Breaking News

Keteladanan Cut Nyak Dien bagi Generasi Milenial


“Kewajiban berusaha adalah milik kita, hasil adalah milik Allah”- Cut Nyak Dien 
Cut Nyak Dien adalah salah seorang pahlawan nasional Indonesai yang sangat berjasa dalam merebut kemerdekaan Indonesia. Perempuan hebat dengan semangat pantang meyerah dalam memimpin pasukan membuatnya menjadi sosok yang disegani oleh kawan maupun lawan. Beliau adalah perempaun pertama yang berani mengangkat senjata dalam melawan pasukan Belanda. Sosok wanita sholehah yang direstui oleh ayah dan suaminya untuk ikut berjuang dalam membebaskan tanah air tecinta dari tangan penjajah. Walaupun terlahir dari keluarga bangsawan, tidak membuatnya manja dan tak mampu berbuat apa-apa. Justru dengan didikan kedua orang tuanya yang taat beragamalah menjadikan Beliau menjadi sosok yang patut diteladani dan dijadikan spirit bagi kita kaum milenial saat ini. 

Cut Nyak Dien lahir dari seorang ibu putri Uleebalang Lampagar dan ayah yang bernama Teuku Nanta Seutia, merupakan keturunan Datuk  Makhudum Sati, perantau dari Minangakabau. Kakaknya bernama Teuku Rayut, dia menikah dengan Teuku Ibrahim Lamnga dan memiliki anak laki-laki yang  bernama Cut Gambang. Cut Nyak Dien menikah di usia muda yaitu umur 12 tahun, saat Belanda menduduki tanah Aceh tepatnya di daerah Lamnga pada Desembar 1875. Suami dan ayahnya berjuang melawan Belanda saat itu  dan tewas dalam perjuangannya di Gle Tarum, Juni 1878. Setelah itu Cut Nyak Dien menikah dengan Teuku Umar saudara ayahnya, ketika itu dia tidak mau, karena akan meneruskan perjuangan suaminya namun Tengku Umar mengizinkan Cut Nyak Dien untuk terus  berjuang melawan Belanda, karena itulah mereka akhirnya menikah dan meneruskan perjuangan melawan Belanda. Tiga tahun kemudian Tengku Umar gugur dalam pertempuran melawan Belanda di Meulaboh pada 11 Februari 1899. Cut Nyak Dien melanjutkan perjuangan di daerah pedalaman Meulaboh dan tidak mau berdamai dengan Belanda. 

Berbagai cara dilakukan oleh Belada untuk menangkap Cut Nyak Dien, namun tidak berhasil, lama kelamaan jumlah pasukannya b\erkurang, penglihatannya pun mulia rabun dan penyakit encok mulai pula menyerang. Anak buahnya yang merasa kasihan  melihat keadaan Cut Nyak Dien, akhirnya menghubungi pihak Belanda, lalu Beliau ditangkap dan Belanda mengobati sakit yang dideritanya. Lalu Cut Nyak Dien dibawa ke Sumedang Jawa Barat, di sana pun dalam kondisi mata yang sudah rabun dia masih mendidik anak-anak belajar mengaji. Semangat dan ruh perjuangan  inilah yang harus dijadikan spirit bagi generasi milenial saat ini. Tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu, selayaknya pejuang wanita yang meninggal pada 6 November 1908 ini, patut dijadikan cermin dalam perjuangan generasi milenial saat ini.  
Kegigihan dan semangat juang yang dimiliki oleh Cut Nyak Dien membuatnya digelari dengan Singa Betina dari Rencong Aceh. Tanpa kenal takut Beliau terjun langsung ke medan perang, pahlawan sejati tidak akan menerima jika tanah kelahirannya dijadikan wilayah jajahan asing. “Lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup jadi tawanan Belanda,” itulah kalimat yang selalu diucapkan kepada para pengikutnya yang
 menawarkan agar menyerah kepada Belanda daripada jadi buruan di hutan. Dari sini nampaklah jelas sikap teguh pendirian seorang pemimpin yang membuat para pengikutnya takjub dan hormat kepadanya, kendati dia seorang perempuan. 
Masa kecil Cut Nyak Dien banyak dihabiskan untuk belajar seluk beluk agama.  Di samping mempelajari budaya dan tradisi, Beliau juga belajar membaca dan menulis huruf arab serta mendalami ilmu agama di masjid. Dia adalah sosok yang memiliki wawasan dan pengetahuan yang baik. Dikenal dengan pribadinya yang lembut, tegas dan berbudi luhur. Sebagai generasi langgas, sudah sepantasnya kita bisa meneladani spirit dari sosok The Queen of Aceh Battle ini. Karakter positif dan semangat juang yang dimiliki oleh Cut Nyak Dien harus bisa ditularkan dan dijadikan ‘cermin’ dalam berbuat bagi generasi masa kini yang sudah terbiasa dilayani dan serba instan.  Apa saja hal yang bisa dijadikan panutan dan spirit perjuangan Beliau? Mari kita bahas!
Cut Nyak Dien adalah seorang perempuan cerdas dalam menggunakan strategi perang, memiliki keberanian dan ketegasan dalam melawan penjajah Belanda. Beliau juga cinta dan setia pada tanah air, cerdas dalam bidang ekonomi, politik dan kepemimpinan. Sudah selayaknyalah sebagai generasi di era milenial ini, kita mampu meneladani sosok Cut Nyak Dien. Saat ini, bagi kaum perempuan Indonesia, ruang untuk bisa berkreasi dan berinovasi terbuka lebar, tinggal bagaimana bisa memanfaatkan dan mengisi kemerdekaan ini, dengan hal yang positif dan  bermanfaat. Idealise yang kokoh dan mantap bisa menjadikan negara ini kuat dan mampu bersaing dengan dunia luar, semangat pantang menyerah  akan mampu menjadikan bangsa ini menjadi ‘corong’ bagi dunia. 
Di era millenial ini kita tidak perlu lagi mengangakat senjata untuk melakukan perjuangan, cukup mengisi kemerdekaan dengan bekerja di bidang masing-masing dengan tujuan untuk memajukan bangsa. Spirit of Cut Nyak Dien harus menjadi landasan dalam berbuat, dalam

