Senandung Kata dari Bukittinggi: Bedah Buku Simfoni di Bawah Menara Jam Gadang
Menyelami Puisi-Puisi dalam Antologi
Simfoni di Bawah Menara Jam Gadang
Oleh Muhammad Subhan
Penulis, Pegiat Literasi, founder Sekolah Menulis elipsis
Instagram: @muhammadsubhan2 | Facebook: Muhammad Subhan
PUISI lahir dari persimpangan antara perasaan, pengalaman, dan kemampuan
seorang penyair mengekspresikannya dengan bahasa yang padat dan bermakna.
Proses terciptanya puisi dimulai dari inspirasi, yang bisa muncul dari pengalaman
pribadi, perasaan cinta, rindu, kehilangan, kegembiraan, atau bahkan kegelisahan.
Inspirasi juga dapat datang dari alam, manusia, kejadian sehari-hari, atau fenomena sosial yang menggugah batin penyair.
Setelah itu, penyair melakukan refleksi dan pengamatan. Mereka merenung,
menimbang, dan mencari sudut pandang unik untuk melihat dunia. Hal ini
memungkinkan puisi tidak sekadar menggambarkan sesuatu, tetapi memberi tafsir
baru atau mengungkap perasaan terdalam dengan cara yang khas.
Tahap berikutnya adalah eksperimen dengan bahasa. Penyair memilih kata, ritme,
dan bunyi untuk menciptakan imaji, simbol, dan nuansa tertentu. Bahasa dalam
puisi tidak sekadar menjelaskan, tetapi juga menghadirkan resonansi emosional.
Kerapatan makna menjadi penting; satu kata dapat membawa banyak lapisan
makna, sehingga setiap kata memiliki peran signifikan dalam membangun
keseluruhan pengalaman estetis.
Puisi juga lahir melalui revisi dan penyempurnaan. Penyair menajamkan diksi,
irama, dan struktur agar pesan dan perasaan tersampaikan dengan tepat. Proses ini
membuat puisi menjadi karya hidup, mampu menyentuh pembaca, dan
menghadirkan pengalaman batin yang universal. Dengan demikian, puisi adalah
pertemuan antara perasaan, imajinasi, dan bahasa yang indah.
Puisi menjadi kuat dan puitis karena tersusun dari berbagai unsur yang saling
mendukung, baik dari segi bentuk maupun isi. Diksi atau pemilihan kata sangat
menentukan keindahan dan kedalaman makna. Kata yang tepat mampu
menghadirkan imaji kuat, membangkitkan emosi, dan menyampaikan pesan dengan padat. Penyair sering memilih kata bukan hanya untuk arti, tetapi juga untuk bunyi, ritme, dan resonansi emosional. Imaji, dalam puisi, memainkan peran penting. Imaji adalah gambaran sensorik yang membuat pembaca “melihat”, “mendengar”, atau “merasakan” apa yang disampaikan penyair. Imaji yang hidup mampu menembus batas kata dan menghadirkan pengalaman batin secara langsung. Begitu juga, gaya bahasa seperti metafora, simile, personifikasi, dan simbol menambah kedalaman makna. Gaya bahasa memungkinkan penyair
mengekspresikan ide kompleks dengan cara yang indah dan sugestif.
1. Aliran kata, pengulangan, atau rima menciptakan melodi (musikalitas) tersendiri
yang memperkuat kesan puisi. Ritme yang pas membuat puisi mudah diingat dan
menyentuh perasaan pembaca.
Puisi yang kuat memuat pesan, pengalaman, atau refleksi yang relevan dan
menyentuh. Kesatuan antara bentuk, bahasa, dan makna menghasilkan puisi yang
puitis, memikat, dan berkesan lama di hati pembaca.
Simfoni di Bawah Menara Jam Gadang (Penerbit RBA, November 2025), buku
antologi puisi karya guru-guru yang tergabung dalam MGMP Bahasa Indonesia
SMP Kota Bukittinggi. Ada 36 guru yang menulis puisi di buku ini dengan
jumlah satu hingga tiga judul puisi. Saya membacanya di sela-sela kesibukan, dan
menjadi bacaan yang asyik karena tema yang ditawarkan tentang guru bertepatan
dengan momen Hari Guru Nasional, 25 November. Judul buku Simfoni di Bawah
Menara Jam Gadang menjadi simbol irama kehidupan pendidikan yang harmonis,
sekaligus panggilan untuk merayakan dedikasi guru.
Kata “simfoni” berasal dari bahasa Yunani “symphonia”, yang berarti “suara yang
selaras” atau “harmoni suara”. Dalam musik, simfoni adalah komposisi besar untuk
orkestra, terdiri dari beberapa gerakan yang saling melengkapi dan membentuk
kesatuan harmonis. Secara kiasan, simfoni dapat menggambarkan kehidupan atau
pengalaman yang kompleks tetapi harmonis, di mana berbagai elemen—
perjuangan, emosi, atau ide—bersatu membentuk keseluruhan yang indah. Dalam
konteks pendidikan, simfoni bisa melambangkan perjalanan guru: lelah, sabar,
inspiratif, dan penuh warna, yang akhirnya menghasilkan harmoni bagi murid dan
proses belajar. Kata ini memadukan seni, makna, dan metafora dalam satu istilah.
