Rumah Kelahiran Buya Hamka



Sungai Batang, Maninjau Kamis 5 Mei 2022. Bertepatan dengan lebaran ke-4 kami melangkah dari rumah untuk menikmati suasana lebaran. Bukan ingin bersaing dengan orang rantau yang mau menikmati indahnya kampung. Safar ini kami lakukan untuk mengajak di sulung yang sebentar lagi akan kembali ke pondok.  Maka jatuhlah pilihan ke museum kelahiran Buya Hamka. Salah satunya untuk menghindari macet jika harus jalan biasa menuju kota Padang. 




Kami berangkat dari rumah pada pukul 13.00 wib, dan sampai di simpang ateh Ngarai pada pukul 15.00wib. Suatu perjuangan yang luar biasa. Perjalanan kami lanjutkan dan bisa shalat Ashar di Matur.  Kami lanjutkan perjalanan menuruni kelok 44. Setelah di akhir kelok 1 kami belok kiri menuju museum kelahiran Buya Hamka yang terletak di daerah Sungai Batang. Kami sampai di sana pada pukul 17.35 wib, seharusnya sudah tutup,  namun karena hari raya mungkin, jadi masih banyak pengunjung yang berdatangan dan rumah kelahiran ulama besar ini masih dibuka.  


Di kediaman buya Hamka, kami disambut oleh tukang parkir yang mengatur letaknya mobil dengan teratur,  lalu di gerbang menuju jenjang naik ke rumah, ada dua lapak penjual buku tentang buya Hamka. Berbagai jenis buku tulisan Hamka dijual di sini. Menaiki tangga menuju rumah, terdapat plang besar yang berisi Kata-kata Bijak Buya Hamka.  Di sama tertulis quot dan kalimat yang memotivasi dari Ulama hebat ini. Menaiki tangga berikutnya ada tanggapan para tokoh tentang Buya Hamka. Di sana ada tanggapan dari Tun Abdul Razak mantan perdana menteri Malysia, ada tanggapan dari Din Syamsuddin, sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia,  dan Rusjdi Hamka seorang putra dari Buya Hamka. Mereka menyampaikan pandangan tentang Ulama hebat ini yang sudah sangat berjasa dan menjadi panutan bukan bagi bangsa Indonesia saja, namun bagi orang di seluruh dunia. 

Menaiki rumah Buya Hamka kita disuguhi dengan tangga tinggi menuju ke atas rumah. Rumah asli beliau dahulu lebih tinggi dari sekarang kata guide yang menjelaskan tentang tokoh hebat ini. Ada tiga tangga untuk menaiki rumah, yaitu dibagian kiri, kanan dan tengah. namun sekarang setelah dipugar dan diperbaiki ditinggalkan menjadi satu saja di bagian tengah. Rumah Beliaupun yang aslinya cukup luas, namun sekarang dibagi menjadi tiga bagian, rumah utama dijadikan musium yang berisi peninggalan Beliau, di bagian samping ada bangunan untuk rumah baca, dan di sebelahnya lagi bangunan untuk musala. 

Di dalam rumah Hamka, kita disuguhi oleh barang-barang peninggalan Beliau ketika masih hidup.  Ada jubah yang sering dipakai dalam kegiatan berdakwah dan bertugas. Buku koleksi tulisan Buya dan juga mesin tik tua yang menemani Beliau menulis kala itu. Tempat tidur, lemari dan juga lampu hias, itu adalah peninggalan Buya yang masih terawat dengan baik. 

Memasuki rumah Buya Hamka membuat memori kita bisa berselancar di masa dahulu. Ketika beliau masih aktif dalam pergerakan dan menulis.  Di dinding rumah, terpasang poto - poto Beliai dengan para sahabatnya. Ada poto Buya dengan Bung Karno, Bung Hatta, dan juga Bapak Suharto. Dengan mengikuti dan membaca keterangan di tiap poto, kita bisa mengetahui bahwa Buya Hamka memang sosok hebat, dan patut diteladani. Selayaknya kita bangga mempunyai putra bangsa yang luar biasa. 

0 komentar:

Posting Komentar