Penanaman Nilai Karakter pada Anak saat Belajar dari Rumah

Pandemi covid-19 masih betah dan bertahan di muka bumi ini. Hampir delapan bulan para siswa harus belajar dari rumah (BDR).  Banyak permasalahan yang harus dihadapi oleh guru dan orang tua dalam mendampingi anak-anak belajar di rumah ini. Permasalahan utama yang menjadi kendala dalam BDR ini adalah ketidaksiapan orang tua menerima perubahan (orang tua menjadi guru). Biasanya orang tua hanya mempersiapkan perlengakapan anak untuk pergi ke sekolah, namun sekarang harus berganti peran menjadi seorang guru  dan membimbing anak-anak dalam belajar di rumah. Selain ketidaksiapan orang tua ditambah lagi dengan keadaan  anak yang berneda dalam setiap akan belajar. Anak-anak cenderung bersifat moody. Kadangkala mereka sangat bersemangat dan lebih sering mereka tidak mood dalam mengerjakan tugas sekolahnya, karena berbagai faktor yang bisa mengubah fokus mereka dalam belajar diantaranya adalah televisi, teman yang mengajak bermain, game dan lain sebagainya. 

Selain faktor tersebut, permasalahan komunikasi dengan guru (terkait dengan tugas dan arahan belajar), juga akan menjadi hambatan dalam belajar dari rumah. Orang tua yang biasanya sibuk dengan pekerjaan rumah atau pekerjaan lain harus belajar lagi untuk mendampingi anak belajar apalagi menghadapi pelajaran  yang kurang mereka pahami. Belum lagi ketersediaan teknologi informasi dan cara penggunaannya yang kadang kurang dimengerti oleh orang tua ditambah dengan kuaota internet yang harus diisi penuh dan kadang  sinyal yang kurang bersahabat. 

Banyaknya masalah yang dihadapi dalam proses BDR ini, menyebabkan banyak orang tua yang stress dan memarahi anak -anak mereka dalam belajar. Bukannya mendampingi anak belajar agar lebih nyaman, malahan semakin membuat anak stres dan malas mengerjakan tugasnya, karena harus menerima bentakan dari orang tua yang cenderung tidak sabar karena menghadapi berbagai ulah dan tingkah polah anak-anak mereka dalam belajar. Di masa pandemi ini, waktu berkumpul anak dan orang tua menjadi lebih banyak, boleh dikatakan 90 persen selalu bersama. Nah, bagaimanakah perkembangan karakter anak-anak ketika berada dekat dengan orang tuanya? Sudah seharusnya penanaman nilai karakter pada anak bisa lebih ditingkatkan.

Kalau kita bisa menyikapi dengan bijak berbagai permasalahan ini,seharusnya di masa ini lah waktu yang tepat membangun bonding yang kuat antara anak dan orang tua. Karena walau bagaimanapun membangun karakter anak merupakan salah satu tanggung jawab penting yang harus di emban oleh orang tua. Apa lagi di masa pandemi ini, kadang nilai-nilai karakter sudah mulai terabaikan dengan suka-sukanya anak-anak dalam berperilaku. Baik tanggung jawab mengerjakan tugas, disiplin dalam belajar dan beribadah dan berbagai karakter positif lainnya yang mulai terabaikan.  Apa yang harus dilakukan oleh orang tua untuk bisa membangun karakter anak yang baik? Karakter anak dapat berkembang melalui interaksi dengan keluarga, teman ataupun masyarakat. Jika interaksi antara mereka bisa berjalan baik dan harmonis, maka otomatis karakter anak akan terbentuk dengan baik juga. Hal lain yang memengaruhi karakter anak adalah temperamen, pengalaman, dan pilihan yang dimiliki anak. Di masa BDR ini, anak akan cenderung manja dan malas dalam belajar, karena tidak ada lagi paksaan harus datang tepat waktu, mandi dan sarapan sesegera mungkin agar tidak terlambat sampai di sekolah.  Orang tualah di sini yang memegang peranan penting, melatih pengalaman dan temperamen anak agar tetap memiliki karakter positif.

