anggota keluarga.

 

Bayangkanlah, bagaimana bahagianya bahwa surga yang merindukan kita, bukan yang lain. Pertanyaannya sudahkah layak keluarga kita dirindukan oleh surga? Bagaiman tipe atau kriteria keluarga yang dirindukan oleh surga? Mari kita bahas. Keluarga yang dirindukan oleh surga yaitu tipe keluarganya Imran. Siapa itu Imran? Imran adalah satu-satunya tokoh islam  bukan nabi yang namanya diabadikan oleh Allah di dalam Alquran. Yaitu surat Ali Imran. Di dalam surat ini dijelaskan bagaimana Luqman mengajarkan ketaudan dan keesaan kepada Allah. Apa saja yang di ajarkan Luqman kepada anaknya? Yaitu tentang bersyukur terhadap nikmat Allah SWT, tentang menyembah Allah dan menghindari syirik, dan mengajarkan agar kita tidak boleh sombong dalam menjalani kehidupan ini.

            Lalu tipe keluarga siapa lagi yang dirindukan oleh surga? Yaitu keluarga nabi Ibrahim. Keluarga Ibrahim adalah kelurag yang sangat sabar dalam menjalani ujian kehidupan dari Allah swt. Dia adalah keluarga yang mengutamakan musayawarah dalam mengambil keputusan. Sama-sama kita tahu bagaimana Ibrahim meminta pendapat Ismail ketika Allah menyuruh menyembelih Islamil putra kesayangannya. Di sana terjadi musaywarah untuk mufakat. Mengajarkan kepada kita bagaimana seharusnya di dalam keluarga. Jangan hanya ingin memnang sendiri dan mementingakn diri sendiri. Sepahit apaun keputusan yang akan di ambil, harusdibicarakan dengan kelauaraga.

            Lalu kenapa kelauraga Imran dan Ibrahim ini yang dirindukan oleh surga? Karena keluarga ini mempunyai visi yang jelas. yaitu mencari kebahagiaan akhirat. Rabbi syrahli minasshalihin. Nabi Ibrahim diuji selama 65 tahun untuk meminta anak. Visi keluarga Ibrahim terdapat dalam surah Al Baqarah ayat 132. Visi keluarga Imran dalam QS Ali Imran ayat 35. Jika ibu soleh, maka anakpun akan sholeh. Jika ayah soleh, ibu durhaka, maka anakpun akan durhaka. Untuk mejadi keluarga yangdirindukan maka samakan visi anatar ayah dan ibu. Visi pasangan hidup. Yang harusnya memiliki visi adalah ayah sebagai kepala keluarga. Target untuk anak adalah akhirat. Kalau hanya target duniaa, hewanpun bisa hidup.

 

Ada beberapa tipe keluarga di dalam Al-Qurannul Kariim. Yaitu, keluarga nabi Nuh, siapa yang durhakan? Ya, anaknya. Lalu kelurga nabi Luth, siapa yang durhaka pada nabi Luth? Istrinya. Keluarga kedua adalah keluarganya Firaun, suaminya yang durhaka, ketiga keluarga Abu Lahab: suami dan istri yang durhaka. Yang keempat, adalah keluraga nabi Ibrahim dan keluarga Imran. Dari keempat keluarga di atas, keluarga siapakah yang patut kita jadikan teladan? Yah. Keluarga nabi Ibrahim dan keluarga Imran.

            Satu-satunya tokoh islam yang disebutkan namanya dalam Al Quran adalah Imran. Bahkan namanya diabadikan dalam Al-Quran surat Ali Imran ayat 33 yang berbunyi, Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, nuh, keluarga ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat (di mana mereka masing-masing)

            Rahasia sukses keluarga Ibrahim dan Imran adalah, memiliki visi yang jelas           Visi keluarga mulia adalah masuk keluarga sekeluarga, jika tidak dididik sebagaimana \mestinyaa ana\k akan berubah menjadi musuh. Maka jangan biarkan musuh kita lahir dalam rahim kita sendiri. Sekarang banyak yang mendidik anak adalah dengan vasilitas yang kita berikan kepada anak. Jadi para ibu, dan ayah, para orangtua, jangan ciptakan jahanam di rumah sendiri. Apa rahasia kesuksesan nabi Ibrahim dan imran dalam mendidik keluarganya? yaitu adanya keteladanan. Karena kesholehan itu ditularkan, bukan diajarkan.