Puisi-puisi dalam buku ini menghadirkan beragam perspektif guru dan murid.
Misalnya, puisi “Pelita di Ujung Pagi” karya Ahmad Arif, S.Pd. memperlihatkan
guru sebagai cahaya yang menembus kebodohan dan membuka jalan pengetahuan.
Metafora cahaya, embun, akar, dan ranting menegaskan peran guru yang halus
namun mendasar: menumbuhkan keberanian, menegakkan karakter, dan menuntun arah hidup. Pendidikan bukan sekadar mengajar huruf, tetapi membantu murid menafsirkan terang sebagai kekuatan untuk menyalakan potensinya sendiri.
cahaya matamu menembus kabut kebodohan,
menyulut nyala di bening mata kami
yang masih belajar mengeja kehidupan.
(Kutipan puisi “Pelita di Ujung Pagi” karya Ahmad Arif, S.Pd., hlm. 1)
Puisi “Mimpi yang Tiada Sirna” karya Busyra, S.Pd. menghadirkan suara seorang
pendidik yang menenangkan sekaligus menguatkan anak untuk tetap bermimpi di
tengah hiruk-pikuk dunia. Tekanan digambarkan lewat derap langkah dan kilau
“sembrani besi”, simbol kekuatan yang menakutkan. Namun penyair menawarkan
jalan perlawanan yang luhur: belajar. Ilmu diposisikan sebagai cahaya yang
membinasakan ketidakadilan, membutakan keangkuhan, dan melemahkan
2. Kesewenang-wenangan. Pada akhirnya, mimpi menjadi ruang perlindungan
sekaligus tenaga pendorong. Dengan menegakkan dada, menempuh cakrawala, dan
membiarkan aurora menari, anak diarahkan agar menjadikan asa sebagai tahta
dalam jiwanya.
Nak … bermimpilah
Mimpi di antara deru debu yang kaku
Tegak dan tegapkan dada. Menempa cakrawala
Aurora setia menari, ingin kau bernyanyi
Alunkan sayup syair usir jengah nelangsa jiwa
Biar bertahta semua asa dalam raga
(Kutipan puisi “Mimpi yang Tiada Sirna” karya Busyra, S.Pd., hlm. 5)
Puisi “Wajah Pendidikku” karya Desi Agusra, S.Pd. menempatkan guru sebagai
sosok yang luar biasa tegar, meskipun kondisi dan tekanan hidup sering menguji
hatinya. Kerutan di dahi menjadi simbol beban yang ia simpan sendiri, namun
keindahan sikap dan kesabaran tetap ia pancarkan di hadapan murid-muridnya.
Penyair menyoroti ketulusan dan pengorbanan guru yang tidak pernah terucap,
tetapi justru terasa dari ketegaran dan cintanya pada proses mendidik. Dengan
ungkapan yang jujur dan penuh rasa hormat, puisi ini menjadi bentuk penghargaan
bagi para pendidik yang terus memberi tanpa mengharap balasan, menjadikan kasih mereka tak berbatas.
Kerutan di dahimu
Tak pernah kautampakkan
Walau pun hati menggelegar
Tetap keindahan yang selalu kaupancarkan
(Kutipan puisi “Wajah Pendidikku” karya Desi Agusra, S.Pd., hlm. 13)
Selain itu, ada puisi “Cinta yang Tak Pernah Diukur” karya Detri Ayu, S.Pd. Puisi
ini menyingkap realitas keras dunia pendidikan dari sudut pandang guru. Diksi
metaforis seperti “lilin yang rela meleleh” dan “benih harapan” menegaskan
pengorbanan guru yang tak terlihat laporan administrasi. Kritik sosial hadir tajam
melalui gambaran beban kerja, tuntutan orang tua, serta ketidakadilan aturan. Meski dihimpit tekanan, guru tetap hadir membawa cinta yang tulus. Puisi ini memadukan ironi, empati, dan penghormatan melalui bahasa yang kuat dan emosional.
Di ruang kelas yang sempit,
kau berdiri bukan sebagai pahlawan berjubah emas,
tapi sebagai lilin yang rela meleleh sendiri,
menyulam gelap dengan cahaya yang tak pernah kau hitung bayarannya.
(Kutipan puisi “Cinta yang Tak Pernah Diukur” karya Detri Ayu, S.Pd., hlm. 16)
Selanjutnya, puisi “Aku Ini Manusia Bukan Stempel Negara” karya Dewi Fitri,
S.Pd., menyuarakan jeritan batin seorang guru yang merasa direduksi menjadi alat
tekanan sistem yang mematikan kreativitas dan kemanusiaan. Penyair menegaskan
bahwa guru dan murid sama-sama kehilangan kebebasan untuk tumbuh. Metafora
angin sebagai metode mengajar yang ideal menunjukkan kerinduan pada
pendidikan yang hidup, organik, dan membebaskan. Puisi ini adalah kritik tajam
terhadap pendidikan yang mengukur segalanya dengan angka, tetapi mengabaikan
manusia.
Aku ingin mengajar seperti angin:
bebas, mengguncang, membawa benih!
Tapi kau pasung aku di meja,
di antara rapor dan absen,
di antara takut dan diam!
(Kutipan puisi “Aku Ini Manusia Bukan Stempel Negara” karya Dewi Fitri, S.Pd.,
hlm. 29)
Puisi “Balada Guru Tercinta” Karya Dewi Juwita, S.Pd. menampilkan potret
sederhana namun penuh makna tentang semangat seorang guru. Imaji cahaya
keemasan menghadirkan suasana harapan, sementara langkah-langkah berbalasan melambangkan rutinitas yang dijalani dengan keikhlasan. Meski ada stigma “beban negara”, penyair menegaskan bahwa harapan dan doa seorang guru tak tergoyahkan. Diksi yang lembut mencerminkan keteguhan hati dan kemuliaan
profesi guru yang tetap setia mengabdi meskipun sering disalahpahami.
Secercah cahaya di langit keemasan
Diiringi langkah kaki berbalasan.
memakai seragam dengan penuh semangat.
Inilah harapan dalam doa.
Tak ada yang bisa merubahnya.
Walaupun dianggap beban negara.
(Kutipan puisi “Balada Guru Tercinta” karya Dewi Juwita, S.Pd., hlm. 33)
Puisi “Pelabuhan Abadi” Karya Dilla, S.Pd. menghadirkan perjalanan batin
seseorang yang mencari ketenangan dan arah hidup. Diksi seperti “persimpangan
hening”, “waktu membeku”, dan “langit memeluk sisa ragu” melukiskan suasana
kontemplatif penuh keraguan. Metafora “koin baru” menggambarkan tiap hari
sebagai peluang yang tak pasti—bisa keberuntungan, bisa kehampaan. Penyair
menegaskan bahwa hidup adalah “ombak” yang harus dihadapi, dan kebahagiaan
bukan hadiah, melainkan keputusan pribadi. Puisi ini menutup dengan optimisme:
keberanian untuk memilih jalan sendiri sebagai bentuk kemerdekaan batin.
Padahal hidup adalah ombak yang mesti dinaiki
Menjadi arahan dan peta diri
Kebahagiaan adalah keputusan sunyi
Di tengah hiruk pikuk janji yang tak ditepati
4. (Kutipan puisi “Pelabuhan Abadi” karya Dilla, S.Pd., hlm. 37)
Puisi “Dunia yang Berganti Rupa” Karya Dra. Karmiastiwi Kartam
menggambarkan benturan generasi dalam dunia pendidikan modern. Penyair
menyoroti perubahan zaman yang pesat, terutama akibat kemajuan teknologi dan
gawai yang mengalihkan fokus generasi muda. Guru digambarkan tetap sebagai
figur mulia—berkarakter, bijaksana, dan pantas diteladani—namun sering tidak
dihargai di tengah arus digital yang “menggila”. Kritik sosial muncul lewat potret
anak muda yang larut dalam media sosial, lupa tujuan, dan abai pada teguran. Meski begitu, puisi ini memberikan harapan: guru ditantang untuk tetap tegar,
mencerdaskan, merangkul, dan menjaga dunia pendidikan agar tidak “berganti
rupa” menjadi kebodohan yang tersamar sebagai kemajuan.
Guru memang mulia, bergelar “Pahlawan tanpa tanda jasa.”
Berilmu, berkharakter, bahkan tampak bersahaja
Patut digugu dan ditiru tersemat pada dirinya
Namun terkadang masih ada yang tak menghargainya.
(Kutipan puisi “Dunia yang Berganti Rupa” Karya Dra. Karmiastiwi Kartam, hlm.
40)
Sementara puisi lainnya, “Duka dan Cahaya” Karya Elvia Rahayu, S.Pd.
menggambarkan dua sisi kehidupan guru: perih dan kebahagiaan. Duka muncul dari tekanan ekonomi, rendahnya penghargaan profesi, dan pemberitaan negatif yang merendahkan martabat pendidik. Namun puisi ini menghadirkan kontras melalui “cahaya” berupa keberhasilan murid yang kembali mengakui jasa guru. Pengakuan tulus itu menjadi sumber kebahagiaan yang tak ternilai. Puisi ini menegaskan bahwa guru bukan beban negara, tetapi obor yang menuntun perjalanan bangsa, sekaligus meneguhkan makna mulia profesi pendidik di tengah tantangan.
Namun ada cahaya
saat seorang murid yang dulu tersisih,
kini berdiri tegak,
menyebut namaku dengan bangga,
dan berkata: “Terima kasih, Bu, Pak,
tanpamu, aku takkan sampai di sini.”
(Kutipan puisi “Duka dan Cahaya” karya Elvia Rahayu, S.Pd., hlm. 48)
Puisi “Yang Tak Tercatat di Laporan Resmi” Karya Fathur Rahman, S.Pd.
menghadirkan kritik sosial yang lembut namun tajam kepada para pemegang kuasa.
Penyair menegaskan bahwa hakikat sebuah negeri tidak terletak pada simbol
simbol formal seperti peta, gedung, dan laporan, melainkan pada manusia yang
menghidupinya. Anak-anak, orang tua, dan guru menjadi representasi nyata dari
denyut kehidupan bangsa. Repetisi “Negeri ini…” menjadi mantra yang
menegaskan nilai kemanusiaan. Ada kontras kuat antara mereka yang bekerja dalam sunyi dengan “kursi empuk” para pejabat. Puisi ini mengangkat martabat rakyat kecil sebagai penjaga sejati masa depan bangsa.
5. Negeri ini adalah peluh dan doa,
yang mengalir dari ibu, dari ayah, dari guru yang tak kenal lelah
Tak menuntut riuhnya tepuk tangan atau sambutan pujian,
Mereka hanya ingin anak-anak tumbuh utuh, tangguh dan berhati mulia
(Kutipan puisi “Yang Tak Tercatat di Laporan Resmi” karya Fathur Rahman, S.Pd.,
hlm. 54)
Selain itu, puisi “Guru Beban Negara” karya Febriadeti Firstiana, M.Pd.
menghadirkan kritik sosial yang tajam terhadap cara negara memperlakukan guru.
Kontras antara tuntutan besar dan fasilitas minim menjadi garis emosional utama.
Metafora seperti “gaji tipis bak kertas tipis”, “pabrik cetak”, dan “tiang agar negara
tak liar” memperkuat gambaran absurditas sistem pendidikan yang membebani
guru tanpa memberi penghargaan layak. Penyair menyoroti ironi: guru dituding
sebagai penyebab kegagalan moral bangsa, padahal mereka bekerja dalam tekanan
kurikulum yang berubah-ubah dan administrasi yang menumpuk. Puisi ini adalah
seruan agar martabat guru diakui: bukan beban, melainkan fondasi negara.
Wahai Guru, yang jiwamu tak pernah lelah bersinar,
Bukan beban, kau adalah tiang agar negara tak liar.
Semoga mata yang buta, kan melihat terangmu sejati,
Karena tanpamu di sana, negeri ini tak berarti.
(Kutipan puisi “Guru Beban Negara” karya Febriadeti Firstiana, M.Pd., hlm. 58)
Puisi “Segenggam Harapan” Karya Ib Silvia, S.Pd. menyoroti hubungan emosional
seorang guru dengan murid-muridnya. Penyair memadukan antara luka dan cinta:
pilu melihat ketidakpedulian murid terhadap masa depan, namun tetap memelihara
harapan yang teguh. Kontras antara “pilu” dan “suka” memperlihatkan dinamika
batin seorang pendidik yang tak pernah menyerah. Metafora “segenggam harapan”,
“geloramu”, dan “gemilangnya hari esokmu” menegaskan bahwa penghargaan
tertinggi bagi seorang guru bukanlah ucapan terima kasih, tetapi keberhasilan
murid. Puisi ini memotret dedikasi yang tulus, tanpa pamrih, dan penuh cinta
kepada masa depan generasi bangsa.
Tak perlu Kau berikan tanda jasaku
Jerihku cukup Kau hadiahkan dengan gemilangnya hari esokmu
Terbinalah asaku
(Kutipan puisi “Segenggam Harapan” karya Ib Silvia, S.Pd., hlm. 65)
Di halaman berikutnya ada puisi “Di Manakah Arti Jasanya” karya Ira Yulinda Sari,
S.Pd. Puisi ini menyoroti ironi yang menimpa profesi guru. Kalimat “pahlawan
tanpa tanda jasa” yang dahulu penuh makna kini terasa hampa ketika muncul stigma “guru beban negara.” Penyair memotret pergeseran penghargaan sosial terhadap guru di era yang menjadikan materi sebagai ukuran nilai. Kontras “penuh arti”
6. Dengan “kosong dan hampa” menegaskan luka batin seorang pendidik yang justru dituduh, bukan dihargai. Pada akhirnya, puisi ini menegaskan kembali kemurnian peran guru: bukan pencuri harta atau waktu, melainkan penyemai ilmu bagi masa depan bangsa.
Di manakah dia kini
Sosok yang dulu dirindukan
Sekarang seakan tak diinginkan
Bahkan untuk memandangpun enggan
(Kutipan puisi “Di Manakah Arti Jasanya” karya Ira Yulinda Sari, S.Pd., hlm. 67)
Puisi “Lentera di Taman Samudra Ilmu” karya Izzatur Rahmi, S.Pd. adalah ode
megah untuk seorang guru yang digambarkan sebagai pelukis cakrawala, obor,
kompas, dan arsitek masa depan. Metafora yang kaya memperlihatkan besarnya
peran guru dalam membentuk karakter dan membimbing arah hidup murid. Guru
bukan hanya penyampai materi, tetapi penuntun jiwa—menanamkan keyakinan,
keberanian, dan mimpi. Penyair menampilkan hubungan guru–murid sebagai
perjalanan spiritual: dari rimba kebodohan menuju samudra ilmu. Puisi ini
mengangkat martabat guru sebagai sosok yang bekerja dalam sunyi, namun
jejaknya abadi dalam hidup generasi.
Pena di tanganmu adalah tongkat gembala yang bijak,
Menghalau serigala malas, menjaga domba yang beranjak.
Garis-garis senyummu, peta harta karun kearifan sejati,
Menunjukkan jalan pulang bagi jiwa yang tengah mencari.
(Kutipan puisi “Lentera di Taman Samudra Ilmu” karya Izzatur Rahmi, S.Pd., hlm.
75)
Puisi “Mercusuar Tua” Karya Julisna, S.Pd., Gr. menggunakan simbol mercusuar
sebagai representasi guru: berdiri kokoh, memandu, namun diam-diam terluka. Di
balik perannya sebagai penunjuk arah generasi, terdapat pengorbanan yang tak
terlihat mata dan tak terdengar telinga. Penyair menegaskan bahwa guru bukan
beban anggaran, melainkan navigasi masa depan yang bekerja dalam sunyi, sering
menahan lapar demi menjaga wibawa. Metafora badai, karang, dan serpihan
menggambarkan kerasnya realitas pendidikan. Meski terhempas gelombang,
mercusuar tua tetap bertahan demi menerangi jalan anak bangsa.
Ini kami suara pejuang yang berduka
Sang navigasi generasi masa depan
Pahami anak bangsa
Berpihaklah pada ilmu
Ilmu adalah perjuangan …
pembungkam jeritan kemiskinan
Juga tiket mencapai jutaan impian
(Kutipan puisi “Mercusuar Tua” karya Julisna, S.Pd., Gr., hlm. 78)
7. Di halaman berikutnya, ada puisi berjudul “Guru Tak Boleh Lelah” karya Kurnia
Fitri, S.Pd. Puisi ini menggambarkan rutinitas dan pengorbanan guru yang dimulai
sejak fajar. Metafora “berkokok sebelum ayam jantan terbangun” dan “bersinar
sebelum mentari muncul” menegaskan bahwa guru selalu lebih awal dari segala
aktivitas lain. Motor tua, administrasi menumpuk, dan sertifikasi yang sering
tertunda menunjukkan kerasnya realitas profesi ini. Meski demikian, guru tetap
datang, tetap tersenyum, tetap menenun generasi santun. Ada ironi: kewajiban
selalu di depan, hak justru berlari di belakang. Puisi ini menegaskan tekanan yang
berat, tetapi juga keanggunan ketabahan guru yang terus berjalan tanpa keluh.
Guru tak boleh lelah itu anggun
Tunaikan kewajiban tapi hak sering di belakang
Sertifikasi pun sering tidak menyusul.
Guru tak boleh lelah sampai kapanpun
Menyambung hidup terpaksa berhutang
Tetap santai menjalani sambil bersiul
(Kutipan puisi “Guru Tak Boleh Lelah” karya Kurnia Fitri, S.Pd, hlm. 86)
Puisi “Pengaduan” Karya Loli Rahmana Putri, S.Pd. adalah seruan batin seorang
pendidik yang merasa teraniaya oleh situasi yang tak adil. Repetisi “Tuhan ku ingin
mengadu” menandai kedalaman luka yang tak lagi mampu ditampung kata-kata
biasa. Cinta dibalas tuba, amanah dibalas fitnah, menunjukkan pengkhianatan
moral di lingkungan yang seharusnya menjunjung integritas. Metafora “ada yang
menangis karena dipukul saat memikul” menggambarkan beban ganda: bekerja
sambil terluka. Sementara “mata berselimut tahta” mengkritik mereka yang
berkuasa namun tak berjiwa. Puisi ini menjadi jeritan lirih—sekaligus lantang—
tentang kelelahan spiritual dan kebutuhan akan keadilan sejati.
Tuhan
Kuingin mengadu
Tentang cinta yang dibalas tuba
Tentang amanah
Yang dibalas fitnah
Ada langkah yang berjalan lunglai
Dengan asa yang tengah dirangkai
(Kutipan puisi “Pengaduan” Karya Loli Rahmana Putri, S.Pd., hlm. 91)
Puisi “Guru, Akar yang Tak Terlihat” Karya Mena Sri Dewi Mailini, S.S.
menggambarkan guru sebagai akar yang tak tampak, namun justru menopang
seluruh bangunan bangsa. Dengan ruang kelas yang sederhana dan gaji yang jauh
dari layak, guru tetap berdiri untuk menjaga cahaya pengetahuan agar tidak padam.
Kritik terhadap anggapan “beban negara” menjadi suara perlawanan terhadap
pandangan yang meremehkan profesi ini. Penyair menegaskan bahwa dari guru
lahir generasi, pemimpin, dan peradaban. Jika guru tidak dihargai, maka masa
8. Depan akan kehilangan arah. Puisi ini bukan sekadar keluhan, tetapi peringatan:
bangsa yang mengabaikan gurunya sedang menyiapkan kebutaan sejarahnya
sendiri.
Jika guru terus dipandang sebelah mata,
maka masa depan akan buta,
sebab bangsa yang lupa menghormati gurunya
akan tersesat di jalan sejarahnya sendiri.
(Kutipan puisi “Guru, Akar yang Tak Terlihat” karya Mena Sri Dewi Mailini, S.S.,
hlm. 102)
Di halaman berikutnya puisi “Guru Bukanlah ‘Beban’” Karya Meri Febriani, S.Pd.
yang menyuarakan penolakan tegas terhadap anggapan bahwa guru adalah “beban
negara”. Melalui repetisi yang kuat, penyair menegaskan bahwa guru justru fondasi
kecerdasan dan masa depan bangsa. Ironi muncul ketika jasa guru—yang mengajar,
membimbing, dan mengabdi—dibalas dengan stigma yang tak adil. Puisi ini
menggeser persoalan dari guru kepada akar masalah sebenarnya: kesalahan alokasi
anggaran dan korupsi para “tikus berdasi” yang merusak sistem pendidikan.
Dengan nada protes yang penuh keberanian, penyair menegaskan bahwa jika negara merasa terbebani, maka bukan guru yang salah, melainkan tata kelola yang keliru. Guru tetap pelita kehidupan.
Namun itu semua ‘beban ‘ katanya!
Heiii duniaaaa…. katakan pada sang Arasy Kebijaksanaan
Kami ini guru bukanlah ‘beban’
Kami berdiri penuh pengabdian
Jika kami adalah beban, mengapa kalian menaruh harapan?
(Kutipan puisi “Guru Bukanlah ‘Beban’” karya Meri Febriani, S.Pd., hlm. 105)
Puisi “Suara Hati” Karya Mursyida Aulia, S.Pd. menyampaikan keresahan seorang
guru yang merasa terjebak antara penghormatan simbolis dan realitas yang
menyakitkan. Ia disebut “pahlawan”, namun tetap diacuhkan, bahkan dianggap
beban. Penyair menggunakan diksi sederhana namun emosional untuk
menggambarkan paradoks: guru dituduh tak peduli, padahal justru ia yang
menuntun langkah anak bangsa. Pertanyaan retorik seperti “Apakah masih harus
berdiskusi?” menandai kelelahan batin, sementara bagian akhir menunjukkan tekad
guru untuk tetap ikhlas, mencari berkah, dan mendampingi murid tanpa pamrih.
Orang-orang menyebutnya pahlawan
Dengan segudang perjuangan
Meski tak harap imbalan
Sering diacuhkan
Dari ribuan ungkapan kekecewaan
Bahkan dianggap sebagai beban
(Kutipan puisi “Suara Hati” karya Mursyida Aulia, S.Pd., hlm. 108)
9. Puisi “Untukmu, yang Tak Lekang oleh Zaman” karya Nelga Pranita, S.Pd.
memotret sosok guru sebagai figur yang melampaui batas ruang dan waktu. Doa
yang terus dilangitkan, cinta yang tak lekang oleh zaman, serta harapan yang tak
putus menjadi fondasi keberhasilan murid-muridnya. Penyair menampilkan guru
sebagai sumber kekuatan yang hadir lewat senyuman, tutur yang menyejukkan, dan
bimbingan yang penuh kasih. Tidak ada ganjaran yang lebih membahagiakan bagi
seorang guru selain melihat muridnya meraih masa depan. Tanpa menuntut balasan, guru memberi sepenuh hati. Puisi ini menjadi penghormatan bagi dedikasi mereka yang mengabdi dalam sunyi.
Tak bosan kau hadirkan senyuman
Kasihmu menenangkan
Tuturmu menyejukkan
Dengan kasih kau membimbing jalan
Memberi tulus tanpa harap balasan
(Kutipan puisi “Untukmu, yang Tak Lekang oleh Zaman” karya Nelga Pranita,
S.Pd., hlm. 112)
Di halaman berikutnya ada puisi “Beban Tak Berarti” karya Nia Odiana, S.Pd. Puisi
ini menggambarkan ironi profesi guru: dipuji sebagai pahlawan, panutan, dan
cahaya, tetapi realitasnya justru penuh kekecewaan. Harapan-harapan yang dahulu
indah kini berubah menjadi beban tanpa ujung. Penyair menyoroti tekanan
administratif dan tuntutan sistem pendidikan yang membelenggu, sehingga
dedikasi guru kerap dipandang sebelah mata. Puisi ini menjadi kritik halus terhadap kondisi pendidikan yang lebih sibuk dengan formalitas daripada substansi.
Kini semua hanyalah angan
Goresan tangan yang terukir
Kini menjadi harapan tak berujung
Sabar yang bertepi
Beban tak berarti
(Kutipan puisi “Beban Tak Berarti” karya Nia Odiana, S.Pd., hlm. 116)
Sementara puisi “Tentang Mereka yang Masih Abu-abu” karya Nofieana Gusti
Winata, M.Pd. menggambarkan potret guru honorer—para pendidik yang hidup
dalam ketidakpastian. “Abu-abu” menjadi metafora untuk status mereka yang tidak
jelas: berjasa namun terabaikan, berilmu namun dinomorduakan. Penyair
menampilkan kontras antara ketulusan guru dan abainya negara. Harapan mereka
tinggi, tetapi hidup sederhana dan janji palsu menggerus semangat. Meski terus
berkarya, masa depan mereka tetap kabur. Puisi ini adalah kritik sosial sekaligus
ungkapan empati mendalam.
