Literasi Digital untuk Generasi Milenials


Revolusi industri adalah perubahan secara cepat atas perkembangan manusia dalam membuat peralatan kerja. Revolusi yang pertama (1.0) yaitu terjadinya perubahan besar-besaran dan radikal terhadap cara manusia memproduksi barang. Ditandai dengan  ditemukannya mesin bertenaga uap. Revolusi pertama ini terjadi pada tahun 1750-1850 (akhir abad ke-18). Revolusi industri ini menjadi tanda terjadinya titik balik besar dalam sejarah dunia, hampir semua aspek kehidupan sehari-hari dipengaruhi oleh revolusi ini.
Revolusi kedua (2.0) mulai dari tahun 1913 abad ke-20, perubahan ini ditandai dengan ditemukannya listrik dan adanya produksi mobil secara masal. Revolusi ini  menggantikan mesin uap, karena telah ditemukannya, listrik dan lampu. Jadi cara memproduksi barang digantikan melalui pemakain mesin dengan listrik. Revolusi industri ketiga (3.0) dimulai pada awal tahun 70-an. Penemuan ini ditandai dengan munculnya komputer dan robot yang bisa bergerak secera otomatis. Banyak pekerjaan manusia yang sudah dibantu dengan komputer dan robot, sehingga semakin mempermudah pekerjaan dan bisa menghasilkan barang yang banyak.
Sekarang ini abad 21, eranya revolusi 4.0 yang berpotensi pada meningkatnya kualitas kehidupan masyarakat di seluruh dunia. Teknologi canggih sudah sangat akrab dengan kita sejak diumukannya masa revolusi 4.0 ini oleh Jerman pada tahun 2010-an. Internet bukanlah barang baru lagi, semua kehidupan manusai dipengaruhi oleh adanya internet. Hampir semua kegiatan manusia sekarang ini memenggunakan situs digital. Dari yang kecil sampai yang tua sudah tahu dengan yang namanya internet. Dengan kemajuan teknologi internet atau cyber ini, banyak menimbulkan dampak bagi gaya hidup masyarakatnya.
Tidak terkecuali perubahan gaya hidup generasi yang ada di zaman ini. Mereka adalah generasi milenial yang sudah jarang membaca buku karena hanya berfokus pada gawai saja. Mereka lebih senang berkutat dengan gawainya dari pada membaca buku. Mereka disebut juga dengan generasi Langgas (Bebas). Bebas mencari dan mendapatkan informasi dari mana saja. Untuk bisa membawa mereka menjadi generasi yang aktif dan kreatif, kita harus bisa memanfaatkan kegemaran mereka tersebut dengan adanya gerakan literasi digital. Bagi milenial yang hidupnya selalu ditemani oleh teknologi ini, kita asah mereka untuk bisa mencari semua informasi yang bisa membawa perubahan positif bagi perkembangan individu mereka.
 Bagaimana cara membawa perubahan yang positif tersebut? Sebagai guru, yang jelas gerakan literasi digital juga harus dipadu padankan dengan literasi baca tulis di buku. Biarlah mereka mencari informasi dengan teknologi digitalnya, namun tetap pandu mereka untuk bisa berkolaborasi dan mengomunikasikan apa yang mereka dapat di depan forum-forum diskusi di depan kelas. Itulah peran kita sebagai guru untuk bisa menjadikan kaum milenial sekarang menjadi sumber daya manusia yang aktif, kreatif, berpikiran kritis dan bisa berkomunikasi dan berkolaborasi dalam kehiduan nyata mereka. Jangan biarkan mereka berselancar di dunia maya tanpa menyadari bahwa mereka sesungguhnya hidup di dunia nyata.
Atas dasar itulah gerakan literasi digital mulai diperkenalkan saat sekarang ini. Kita tidak akan lepas dengan yang namanya teknologi. Apalagi gawai, sudah semua orang menggunakan teknologi ini. Kenapa kita tidak bisa memanfaatkannya bagi kemajuan ilmu generasi milenial kita? Literasi adalah istilah umum yang merujuk kepada seperangkat kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara menghitung dan memecahkan masalah. Pada tingkat keahlian tertentu, semua hal yang harus dimiliki oleh setiap individu dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga literasi tidaklah bisa lepas dari kemampuan berbahasa. Dan teknologi digital sekarang inilah sebagai pembantu untuk mewujudkan generasi yang melek literasi. Kita asuh mereka untuk berselancar mencari informasi yang dibutuhkan, dengan memberi tahu situs-situs yang bagus untuk mereka. Mengasah mereka dalam menuliskan semua informasi yang telah mereka dapat di gawainya dan menjadikan sebuah kumpulan karya berupa buku.
Sebagai generasi milenial yang melek literasi seharusnyalah kita sebagai guru, harus mampu meningkatkan kemampuan mereka dalam merangkai kata yang bermakna dan menuliskanya kembali dengan baik. Tulisan merupakan jejak rekam  dan bukti sejarah peradaban manusia yang berupa peristiwa, pengalaman, pengetahuan, pemikiran, dan ilmu pengetahuan. Tulisan dapat menembus dan menelusuri lorong ruang dan waktu di masa lampau. Jika saja di zaman ini tidsak ada lagi tulisan atau orang yang menulis, niscaya kita akan kembali ke zaman pra-sejarah. Faktanya zaman sekarang bisa dikatakan sebagai peradaban tulisan atau dunia teks. Terbukti banjirnya informasi yang kita terima setiap hari dari berbagai media cetak maupun elektronik sebagian besar berbentuk teks atau tulisan. Singkat kata, tulisan telah mengisi seluruh ruang kehidupan manusai modern di era milenial seperti saat ini.
Walau bagaimanapun dunia berubah, generasi berganti, tidak akan mungkin kita akan hanya berdiri saja menatap mereka dengan antipati tanpa bisa berbuat untuk mereka lebih maju lagi. Kitalah gurunya, kitalah manusia pendamping bagi mereka menuju pintu gerbang kesuksesan mereka di masa depan. Jadilah guru yang memang melek ilmu, karena menjadi guru tidak hanya belajar satu kali, tapi belajar berkali-kali. Kalau kita tidak ingin dikebiri oleh imu dan teknologi.

0 comments:

Post a comment