Orang tua dapat menunjukan kualitas karakter yang baik dengan penanaman nilai-nilai yang baik yang pasti akan ditiru oleh anak. ketika kita sebagai orang tua bersikap dan berperilaku jujur, dapat dipercaya, adil dan penuh kasih sayang, dapat menghormati peduli pada sesama dan sebagainya. Anak-anak akan melihat dan memeperhatikan serta akan menirunya. ketika anak melihat dan mengamati hal-hal baik tersebut, maka kehidupan bisa berjalan dengan nyaman dan indah, anak akan menanamkan nilai-nilai itu kedalam diri mereka sendiri. Penanaman nilai lainnya adalah menunjukkan rasa empati pada anak. Menunjukan rasa empati pada anak dapat memungkinkan oran tua untuk mengajarkan semua nilai karakter yang dimiliki pada anak. ketika anak merasa bahwa orang tua memahami dan sangat memerhatikannya, maka mereka akan memiliki motivasi untuk mempelajari nilai dan karakter yang Anda ajarkan. selain itu bantu pula anak untuk mengembangkan rasa empati dalam dirinya sehingga anak dapat belajar memahami kondisi orang lain, dan berbagi pada sesama. hal ini tentu akan sangat mulia untuk dilakukan. 

Di masa pandemi ini, seharusnya Orang tua bisa menggunakan momen yang baik untuk membangun karakter anak. Ketika anak melanggar aturan dalam mengerjakan tugasnya, maka orang tua dapat memberikan sanksi dan konsekuensi yang adil. Sehingga anak pun akan belajar bertanggung jawab dan disiplin, sehingga momen ini dapat menjadi cara untuk membuat karakter baiknya terbentuk. Selain itu pastikan Anda memberi tahu anak tentang kesalahannya dan apa yang harus dilakukan untuk memperbaikinya. Pikirkan pula nilai-nilai apa yang ingin Anda terapkan, dan jangan sampai memberi konsekuensi yang terlalu berat kepada anak. 

Di masa BDR ini, juga bisa menciptakan kesempatan untuk menangun karakter anak dengan cara bercerita kisah dan kehidupan masa lalu yang bisa membangun bonding anak dan orang tua. Orang tua dapat bercerita untuk mengajarkan pelajaran moral kepada putra-putrinya. Selain menceritakan kisah - kisah kehidupan orang tua sendiri juga bisa memberi pelajaran mengenai nilai-nilai dan etika pada anak. Mengajak anak berdiskusi mengenai cerita yang memiliki pesan moral juga dapat memperkuat nilai yang kita ajarkan. Kegiatan ini pun harus bisa berlaku sebaliknya, kita sebagai orang tua juga harus siap jika anak mau bercerita tentang masalah dan kegiatannya kepada kita. Kadang kita orang tua sering merasa ingin di dengar saja tanpa mau mendengar. Kita harus menghargai dan siap mendengarkan keluhan anak agar mereka merasa dihargai dan dianggap penting dengan cerita yang diungkapkannya kita dengar. 

Hal berikutnya yang sering dilupakan orang tua adalah memuji atau merasa bangga dengan anak. Menunjukkan rasa bangga pada anak dapat mebantu mengebangkan harga diri anak agar menjadi anak yang tidak gugup dan tidak menjadi anak yang penakut. Ungkapkan rasa bangga dan pujian Anda ketika melihat anak menerapkan perilaku yang positif. kita saja sebagai orang yang dewasa senang dipuji apalagi anak-anak. Jadi jangan pelit dalam memuji dan menghargai sekecil apapun prestasi atau pekerjaan positif yang dilakukan anak.

Selain itu, juga ajari anak untuk mengendalikan diri. mengajari anak untuk bisa mengendalikan diri adalah bagian penting dalam pembentukan karakter anak. Kemampuan anak dalam mengendalikan diri akan memengaruhi pilihan dan pemikirannya hingga dewasa kelak. Dalam membantu anak mengendalikan diri, kita dapat mengajarkan melakukan self talk. ketika melakukan self talk, anak harus mengingatkan dirinya sendiri untuk bereaksi secara berlebihan terhadap suatu hal, tidak menyalahkan orang lain atas kesalahannya, dan selalu berpikir  sebelum bertindak sehingga mereka dapat mengendalikan tindakannya. 

Jadi apapun dan bagaimanapun kondisi anak dalam belajar, sejatinya kitalah orang tuanya yang menjadi ujung tombak keberhasilan mereka kelak. Kitalah yang harus menanamkan karakter positif pada diri mereka. Karena anak cenderung meniru apa yang dilakukan oleh orang terdekatnya. Anak ibaratkan kertas putih bersih, kitalah orang tuanya yang menjadikan mereka menjadi warna seperti apa. Pandemi Covid-19 ini sudah seharusnya bisa membuat kedekatan anak dan orang tua menjadi lebih intens lagi, dan bisa membentuk pribadi-pribadi tangguh di masa depan. Karena generasi sekarang adalah manusia pilihan yang harus menghadapi hal di luar keadaan yang biasanya. Semoga generasi milenial kita saat ini bisa menjadi generasi kuat dan tangguh di masa depan, dan bisa menjadi investasi akhirat bagi kita orang tuanya. 

1 comment: