Menyalakan Cahaya dari Ranah Minang
Enam Tahun Blogger Bukittinggi: Menyalakan Cahaya dari Ranah Digital
Enam tahun lalu, di Salah satu SD di Bukittinggi, di sela istirahat siang ketika pelatihan dengan Tajuk Bahasa bagi Media Luar Ruang yang diadakan oleh Balai Bahasa Sumatra Barat. Para peserta yang asik ngobrol dan saling kenalan memiliki satu visi yang sama untuk semangat menulis saling berjabat tangan. Tak ada panggung megah, tak ada kamera besar, tak ada gegap gempita. Yang ada hanya satu niat yang jernih:
“Bagaimana kalau kita membangun ruang menulis kita sendiri yang hidup, hangat, dan bisa bermanfaat untuk orang banyak?”
Dari niat itulah lahir Komunitas Blogger Bukittinggi.
Tahun demi tahun berlalu, dan tanpa terasa, 13 November 2025 ini komunitas ini memasuki tahun ke-6. Enam tahun yang bukan hanya sekadar angka, tetapi perjalanan panjang yang membentuk kami menjadi keluarga literasi digital yang kuat.
Jejak Enam Tahun: Dari Ruang Kelas Kecil, ke Gerbang Literasi Digital Bukittinggi
Jika ditarik seperti garis waktu, maka perjalanan kami selama 6 tahun ini penuh warna. Banyak hal yang pernah kami lakukan, antara lain:
1. Diundang oleh HokBen, Mengangkat Wajah Bukittinggi Lewat Blog
Salah satu momen yang kami kenang adalah ketika komunitas kami diundang oleh HokBen.
Di sana kami tidak hanya hadir sebagai tamu, tetapi sebagai penggerak literasi digital, mempromosikan sebuah brand dan kami diapresiasi dan divasilitasi layaknya anggota pers lain. Membahas bagaimana blog bisa menjadi sarana mempromosikan budaya, UMKM, wisata, dan cerita lokal Bukittinggi. Bagi kami, undangan itu bukan sekadar agenda. Itu adalah pengakuan bahwa blogger lokal punya suara dan peran di tengah masyarakat.
2. Ngumpul Bersama Blogger Ranah Minang dan Komunitas Regional Lain
Kami juga beberapa kali berkolaborasi dengan Blogger Ranah Minang, bertukar pengalaman tentang cara menulis, membangun branding digital, hingga membuat konten yang lebih manusiawi.
Dari sini kami belajar satu hal penting:
semakin luas jejaring literasi, semakin kuat gaungnya. Pertemuan itu seperti recharge semangat kami pulang membawa ide baru, energi baru, dan tekad untuk terus menulis.
3. Workshop Internal: Dari SEO, Fotografi, Branding, sampai Blog Personal
Selama enam tahun ini kami beberapa kali mengadakan pertemuan kecil-kecilan:
Belajar SEO dan pemasangan domain, berbagi tips menulis kreatif, belajar memotret untuk kebutuhan blog, memperbaiki tampilan blog masing-masing, memotivasi member baru untuk kembali menulis dan saling review tulisan dan tentu saja, kegiatan ngopi-ngopi sambil merancang konten
Kegiatan seperti ini sering saya tuliskan juga di blog pribadi saya www.dillaspd.my.id, sebagai dokumentasi perjalanan literasi kami.
4. Menghidupkan Blog sebagai Ruang Bercerita, Berbagi, dan Merekam Jejak Kota
Tulisan-tulisan kami tak hanya soal pengalaman pribadi. Kami juga menulis tentang: kegiatan komunitas, liputan acara kota, dunia pendidikan, UMKM lokal, pariwisata Bukittinggi dan kisah-kisah kemanusiaan di sekitar dan refleksi dari sudut paling sederhana di kota ini
Di sinilah letak kekuatan blogger:
kami merekam hal-hal kecil yang sering terlewatkan oleh media besar.
5. Literasi Digital untuk Publik kami Hadir di Banyak Acara, Literasi digital bukan hanya tentang menulis blog, tetapi mengajak masyarakat melek informasi.
Beberapa kali kami ikut:, berbicara di kegiatan literasi, ikut mendampingi komunitas lain belajar menulis, membuat liputan kegiatan sosial, sampai menguatkan siswa dan guru untuk berani menulis di platform digital. Komunitas kami menjadi jembatan antara writer, reader, dan content creator. Rumah Kecil yang Menghidupkan Banyak Cahaya
Blogger Bukittinggi bukan komunitas dengan ribut-ribut besar.
Kami tumbuh dari konsistensi kecil, pertemuan hangat, dan niat yang tidak pernah padam.
Kami seperti lampu-lampu kecil di balik kabut Bukittinggi:
senyap, tapi tetap menyala.
Dan belakangan ini, saya merasakan betul bahwa semakin kuat digitalisasi, semakin penting suara blogger daerah. Kami bukan sekadar penulis online kami penjaga cerita sebuah kota.
Anniversary ke-6: Pulang ke Rumah
Tanggal 13 November menjadi semacam “hari pulang”.
Setiap kami berkumpul, ada rasa seperti kembali ke rumah lama yang menyimpan begitu banyak kenangan.
Kami tertawa, mengenang perjalanan, membuka rencana baru, dan saling menguatkan agar terus menulis. Karena satu hal yang kami yakini: Selama cerita dituliskan, ia akan terus hidup. Harapan untuk Tahun-Tahun Berikutnya
Semoga Komunitas Blogger Bukittinggi:
Tetap solid, semakin aktif, menjadi cahaya literasi digital, melahirkan lebih banyak penulis hebat, dan terus menebarkan inspirasi dari Ranah Minang untuk dunia.
Dan saya sebagai bagian kecil dari komunitas ini bersyukur bisa tumbuh bersama keluarga literasi yang luar biasa.
Selamat ulang tahun ke-6, Blogger Bukittinggi.
Kita menulis bukan untuk menjadi besar,
tapi agar setiap kebaikan yang kita tulis
menemukan pembacanya.



Semoga bersinar terus
BalasHapus