            Yang kedua adalah tutur kata  dan komunikasi dalam pengasuhan. Seperti dialog antara Ya’Qub dan Ysusf. Harus ada dialog yang penuh dengan kasih sayang dalam keluarga. Ketiga adalah kesabaran, kesolehan orangtua membawa kebaikan bagi anak. Keempat, adalah kekuatan doa, maskimalkan doa pada Allah sampai ajal berpisah dari jasad. Maksimalkan usaha denga penyerahan total kepada Allah. Selalu minta solusi pada Allah, minta tolong dalam mengasuh anak, yakin doa bjsa mengubah takdir,

            Bagaimana menjadi keluarga yang dirindukan surga: hiasi rumah dengan shalat dan perbanyak berinteraksi dengan Al Quran, perbaiki kualitas diri sebagai orang tua baik kelimuan dan kesholehan. Buat aturan dalam keluarga dan tanamkan rasa takut berbuat dosa kepada Allah. Insyaallah keluarga kita akan menjadi keluarga yang dirindukan oleh setiap anggota keluarganya.

Peranan  Orang Tua dalam Mempersiapak Generasi Emas

 Oleh, Dilla, S.Pd.

Pemerhati Pendidikan dan Anak

 

Jangan paksakan anakmu menjadi sepertimu, karena dia diciptakan bukan untuk zamanmu~ [Ali bin Abi Thalib]

Menjadi orang tua adalah suatu anugerah luar biasa yang Allah berikan, karena tidak semua orang bisa merasakan dan menikmati peran tersebut. Dan orang tua adalah sebagai fasilitator bagi anak-anaknya agar mereka tumbuh menjadi insan yang mampu menyelesaikan persoalan hidup dengan iman dan ilmu. Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Mendidik anak pertama kali ditanamkan bukan ketika mereka masuk dalam pendidikan formal, melainkan pendidikan anak yang pertama ada pada keluarga. Keluarga adalah lembaga pendidikan pertama yang di terima oleh anak dengan pola asuh yang diberikan orang tua yang akan melahirkan generasi harapan bangsa. Maka dari itu pendidikan keluarga memiliki peran penting dalam mempersiapkan generasi emas. Berbicara tentang generasi emas. Pada tahun 2045 Indonesia mencanangkan diri sebagai negara yang berada pada generasi Emas.

Yakni sebuah generasi dalam suatu keadaan yang mana tunas-tunas harapan bangsa memiliki karakter baik, kuat, produktif, cerdas, dan solutif, yaitu generasi yang mampu menemukan solusi dalam penyelesaian dari setiap masalah yang dihadapi. Generasi emas merupakan anak didik yang diharapkan bakal menjadi penerus kemajuan bangsa ini. Mereka kini masih berusia anak PAUD dan remaja, yang suatu saat nanti 20 sampai 25 tahun lagi mereka akan berperan membawa Indonesia ini menuju pada masa kegemilangan atau malah kemunduran. Itu semua ditentukan bagaimana kualitas pola asuh pendidikan dalam keluarga.

Syariat Islam mengajarkan, mendidik dan membimbing anak merupakan amanat yang harus dipertanggungjawabkan oleh orang tua.

Hadits Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam, artinya:

 “Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” [HR: Bukhari]

Hadits tersebut mengandung penjelasan bahwa sesungguhnya kesuksesan atau masa depan anak adalah tergantung bagaimana orang tua mendidik dan membimbingnya. Juga mengandung arti bahwa setiap anak juga yang telah lahir sesungguhnya sudah memiliki potensi, namun potensi itulah yang kemudian bisa menghasilkan sesuatu yang maksimal, jika di asah oleh lingkungan (keluarga dan sekitar) dengan baik.

Konsep pendidikan dalam Islam ini mengajarkan pola asuh yang dilakukan oleh orang tua juga termasuk mencakup bagaimana orang tua mampu membentuk akhlaqul karimah terhadap anak-anaknya. Pengaruh orang tua bisa mencakup lima dimensi anak, yaitu fisik, emosi, kognitif, sosial, dan spiritual. Banyak model pola asuh yang dapat dipilih yang bisa disesuaikan dengankaraker anak. Konsep pola asuh dalam Islam lebih berorientasi pada praktik pengasuhan.