 keterbatasan pun Beliau mampu menjadi yang terdepan, tidak menyalahi kodratnya sebagai perempuan dengan terampil juga dalam mengurus rumah tangga, menguasai ilmu agama dan mampu menjadi ibu yang baik bagi anak dan istri yang sholehah bagi suaminya. Beliau  memiliki kepercayaan diri yang kuat dan tidak mudah berputus asa.  Cut Nyak Dien juga seorang yang pantang menyerah, berani mati, ikhlas berjuang demi kemerdekaan dalam menentang penjajahan.

Cut Nyak Dien adalah sosok patriot sejati yang lebih mementingkan bangsa dan negaranya dibandingkan kepetingan pribadi. Hal inilah yang jarang ditemukan pada sosok generasi saat ini. Sebagai perempuan milenial dan hidup di zaman serba modern, tidak peduli siapapun kita, siapapun dirimu, jika kau memiliki kemauan yang keras untuk melindungi sesuatu yang kau cintai, maka lakukan dan berjuanglah sampai sesuatu itu dapat kamu raih. Dengan spirit sosok pejuang perempuan dari Aceh ini, dapat diambil pelajaran bahwa nilai keberanian, semangat dan jiwa pantang menyerah serta teguh pada pendirian juga rela berkorban harus dimiliki oleh setiap perempuan Indonesia dalam mengisi kemerdekaan ini. 

Selayaknya kita sebagai anak bangsa mampu meneladani dan ikut serta dalam mengisi kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh para pahalawan kita terdahulu. Terkhusus kepada para perempuan Indonesia, tidak ada alasan untuk berleha-leha dan bermaja diri, dimana saat ini raung dan kesempatan sudah terbuka lebar untuk bisa berkrertivitas dan berinoivasi dalam segala hal. Kalau dulu Cut Nyak Dien berjuang mengangkat senjata, dibuang dan diasingkan  bersama para tentara dan pejuang kemerdekaan lainnya, saat ini waktunya kita generasi milenial Indonesia mengisi kemerdekaan dengan semangat dan idealisme yangs sama dengan Cut Nyak Dien. Tanpa mengenyampingkan juga peran utama kita sebgaia seorang ibu dan istri dalam keluarga.

Cut Nyak Dien sosok  pahlawan wanita yang berjuang tanpa banyak kata, dengan realita dan fakta dia mampu menjadi perempuan pertama yang mengangkat senjata. Menolak pinangan sang pujangga jika tak diizinkan untuk berjuang membela bangsa. Beliau telah mengajarkan kepada kita generasi masa kini apa itu hak wanita, kewajiban dan peran sesuangguhnya seorang wanita sejati patriot bangsa. Beliau sosok yang tidak sibuk menyuarakan golongan saja, namun ia berjuang dengan tindakan dan berani bertaruh nyawa meskipun ditinggakan oleh orang-orang yang dicinta.  Beliau sosok yang memiliki idealisme tinggi, sebagai teladan bagi  wanita zaman kini. Gerak perempuan tidak terbatas jadilah sosok yang cerdas, memiliki pendidikan tinggi untuk mendidik anak negeri dan mampu menjadi sosok teladan bagi bangsa dan negeri ini, tanpa menyalahi kodrat dari Ilahi. 

Tidak ada komentar