Teks Cerita Inspiratif Kelas IX SMP

Dilla, S.Pd. Pemerhati Pendidikan dan Anak

Materi kelas IX smp

Teks cerita inspiratif

Pengertian Teks Cerita Inspirasi

Teks cerita inspirasi sama dengan teks cerita pendek. Oleh karena itu kedua teks tersebut memiliki pengertian yang sama.

               Sebuah cerita pendek biasanya mengambil bentuk sebuah karya fiksi yang singkat, biasanya ditulis dalam bentuk prosa. Prekursor awal untuk cerita pendek dapat ditemukan dalam tradisi cerita lisan, serta episode dari epos Mediterania kuno, seperti 'The Epic of Gilgamesh' dan Homer 'Iliad' (study.com/academy).

Teks cerita inspirasi memaparkan kisah ataupun cerita yang berisi hal yang membangun tentang manusia beserta seluk beluknya lewat tulisan pendek. Teks cerita inspirasi berupa kisah nyata dan  juga bisa berupa karangan fiktif yang isinya sebagian kehidupan seseorang atau juga kehidupan yang diceritakan secara ringkas yang berfokus pada suatu tokoh saja. Sama dengan cerita pendek, cerita inspirasi ceritanya kurang dari sepuluh ribu kata atau kurang dari sepuluh halaman. Selain itu, cerpen hanya memberikan kesan tunggal yang demikian dan memusatkan diri pada satu tokoh dan satu situasi saja.

Tujuan Teks Cerita Inspirasi

Teks cerita inspirasi bertujuan untuk memberikan inspirasi pada pendengar atau pembaca melalui kisah tokoh atau peristiwa dalam cerita. Teks cerita inspirasi bersifat membangun dengan pesan yang disampaikan melalui narasi ataupun dialog tokoh dalam cerita.

Ciri-ciri teks cerita inspiratif 

1. Memilki tema yang dapat        dikembangkanmenjadi sebuah kisah yang menarik

2. Memilki alur cerita yang menarik, sehingga pembaca dapat memahami cerita yang disajikan                  serta ada pesan yang terkandung di dalamnya 

3. Berbentuk teks narasi yang bertujuan memberi inspirasi kebaikan kepada banyak orang 

4. Dapat mengunggah perasaan oarng lain ketika membacanya. memberi kesan yang mendalam                    bahkan mempunyai keinginan untuk berbuat seprti tokoh di dalam cerita

5. Dapat menginspirasi seseorang untuk berbuat lebih baik, lebih peduli, dan lebih berempati                     kepada orang lain.

Struktur Teks Cerita Inspirasi

1.      Abstraksi

Abstraksi, adalah bagian yang menjelaskan tentang inti cerita yang kemudian akan dikembangkan lagi pada bagian selanjutnya.

  •       Orientasi

Orientasi, adalah bagian yang mana pengarang mendeskrpisikan mengenai latar tempat, waktu dan suasana dari cerita tersebut.

  •        Perumitan Peristiwa 
        Kisah tokoh dan peristiwa menuju ke puncak cerita (Konflik) 
  •      Komplikasi

Komplikasi, adalah bagian yang menggambarkan urutan kejadian antara satu dengan yang lain berdasarkan sebab akibat. Pada bagian ini pula tokoh utama akan menghadapi berbagai masalah, sehingga sering disebut sebagai klimaks atau puncak masalah. Puncak atau inti cerita (tempat kisah yang menjadi inspirasi) 

  •       Resolusi

Resolusi adalah bagian dimana pengarang menunjukkan solusi atas masalah yang menimpa tokoh utama. (Menyadarkan tokoh tentang kebaikan) 

  •      Koda

Koda adalah bagian yang berisi nilai-nilai atau pesan penting yang bisa diambil dari cerita tersebut. Penutup cerita, kesimpulan dan pesan moral. 

 Contoh Teks Cerita Inspirasi

Aku Berbeda?

 Hari ini hari minggu. Seperti biasanya aku bersama ketiga sahabatku hangout bareng. Tujuan kami pun juga sama seperti biasanya—kafe Melati di depan gang senggol. Kami duduk di meja pojok dengan empat kursi kayu yang unik. Aku memesan jus melon, sedangkan ketiga sahabatku sepakat memesan segelas Cappucino. Selera kami berbeda. Tepatnya, selera aku dan ketiga sahabatku berbeda. Mereka menyukai Cappucino tanpa gula, sedangkan aku selalu memesan minuman manis.

Setelah pelayan kafe beranjak membuatkan pesanan kami, tidak ada yang berbicara. Bukan karena bad mood, tetapi karena sibuk dengan gadget masing-masing. Tidak betah berdiam diri, aku mulai menceritakan tentang sosok idolaku yang bernama Sehun. Ia merupakan anggota bayband EXO dari negeri gingseng, Korea. Mereka hanya menanggapi dengan gelengan dan anggukan saat aku selesai bercerita dengan menggebu-gebu. Aku kecewa, meskipun aku tau mereka tidak sedikitpun menaruh respect pada boyband yang beranggotakan laki-laki imut seperti idolaku.

Merasa diabaikan, aku ikut fokus pada gadgetku. Memilih menstalk akun instagram milik idolaku. Semua foto dan video yang diunggah aku komentari. Biasanya, jika ada sahabatku yang melihat tindakanku ini, mereka akan mengatakan aku kurang kerjaan. Aku yang tidak tahu harus berkata apa hanya tersenyum mengangguk mengiyakan. Toh, aku berbeda dengan mereka.

Terkadang aku merasa ketiga sahabatku hanya orang asing yang berkedok dekat. Seolah mengenal aku luar dalam. Nyatanya mereka tidak tau apa-apa tentang aku. Sebenarnya, bukan hanya soal selera. Tampilan fisik kami pun berbeda. Jika mereka lahir dengan kulit putih dan tumbuh ke atas dengan cepat, aku terlahir dengan kulit sedikit gelap dan tinggi rata-rata. Tidak dipungkiri aku merasa iri dengan mereka. Aku selalu merasa rendah diri. Apalagi ketika mereka kulitku eksotis seperti kulit wanita India. Mereka berkata penuh pujian, namun aku tahu yang ingin mereka lontarkan hanya ejekan.

“Hai Puja. Melamun mulu,” tegur Ica.

Aku tidak menjawab. Mereka mengatakan wajahku mirip Puja—salah seorang aktris dari India. Tetapi aku tau, sebenarnya mereka ingin mengatakan kalau aku mirip orang Afrika. Keinginanku besar untuk mengatakan kepada mereka bahwa aku lelah di ejek terus seperti ini. Aku sadar diri bahwa di mata mereka, aku tak lebih dari rakyat jelata di antara putri raja. Tapi setelah kupikir-pikir lagi tidak ada gunanya berkoar kepada mereka. Tidak tertutup kemungkinan setelah itu mereka akan mengejekku terus terang. Lebih baik seperti ini. Ejekan bertopang pujian.

“Puja! Kamu mau kemana?” Rani menarik tanganku saat aku sudah berdiri hendak pergi.

Lagi. Mereka memanggil namaku dengan nama yang sangat ku benci. Seolah-olah namaku tidka menarik untuk disebut. Dengan memberi ketiga orang yang menatapku bingung dengan tatapan benci, ku hempaskan tangan Rani dan berderap pergi dan tempat tongkrongan yang selalu membuatku sesak ini.

Aku pergi ke taman untuk menenangkan pikiran. Tidak apa-apa sahabatku memandangku rendah. Masih ada Rudi, pacarku yang memandangku dengan tatapan memuja. Aku memang masih remaja, namun untuk hal ini aku sudah tidak hijau lagi.

Tatapanku terfokus pada satu titik yang terasa seperti ribuan jarum yang menghujam tepat di hatiku. Di bangku besi di bawah pohon yang biasanya ku duduki bersama Rudi saat ke sini, sepasang manusia pengkhianat sedang bercanda ria, seolah menyakiti hatiku tidak berarti apa-apa bagi mereka.

Dengan isakan tertahan aku berbalik pergi. Jika Rudi saja yang selalu memujaku bersikap busuk begini di belakangku. Bagaimana dengan sahabat yang selalu mengejekku di depanku? Apa yang mereka lakukan di belakangku? Apa yang mereka katakan di belakangku? Apakah mereka mengatakan bahwa aku terlihat seperti pelayan saat berjalan bersama mereka? Atau bahkan mereka tidak menganggap aku ada karena mereka seringkali mengabaikanku?

Kuhempaskan pintu kamar dengan keras. Pemandangan di kasur membuatku mematung. Ketiga orang yang mengaku sahabatku itu tengah menatapku dengan tatapan khawatir. Apakah mereka mengasihaniku? Apakah aku terlihat lebih rendah?

“Jika kalian ke sini hanya akan mengejekku, lebih baik pergi.” Ucapku tanpa sud menatap wajah mereka.

“Kamu kenapa sih Mita?” Ica yang pertama buka suara.

“Kalian akan mengejekku jelek lagi kan? Kalian akan menertawakan aku karena diselingkuhi bukan? Kalian aku terlihat berbeda bukan? Pergi sekarang juga! Aku tidak sudi bersahabat dengan kalian. Aku tidak suka di panggil Puja. Aku tidak suka kalian selalu mengabaikan aku setiap berbicara. Aku tidak butuh manusia-manusia picik seperti kalian.” Raungku tanpa mempedulikan wajah kaget mereka.

Jauh dari perkiraanku. Mereka tidak pergi, namun maju dan merangkulku. Aku tidak berontak. Aku lelah. Sangat lelah. Berdiam diri di balik topeng baik-baik saja sangat menyesakkan.

“Maaf.” Aku tertegun mendengar suara Lilian. Benarkah?

“Kalo gak suka kok gak bilang sih? Kan kamu emang mirip Puja.” Si penghancur suasana terkekeh menghancurkan suasana berbeda yang baru saja tercipta.

“Kalian gak pernah anggap aku ada kan?” tanyaku masih dengan sesenggukan.

“Bukan gitu, Mit. Kamu ngoceh si Sehun mulu sih. Kita bertiga mana suka sama yang gituan. Gak laki juga,” sungut Ica tidak terima dengan tudingan yang kuberikan.

Aku mulai memutar otak. Mereka benar. Aku terlalu memikirkan betapa malangnya aku tanpa melihat situasi dan kondisi. Menjadi anak semata wayang membuat papa dan mama memanjakanku hingga kau tumbuh dengan keegoisan yang kental. Seharusnya aku buka suara pada ketiga orang di dekatku ini. Memiliki selera yang tidak sama bukan berarti berbeda. Diacuhkan bukan berarti benar-benar diabaikan. Aku tersenyum menyadari kesalahpaman yang kuciptakan sendiri.

 

Struktur

Isi

Keterangan

Orientasi

Hari ini hari minggu. Seperti biasanya aku bersama ketiga sahabatku hangout bareng. Tujuan kami pun juga sama seperti biasanya—kafe Melati di depan gang senggol. Kami duduk di meja pojok dengan empat kursi kayu yang unik. Aku memesan jus melon, sedangkan ketiga sahabatku sepakat memesan segelas Cappucino. Selera kami berbeda. Tepatnya, selera aku dan ketiga sahabatku berbeda. Mereka menyukai Cappucino tanpa gula, sedangkan aku selalu memesan minuman manis.

Orientasi yang terdapat dalam teks tersebut adalah pengenalan tokoh dan kegiatan yang dilakukannya.

Komplikasi

 

Setelah pelayan kafe beranjak membuatkan pesanan kami, tidak ada yang berbicara. Bukan karena bad mood, tetapi karena sibuk dengan gadget masing-masing. Tidak betah berdiam diri, aku mulai menceritakan tentang sosok idolaku yang bernama Sehun. Ia merupakan anggota bayband EXO dari negeri gingseng, Korea. Mereka hanya menanggapi dengan gelengan dan anggukan saat aku selesai bercerita dengan menggebu-gebu. Aku kecewa, meskipun aku tau mereka tidak sedikitpun menaruh respect pada boyband yang beranggotakan laki-laki imut seperti idolaku.