Adapun metode-metodenya adalah sebagai berikut:

Pertama, pola asuh yang bersifat keteladanan. Kedua, pola asuh yang bersifat nasihat. Di dalamnya mengandung beberapa hal. Pertama, seruan atau ajakan yang menyenangkan disertai dengan penolakan yang lemah lembut jika memang ada perilaku anak  yang diangggap tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Kedua, metode cerita yang disertai perumpamaan yang mengandung pelajaran dan nasihat. Ketiga, gabungan antara metode wasiat dan nasihat. Ketiga, pola asuh dengan perhatian atau pengawasan yang meliputi perhatian dalam pendidikan sosialnya, terutama praktik dalam pembelajaran, pendidikan spiritual, moral, dan konsep pendidikan yang berdasarkan pada nilai imbalan (reward) dan hukuman (punishment) terhadap anak.

Secara umum, pola asuh dalam Islam adalah mempersiapkan generasi muda yang memiliki moral yang mengacu dalam norma-norma Islam dan membentuk generasi yang beradab dan berilmu. Dalam menghadapi generasi emas bangsa Indonesia membutuhkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang memiliki kualitas baik. Kini kita semua harus sadar bahwa aset terbesar Indonesia bukan hanya sekadar tambang, gas, minyak, hutan, ataupun segala macam hasil bumi, akan tetapi asset terbesar bangsa ini adalah manusia Indonesia sendiri. Tanggung jawab kita sekarang adalah mengembangkan kualitas manusia Indonesia. Karena manusia yang terdidik dan tercerahkan adalah kunci kemajuan bangsa.


 

 



Oleh Dilla, S.Pd.
Pemerhati Pendidikan dan Anak

 

Pembelajaran saat ini adalah tantangan yang sangat luar  biasa bagi guru dan anak didiknya. Karena harus melaksankan pembelajaran jarak jauh di masa pandemi covid-19 ini. Pembelajaran saat ini membawa dampak positif dan negatif bagi para pelaku pendidikan. Dampak negatifnya sudah sering kita dengar keluhan dari rang tua, siswa dan guru sendiri. Sejak anak-anak harus belajar dari rumah, orang tua lah yang sibuk dan stres, harus menyediakan kuota internet yang tidak sedikit, harus mempunyai gawai atau laptop untuk media pembelajaran, anak yang susah diatur, tidak mau mengerjakan tugasnya dan berbagai kendala lainnya. Belum lagi keluhan para siswa, yang mengatakan kalau tugas banyak sekali, bagus sekolah lagi, bosan di rumah saja, tidak bisa kemana-mana, dan lain-lain. Dari guru sendiri, harus belajar lagi bagaimana cara menggunakan media dengan aplikasi dan teknologi yang baru. Menyiapkan materi secara daring tidak seribet dan tidak semudah menyiapkan pembelajaran seperti tatap muka.

Namun demikian kenyataan ini harus kita lakukan saat ini, karena ini adalah masalah semua orang, jadi hanya di tuntut kebiasaan saja untuk melakukan hal yang baru ini, atau disebut juga dengan new normal. Kita harus sadari bahwa Allah tidak akan datangkan suatu masalah tanpa ada hikmah dibalik semuanya. Di masa pandemi ini, dipastikan hampir semua keluarga berkumpul bersama, karena orang tua harus bekerja dari rumah atau WFH (work from home) . jika di hari biasa sebelum pamdemi ini, anank-anak dan orang tua hanya bertemu saat malam hari saja, sekarng harus dan dipaksa untuk bertenu dan berinteraksi setiap hari. Kalau dulu orang tua yang sering komplen jika anaknya bermasalah di sekolah, dan cenderung menyalahkan guru, sekarang bisa merasakan bagaimana susahnya menjadi guru, walaupun guru untuk anak kandung sendiri. Nah, bagi guru pun juga demikian, sebelum pandemi ini, guru hanya mengajar dengan cara konvensional, sekarang harus mengajar dengan cara yang profesional. Kalau dulu tidak bisa menggunakan teknologi, sekarang mau tidak mau harus belajar dan menggunakan  teknologi dan aplikasi penunjang pembelajaran. 

Pembelajaran di masa pandemi ini, mengharuskan guru untuk terus mengajar secara aktif dan kreatif. Dengan berinovasi dan menemukan cara mengajar yang menarik dan tidak membuat siswa bosan. Banyak aplikasi yang bisa digunakan untuk menunjang pembelajaran jarak jauh ini. Diantaranya Classroom, weebex, office 365, Camtasia, Kind Master, zoom, whatsup, Instagram, facebook  dan banyak aplikasi di gawai dan laptop yang bisa menunjang pelaksaan pembelajaran daring ini.  Hamper semua siswa SD, SMP, dan SMA mempunyai media social. Sebagai guru kreatif kita bisa menggunakan juga media social mereka untuk sumber pembelajaran, seperti faceebook live, Ig Live dan juga youtube. Di Indonesia siswa SMP dan SMA adalah pengguna terbanyak untuk media social Instagram, faceebook dan tweeter.

Saat ini bagaimanapun keadaanya, kita harus mengikuti zaman. Guru pun harus kreatif dan terbuka dengan berbagai perubahan  dan bisa melebur dengan kemajuan zaman. Dalam PJJ ini yang harus disediakan adalah kuota internet dan jaringan yang lancar. Selain media nya yang harus ada, minimal gawai satu per kepala keluarga. Ada beberapa prinsip belajar daring yang harus disediakan oleh orang tua dan guru dalam PJJ ini. Di antaranya adalah; lakukan daring dengan SOP (Standart Operasional Prosedur) yang baik dan benar. Gunakan media termudah yang bisa digunakan oleh guru dan anak. Walaupun semua anak bisa memegang dan menggunakan gawai, namun tidak semua mereka yang bisa menggunakan zoom meeting, google classroom dan aplikasi yang susah mereka gunakan. Pembelajaran daring bisa digunakan jika akses internet lancar, guru dan murid memiliki media yang memadai. Belajar harus dilakukan secara efektif efisien kaena mempertimbangkan banyak hal, jangan memaksanakan yang tidak seharusnya dipaksakan.

Daring membutuhkan kesungguhan guru dan siswa dalam melaksanakannya, biarlah sedikit tapi bermakna, karena pemerintah pun sudah mengeluarkan kurikulum covid  yang sudah disederhanakan dari kurikulum 2013 revisi yangsedang berjalan. Jadi dalam pembelajaran daring ini tidak harus mencapai ketuntasan kurikulum. Bagaimana SOP dalam pembelajaran daring yang harus dilakukan? Sudah pasti guru dan siswa dalam pembelajaran daring ini harus berpakaian rapi dan tidak asal-asalan. Kita tetap bekerja dan berkegiatan seperti biasa namun hanya berpidah tempat saja. Biasanya di runagn bersama sekarang harus di ruangan masing-masing dan tentu sesuai dengan kerapian dan tampilan biasa kita bertatap muka.

Guru dan siswa memilih tempat terbaik, jangan di tempat keramain dan menganggu, jangan pula di tempat lalu lalang orang yang membuat focus peserta lain jadi terganggu karena melihat latar belakang tempat kita berada. Dalam PJJ secara virtual, guru dan siswa menjaga adab dalam berbicara. Jangan asal-asalan, dan tidak menjaga kesopanan. Sebelum melakukan pertemuan melalui virtual, satu hari sebelumnya harus melakukan meeting, harus menyampaikan informasi kepada siswa tentang media yang akan digunakan dalam pembelajaran, bisa melalui Whatsup grup. Dan pastikan jaringan tersedia dengan lancar dan tidak terputus-putus. Dalam belajar daring kita juga harus memulai dengan membaca doa, belajar dengan penuh semangat dan tetap memotivasi peserta didik dalam belajar.

Lalu bagaimana cara mengelola kelas yang baik dalam belajar daring ini? Tetap harus tampil dengan bersih dan wangi, mulailah dengan kelas yang menyenagkan, sediakan tempat yang nyaman, belajar secara sistematis dan gunakan gestur tubuh yang baik. Belajarlah dengan interaksi yang dinamis. Jangan lupa setiap 20 menit sekali lakukan game dan kuis. Putarkan video yang menarik apalagi untuk anak TK dan SD. Lakukanlah improvisasi dengan anak. Lalu tutup pelajaran dengan kalimat-kalimat yang penuh hikmah  dan semangat yang memotivasi.

Itulah beberapa cara agar bisa mengajar dengan aktif dan kreatif di masa PJJ ini. Melalui pembelajaran virtual ini, tentu diharapkan tidak akan mengurangi pentingnya sebuah pembelajaran. Ketika kita sudah bisa melaksanakan SOP yangseharusnya, mudah-mudahan pembelajaran kita akan tetap berjalan lancar dan tentu saja kita sebagai guru tetap akan ditunggu oleh peserta didik kita. Hanya butuh pembiasaan saja untuk mendapatkan hasil yang maksimal.


Hari ini sudah hampir delapan  bulan kita melakukan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh). Banyak hambatan dan kendala yang dihadapi oleh siswa dan juga guru dalam pebelajaran daring ini. Namun Sebagai guru, dalam menyajikan materi pembelajaran haruslah menarik dan sekreatif  mungkin. Di zaman teknologi canggih ini, jarak bukan lagi halangan untuk kita berinteraksi dengan siapapun, termasuk proses belajar mengajar dengan siswa. Banyak aplikasi di media sosial yang dapat digunakan untuk interaksi pembelajaran jarak jauh ini. Hikmah adanya covid-19 ini, bagi guru yang dulunya gaptek dan jarang menggunakan teknologi, sekarang harus dituntut untuk bisa menggunakannya, agar bisa tercipta pembelajaran yang aktif dan  kreatif.
Jika dibandingkan cara belajar kita dahulu dengan cara belajar anak-anak zaman sekarang, maka akan sangat ketinggalan lah metode pembelajaran kita dahulu. Sekarang ini anak-anak sudah belajar dengan berbagia media dan teknologi yang maju dan canggih. Baik itu komputer, laptop, ipad/tablet, gawai dan berbagai aplikasi pintar yang mendampingi proses pembelajaran mereka. Sementara kita dahulu hanya belajar di kelas dan guru menulis di papan tulis dengam kapur saja. 
Namun jangan ragu, pada umumnya guru sekarang ini adalah kaum milenial. Siapa itu kaum milenial,  yaitu mereka yang lahir antara tahun (1981-1997). Mereka yang siap dan cepat beradaptasi terhadap perkembangan teknologi. Terbuka menerima perubahan dan cenderung mudah terdistraksi. Sementara anak-anak SMP dan SMA sekarang ini disebut generasi Z  mereka yang lahir antara (1998-2010). Inilah siswa yang kita hadapi sekarang ini, mereka yang banyak berkomunikasi dan aktif menggunakan media sosial. Mereka yang mudah dan sangat cepat beradaptasi dengan teknologi tercanggih saat ini. Generasi inilah yang paling banyak menggunakan media sosial, seperti  Instagram, dan facebook. Jadi sekali kali guru bisa live langsung dari instagram kepada anak didiknya. 
Berbeda lagi dengan siswa SD dan TK, mereka ini disebut dengan generasi Alpha, yaitu kelahiran antara (2010_2020). Generasi yang sangat dekat dengan dunia gawai. Mereka yang dari kecil sudah akrab dengan dunia game dan YouTube. Mereka yang dari kecil sudah disuguhkan dengan konten konten yang menarik. Dengan Vidio dan gestur tubuh yang menarik dan menggugah rasa, karena mereka setiap hari sudah dipertontonkan dengan Vidio yang menarik, dan beragam. Jadi sebagai guru kita harus bisa memberikan materi yang menarik juga. Jangan sampai pembelajaran dari gurunya menjadi tidak menarik bagi mereka. 
Pembelajaran di era 4.0 ini tantangannya sangat luar biasa, ditambah lagi dengan masa pandemi ini, jadi lebih luar biasa lagi. Jadi sebagai guru kita harus lebih dari seorang youtuber, namun jangan takut, seorang guru tidak akan terganti dengan apapun kecanggihan teknologi. Kita sebagai guru mampu menghapus duka dan nestapa murid kita, bisa memeluk dan mengubah karakter. Sehebat apapun google tidak akan bisa menyentuh hati mereka murid murid kita. Saat ini, survei pun membuktikan bahwa anak-anak sudah jenuh untuk belajar daring saat ini. Demikian juga dengan para guru yang sudah mulai bosan dan leah dengan pembelajaran daring ini. 
Tantangan terbesar belajar daring saat ini adalah 1. Jaringan internet 2. Anak-anak yang tidak memiliki gawai dan teknologi yang sangat diperlukan sekarang. Ada keluarga yang memiliki anak 4 namun hanya ada 1 gawai di rumah, padahal anak anak serentak belajar daring saat ini. 3. Guru tidak bisa berbicara di depan vidio, grogi dan malu, karena belum terbiasa. Inilah beberpa hambatan dalam pembelajaran daring ini. Karena kendala seperti ini kadang guru hanya memberi latihan-latihan yang ada di dalam buku pegangan saja, tanpa memberi penjelasan melalui media yang seharusnya dimiliki oleh semua siswanya.