Breaking News

Penerapan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah di Minangkabau

Dilla, S.Pd. Pemerhati Pendidikan dan Anak


Penerapan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi 

Kitabullah di Minangkabau 

            Masyarakat Minangkabau memiliki sistem kekerabatan matrilineal, yaitu sistem kekerabatan yang diambil dari garis keturunan ibu. Keunikan budaya inilah yang menjadikan identitas diri bagi masyarakatnya. Salah satu keunikan sistem matrilineal ini adalah dalam hal pewarisan suku, harta pusaka dan gelar kebesaran adat. Karifan lokal Minangkabau ini tampak nyata dari pola hidup masyarakat yang menjunjung tinggi adat dan agama, sehingga muncullah ungkapan filosofi “Adaik Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” (ABS – SBK )

            ABS-SBk  artinya adat bersendi kepada agama, agama bersendi pada alquran. Dari falsafah tersebut agama yang dimaksud adalah agama Islam dan alquran merupakan hukum tertinggi yang mengatur dalam ajaran adat Minagkabau. Dari makna yang ada tergambar bahwasanya adat dan agama saling bergandeng dan saling sejalan. Hukum tertinggi yang dipakai adalah syarak atau gama yang bersumber dari alquran. Bukan agama atau syarak yang mengikuti adat, namun adat lah yang mengikuti syarak atau agama. Karena itulah adat dan agama dalam masyarakat Minagkabau berkaitan erat dan tidak bisa dipisahkan.

            Penerapan ABS-SBK ini akan terlaksana dengan baik jika dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, bisa mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu penerapannya perlu digali, dihayati dan diamalkan, terutama bagi generasi muda saat sekarang ini. Jika program ini bisa terlaksana dengan baik maka ABS-SBK akan menyatu dalam kehidupan keseharian bagi masyarakatnya. Hal ini juga bertujuan untuk memperjelas kembali jati diri etnis Minangkabau sebagai sumber harapan dan kekuatan yang mampu menggerakkan ruang lingkup  kehidupan kesehariannya. Kepada generasi milenial Minangkabau, diharapakn mampu menjaga dan melesatarikan, nilai-nilai karakter yang dapat melekat pada falsafah ABS-SBK dalam kehidupan sehari-harinya.

            Banyak faktor yang membuat kita bangga dalam penerapan ABS-SBk ini, karena filosofi ini merupakan kolaborasi antara adat dan agama Islam yang diaplikasikan dalam kehidupan sosial budaya Minangkabau. Hal ini dapat dilakukan dengan pembinaan generasi muda di surau-surau, dan masjid di setiap jorong, nagari atau kelurahan. Sekarang ini hampir di setiap daerah juga sudah mulai menerapkan kembali program baliak ka nagari atau baliak ka surau. Dimana program ini menerapkan kembali adat dan kebiasaan masyarakat Minangkabau yang sudah mulai hilang tergerus oleh zamam.

Salah satunya adalah, Baliak ka surau, kalau zaman dahulu, semua anak lelaki Minangkabau yang sudah balig berakal, pantang tidur di rumah. Mereka bermalam di surau mengaji alquran dan belajar silek. Sementara anak-anak sekarang, jangankan tidur di surau, orang yang salat lima waktu ke surau saja boleh dihitung jari, oleh karena itulah peran pemerintah daerah sangat diperlukan untuk penerapan ABS-SBK ini. Sekarang, kebiasaan baliak ka surau kembali digerakkan dengan cara membuka rumah tahfiz di setaip jorong dan nagari. Kembali diajarakannya silek tuo kepada anak-anak dan remaja. Sehingga ke depannya akan muncullah generasi muda dan pemimpin bangsa yang hebat dan terampil namun hapal alquran dan pandia basilek.

ABS-SBK, syarak mangato adat mamakai, perlu diwariskan dan ditransformasikan kepada generasi mendatang, sehingga budaya Minangkabau akan terpelihara dan terjaga sepanjang masa. Jangan karena rendahnya pemahaman dan pengamalan ajaran agam Islam, adat dan budaya pada generasi muda, maka ABS-SBk ini hanya tinggal slogan sebagai kearifan local saja. Filosofi ini tidak boleh tinggal menjadi kenangan dan cerita saja, harus kita jaga bersama, terutama bagi generasi milenial Minangkabau. Janganlah perkembangan zaman yang pesat ini menjadikan kita lupa akan budaya dan adat sendiri. Untuk itu diperlukan upaya yang terus menerus untuk melestarikan budaya Minangkabau dan mewariskannya kepada generasi muda, karena generasi mudalah yang akan melanjutkan adat istiadat ini nantinya.

sumber gambar google


Tidak ada komentar