Ia tampak tak berdaya
Terbelenggu harapan dan dusta
Dibalik gelar akademiknya
10Ia pun ternoda seiring waktu yang menggerusnya
Ia tetap berkarya walau hidup tak lagi membersamainya
Bahkan bermimpi pun mereka tak bisa
(Kutipan puisi “Tentang Mereka yang Masih Abu-abu” karya Nofieana Gusti
Winata, M.Pd., hlm. 121)
Puisi “Seorang Lelaki (yang Mulai Ragu) dengan Ikrarnya” karya Putra Alfajri,
S.Pd. adalah potret getir seorang calon guru atau pendidik muda yang hidup dalam
pergulatan batin. Gambaran Subuh, toko-toko, penjual tua, dan roti menjadi latar
sosial yang menegaskan kehidupan keras pekerja kecil di kota. Tas kulit imitasi dan
sapu tangan putih—pemberian mendiang istrinya—menjadi simbol kenangan
sekaligus beban moral. Tokoh ini pernah jatuh, terluka oleh “tangan yang pura-pura
bersih”, yakni orang-orang munafik dalam sistem. Ikrar pengabdian mulai goyah
ketika ia melihat kenyataan pahit dunia pendidikan dan birokrasi. Puisi ini
mengungkap kerapuhan manusia sekaligus kritik sosial yang tajam.
Seorang lelaki mencoba setia pada ikrarnya
Sehingga gedung-gedung yang tegap, barisan ruko-ruko tua
Sepakat berkirim doa untuknya
Namun bagai kehidupan, bagai panggung drama di tanah pertiwi:
Selalu terselip dusta
Ia menyimpan dendam, ia berniat melanggar
Mumpung ia belum jadi abdi negara
(Kutipan puisi “Seorang Lelaki (yang Mulai Ragu) dengan Ikrarnya” karya Putra
Alfajri, S.Pd., hlm. 126)
Berikutnya, puisi “Secercah Harapan Kami ‘Pendidik Anak Negeri’” karya Rahmi
Yuliani, S.Pd. mengeksplorasi kegelisahan dan harapan guru terhadap masa depan
bangsa. Penyair menyoroti diskusi panjang tentang Indonesia Emas 2045 yang
penuh wacana tetapi minim tindakan nyata. Pergantian pemimpin membawa janji
kesejahteraan yang belum tentu terwujud. Di tengah ketidakpastian itu, guru tetap
memberi dedikasi penuh—waktu, tenaga, pikiran, dan energi—demi membentuk
generasi penerus. Puisi ini adalah suara jujur pendidik yang berharap mimpi
kolektif bangsa tidak berhenti sebagai slogan. Ia mengajak siswa membangun tekad
karena masa depan mereka adalah buah kerja keras para guru hari ini.
Tahun berganti, nahkoda negeri pun berganti
Hadir dengan janji kesejahteraan untuk pendidik anak negeri
Semoga janji tak hanya janji
Karena sangat besar harapan kami
(Kutipan puisi “Secercah Harapan Kami ‘Pendidik Anak Negeri’” karya Rahmi
Yuliani, S.Pd., hlm. 131)
Selanjutnya, puisi “Simfoni Kesabaran yang Abadi” karya Ramadhona Walis, S.Pd.
menggambarkan guru sebagai figur yang memadukan ketabahan, kehangatan, dan
11ketekunan. Metafora kapal, sungai, mentari, dan tanah subur menciptakan citra kuat tentang guru sebagai sumber kehidupan dan penyokong peradaban. Meski diterpa ombak dan awan gelap, ia tetap mengalir dan bersinar demi menghidupi harapan murid-muridnya. Puisinya menekankan bahwa tugas guru bukan sekadar mengajar, tetapi menebar kasih, menuntun jiwa, dan melukis masa depan. Harmoni ilmu dan cinta menjadi simfoni yang abadi—warisan yang terus hidup dalam generasi.
Engkau bagaikan mentari yang selalu bersinar,
menghangatkan jiwa, menerangi pikiran
Meskipun terkadang diselimuti awan hitam, namun kau tetap sabar menjalani
Demi mewujudkan berjuta harapan dan impian
(Kutipan puisi “Simfoni Kesabaran yang Abadi” karya Ramadhona Walis, S.Pd.,
hlm. 135)
Puisi “Guru di Tepi Kampar” Karya Rezi Arsya, S.Pd. menghadirkan potret getir
perjuangan seorang guru muda di daerah terisolasi. Latar tepi Sungai Kampar dan
hutan belantara menjadi simbol keterpencilan—wilayah yang luput dari perhatian
negara. Melalui citra tubuh yang lelah, medan yang terjal, serta rasa gundah yang
“menikam jantung,” penyair menegaskan beratnya pengabdian yang dijalani dalam
sunyi. Kontras antara tawa murid-murid dan kesedihan guru menegaskan paradoks
profesi pendidik: memberi harapan, meski dirinya nyaris kehilangan harapan.
Pertanyaan “Apakah kami beban negara?” menjadi kritik sosial yang tajam.
Melihat tawa renyah para penerus bangsa
di tepi sungai Kampar
Selalu menyambut pagi yang cerah walau rasa gundah
yang menikam jantung
Akankah ku terkubur di sini
Akankah kukubur cita dan asaku di tepi Kampar
(Kutipan puisi “Guru di Tepi Kampar” karya Rezi Arsya, S.Pd., hlm. 139)
Berikutnya, puisi “Sekolah di Ujung Negeri” Karya Rina Devira, M.Pd.
menampilkan potret pendidikan di daerah terpencil dengan citra visual yang kuat:
guru datang dengan perahu, papan kayu rapuh, kapur basah, dan suara anak-anak
yang lantang. Kontras antara kesederhanaan fasilitas dan besarnya semangat belajar menjadi inti pesan. Penyair menekankan bahwa pendidikan bukanlah milik kota besar, melainkan hak universal setiap anak. Sekolah sederhana di pelosok
digambarkan sebagai titik kecil yang justru menjaga nyala harapan bangsa. Puisi
ini menyoroti kesetiaan guru dan kegigihan murid dalam keterbatasan.