Merasa diabaikan, aku ikut fokus pada gadgetku. Memilih menstalk akun instagram milik idolaku. Semua foto dan video yang diunggah aku komentari. Biasanya, jika ada sahabatku yang melihat tindakanku ini, mereka akan mengatakan aku kurang kerjaan. Aku yang tidak tahu harus berkata apa hanya tersenyum mengangguk mengiyakan. Toh, aku berbeda dengan mereka.

Terkadang aku merasa ketiga sahabatku hanya orang asing yang berkedok dekat. Seolah mengenal aku luar dalam. Nyatanya mereka tidak tau apa-apa tentang aku. Sebenarnya, bukan hanya soal selera. Tampilan fisik kami pun berbeda. Jika mereka lahir dengan kulit putih dan tumbuh ke atas dengan cepat, aku terlahir dengan kulit sedikit gelap dan tinggi rata-rata. Tidak dipungkiri aku merasa iri dengan mereka. Aku selalu merasa rendah diri. Apalagi ketika mereka kulitku eksotis seperti kulit wanita India. Mereka berkata penuh pujian, namun aku tahu yang ingin mereka lontarkan hanya ejekan.

Komplikasi yang terdapat pada teks bersisi tentang kejadian sebab akibat yang menjadi titik permulaan masalah yang akan muncul.

Evaluasi

Kuhempaskan pintu kamar dengan keras. Pemandangan di kasur membuatku mematung. Ketiga orang yang mengaku sahabatku itu tengah menatapku dengan tatapan khawatir. Apakah mereka mengasihaniku? Apakah aku terlihat lebih rendah?

“Jika kalian ke sini hanya akan mengejekku, lebih baik pergi.” Ucapku tanpa sud menatap wajah mereka.

“Kamu kenapa sih Mita?” Ica yang pertama buka suara.

“Kalian akan mengejekku jelek lagi kan? Kalian akan menertawakan aku karena diselingkuhi bukan? Kalian aku terlihat berbeda bukan? Pergi sekarang juga! Aku tidak sudi bersahabat dengan kalian. Aku tidak suka di panggil Puja. Aku tidak suka kalian selalu mengabaikan aku setiap berbicara. Aku tidak butuh manusia-manusia picik seperti kalian.” Raungku tanpa mempedulikan wajah kaget mereka.

Evaluasi yang terdapat pada teks tersebut berisi tentang titik terang penyelesaian masalah yang timbul.

Resolusi

Jauh dari perkiraanku. Mereka tidak pergi, namun maju dan merangkulku. Aku tidak berontak. Aku lelah. Sangat lelah. Berdiam diri di balik topeng baik-baik saja sangat menyesakkan.

“Maaf.” Aku tertegun mendengar suara Lilian. Benarkah?

“Kalo gak suka kok gak bilang sih? Kan kamu emang mirip Puja.” Si penghancur suasana terkekeh menghancurkan suasana berbeda yang baru saja tercipta.

“Kalian gak pernah anggap aku ada kan?” tanyaku masih dengan sesenggukan.

“Bukan gitu, Mit. Kamu ngoceh si Sehun mulu sih. Kita bertiga mana suka sama yang gituan. Gak laki juga,” sungut Ica tidak terima dengan tudingan yang kuberikan.

Resolusi yang terdapat pada teks berisi tentang solusi dari masalah yang terjadi.

Koda

Seharusnya aku buka suara pada ketiga orang di dekatku ini. Memiliki selera yang tidak sama bukan berarti berbeda. Diacuhkan bukan berarti benar-benar diabaikan. Aku tersenyum menyadari kesalahpaman yang kuciptakan sendiri.

Koda yang terdapat pada teks berisi tentang pesan moral yang disampaikan melalui pemikiran tokoh.





 

 


0 komentar:

Posting Komentar