Touring, di Atas Aspal yang Sama
Touring sebagai Ruang Merawat Persaudaraan
Sabtu pagi, 4 Juli 2026, halaman Hoky Store di Jalan Soekarno Hatta, Kota Bukittinggi, mulai dipenuhi deretan sepeda motor. Jarum jam baru menunjukkan pukul 08.00 WIB ketika satu per satu peserta datang dengan senyum yang sama: penuh semangat. Tidak ada suasana resmi, tidak pula kesibukan yang menegangkan. Yang terdengar justru sapaan akrab, canda yang saling bersahutan, dan gelak tawa yang seolah menjadi pertanda bahwa hari itu akan dipenuhi cerita. Sebelum mesin dinyalakan, sebuah kalimat yang sudah menjadi kebiasaan kembali terdengar, "Yuk, foto dulu!" Seketika seluruh peserta berkumpul menghadap kamera, mengabadikan awal perjalanan yang kelak akan menjadi kenangan.
Touring yang dipimpin oleh Ibu Yetni bersama anggota Grup Malala ini diikuti hampir tiga puluh peserta dengan empat belas sepeda motor. Rute yang dipilih tidak melalui jalan provinsi yang padat oleh arus kendaraan saat musim liburan. Sebaliknya, rombongan memilih jalur pedalaman yang membelah perkampungan, persawahan, dan perbukitan menuju Kabupaten Lima Puluh Kota. Dari Bukittinggi perjalanan bergerak melewati Tanjung Alam, Simpang Bukik, Lasi, Canduang, Koto Tinggi Baso, Koto Gadang, Tanjung Barulak, Situjuah, hingga Taram. Setelah menikmati makan siang di kawasan wisata Kapalo Banda, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Kawasan Wisata Sarilamak (KWS), kemudian singgah menikmati segelas cendol di kawasan bypass Ngalau sebelum kembali ke Bukittinggi melalui Piladang.
Namun, perjalanan itu sesungguhnya bukan tentang sejauh mana roda berputar atau sebanyak apa tempat yang dikunjungi. Touring selalu memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain. Di atas aspal yang sama, puluhan orang berjalan menuju tujuan yang sama, saling menjaga jarak, saling menunggu, dan saling memastikan tidak ada seorang pun yang tertinggal di belakang. Kebersamaan semacam inilah yang perlahan membangun rasa persaudaraan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Rutinitas pekerjaan yang padat sering kali membuat seseorang terjebak dalam ruang yang sama setiap hari. Pekerjaan menumpuk, target harus diselesaikan, dan tanggung jawab seakan tidak pernah habis. Di tengah situasi seperti itu, touring menjadi salah satu cara sederhana untuk memberi jeda bagi tubuh dan pikiran. Bukan untuk melarikan diri dari pekerjaan, melainkan mengisi kembali energi yang perlahan terkuras oleh aktivitas sehari-hari. Setelah tertawa bersama, menikmati alam, dan berbincang tanpa sekat, seseorang biasanya kembali bekerja dengan semangat yang berbeda.
Yang menarik, perjalanan ini mempertemukan peserta dari berbagai usia dan latar belakang. Ada yang berasal dari generasi X, ada pula generasi milenial. Perbedaan usia justru menjadi warna tersendiri. Jika dahulu kamera hanya digunakan untuk mengabadikan foto bersama, kini hampir setiap pemberhentian berubah menjadi "studio konten" dadakan. Musik diputar, telepon genggam diangkat, lalu video pendek direkam dengan berbagai gaya yang mengikuti tren media sosial. Sesekali terdengar candaan bahwa konten yang dibuat hanyalah "ala-ala emak-emak". Namun, justru di situlah letak kebahagiaannya. Tidak ada yang merasa canggung. Tidak ada yang takut ditertawakan. Semua menikmati prosesnya dengan hati yang ringan.
Di sela-sela perjalanan, percakapan mengalir tanpa dibuat-buat. Pengalaman hidup, cerita keluarga, hingga kisah-kisah lucu selama bekerja saling bertukar. Kadang pembicaraan berkembang menjadi diskusi tentang pendidikan, kadang berubah menjadi nostalgia masa muda. Tidak ada meja rapat, tidak ada notulen, tetapi dari obrolan santai itulah lahir banyak inspirasi dan pembelajaran. Alam seolah menjadi ruang kelas yang paling luas, sementara perjalanan menjadi media untuk saling mengenal lebih dekat.
Jalur pedalaman yang dipilih menghadirkan pengalaman yang berbeda. Hamparan sawah menghijau, udara pegunungan yang sejuk, serta jalan-jalan desa yang tenang menghadirkan suasana yang sulit ditemukan di tengah hiruk-pikuk perkotaan. Sesekali rombongan memperlambat laju kendaraan hanya untuk menikmati bentang alam yang terbentang di kiri dan kanan jalan. Tidak sedikit peserta yang memilih berhenti sejenak, mengabadikan pemandangan, atau sekadar menarik napas panjang sebagai ungkapan syukur atas keindahan ciptaan Tuhan yang begitu dekat, tetapi sering luput dinikmati.
Touring juga mengajarkan nilai-nilai sederhana yang sering terlupakan. Tidak ada peserta yang dibiarkan melaju sendirian. Yang lebih cepat rela menunggu, yang lebih lambat tetap merasa ditemani. Perjalanan menjadi pengingat bahwa dalam kehidupan, tujuan bersama jauh lebih penting daripada menjadi orang pertama yang tiba. Nilai inilah yang tanpa disadari terus tumbuh setiap kali rombongan kembali menggelar perjalanan.
Menjelang sore, rombongan akhirnya kembali memasuki Kota Bukittinggi. Wajah-wajah yang pagi tadi masih segar kini tampak lelah, tetapi senyum yang mengembang justru terasa lebih tulus. Telepon genggam kembali sibuk membuka hasil foto dan video sepanjang perjalanan. Tawa kembali pecah ketika melihat berbagai ekspresi yang berhasil terekam kamera. Mungkin benar, kebahagiaan tidak selalu harus dicari di tempat yang jauh. Kadang ia lahir dari perjalanan sederhana, bersama orang-orang yang memiliki tujuan yang sama, saling menguatkan, dan pulang dengan hati yang lebih ringan.
Pada akhirnya, touring bukan sekadar aktivitas berkendara. Ia adalah ruang untuk merawat silaturahmi, mempererat persaudaraan, menyegarkan pikiran, dan mensyukuri setiap kesempatan menjelajahi keindahan bumi Allah. Sebab perjalanan terbaik bukanlah tentang seberapa jauh kita melangkah, melainkan tentang siapa saja yang tetap berjalan bersama hingga kembali pulang.

.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)


.jpeg)
Tidak ada komentar