Pendidikan tak hanya milik kota gemerlap,
Ia adalah hak setiap jiwa yang lahir di bumi ini.
Sekolah di ujung negeri—walau sederhana,
Tetap menyalakan api harapan yang tak padam
(Kutipan puisi “Sekolah di Ujung Negeri” karya Rina Devira, M.Pd., hlm. 144)
12. Puisi “Pendidikan” karya Sri Rezeki, S.Pd., Gr. menampilkan pendidikan sebagai
sumber cahaya dan energi yang membangkitkan semangat hidup. Metafora
matahari dan cahaya digunakan untuk menunjukkan bahwa pendidikan menerangi
jalan menuju cita-cita. Bagian tengah puisi menegaskan konsekuensi ketiadaan
pendidikan, diibaratkan kapal tanpa nahkoda—terombang-ambing tanpa tujuan.
Pada akhirnya, puisi berubah menjadi ajakan reflektif, menekankan bahwa masa
depan berada di tangan generasi muda, dan pencapaian mereka adalah kebanggaan
bangsa. Gaya bahasa sederhana namun kuat, menghadirkan pesan moral yang jelas
dan inspiratif.
Hidup tanpa adanya Pendidikan
Bagaikan kapal tanpa nahkoda
Terombang ambing di lautan
Berlayar tanpa tujuan
(Kutipan puisi “Pendidikan” karya Sri Rezeki, S.Pd., Gr., hlm. 147)
Puisi “Katanya, Hak Semua?” Karya Suci Rahmadani, S.Pd. menggambarkan
paradoks pendidikan di Indonesia—antara ideal dan realitas. Penyair menyoroti
ketimpangan akses, birokrasi yang gemuk, guru yang berjuang dalam sunyi, serta
anak-anak bangsa yang masih menunggu keadilan pendidikan. Kontras antara kota
dan pelosok ditegaskan lewat diksi “fasilitas berlimpah” dan “buku pun masih jadi
mimpi indah”. Nada kritik sosial tampak kuat, namun tetap menyisakan harapan
melalui pengabdian guru dan keyakinan bahwa pendidikan adalah janji yang harus
terus diperjuangkan.
Pendidikan, katanya, jembatan emas,
namun jalannya masih saja terjal.
Di kota penuh fasilitas berlimpah,
di pelosok, buku pun masih jadi mimpi indah.
(Kutipan puisi “Katanya, Hak Semua?” karya Suci Rahmadani, S.Pd., hlm. 153)
Kemudian, puisi “Pena Sang Kehidupan” karya Syafitri Yuliana, S.Pd. merupakan
pujian tulus bagi guru sebagai sosok pembentuk masa depan. Diksi seperti “pena
menjadi tongkat sakti” dan “menggariskan takdir” menegaskan kekuatan peran
guru dalam membuka pengetahuan bagi murid. Imaji semesta—bintang, dunia,
kertas, ijazah—menghadirkan perjalanan belajar dari awal hingga dewasa.
Pengorbanan guru digambarkan melalui keringat, lelah, dan pengabdian yang tidak
pernah dikeluhkan. Puisi ini bernuansa syukur dan penghormatan, menempatkan
guru sebagai arsitek kehidupan dan penjaga harapan.
Keringatmu menetes, tak pernah kau keluhkan,
Lelahmu terbayar oleh senyum kecerdasan.
Dari polosnya kertas hingga lembaran ijazah,
Kau adalah arsitek, perajut asa.
13. (Kutipan puisi “Pena Sang Kehidupan” karya Syafitri Yuliana, S.Pd., hlm. 158)
Ada juga puisi “Kesabaran Guruku” karya Three Yeni Miftaul Ilmi, S.Pd. Puisi ini
menggunakan metafora pertanian untuk menggambarkan peran guru dalam
mendidik manusia. Penanaman tanpa tanah dan penyiraman tanpa air menegaskan
bahwa proses mendidik adalah kerja batin yang bertumpu pada kesabaran. Guru
digambarkan sebagai sosok yang menumbuhkan “benih” hingga menjadi “pohon
pohon” keberhasilan. Bahasa puisi sederhana namun kuat, menekankan nilai
keteladanan, ketekunan, dan jasa guru yang abadi. Nada puisi penuh penghormatan
dan rasa terima kasih.
Dirimu menyiram,
Tidak menggunakan air,
Tapi dengan sabar yang tak ada batasnya
Kelak nantinya
dari benih tumbuh menjadi pohon-pohon
yang berbuah perubahan dan kesuksesan
(Kutipan puisi “Kesabaran Guruku” karya Three Yeni Miftaul Ilmi, S.Pd., hlm. 161)
Puisi “Mungkin Mereka Lupa” karya Ulan Oktafiyani, S.Pd. adalah kritik sosial
yang kuat terhadap ketidakadilan yang dialami guru. Dengan repetisi “Mungkin
mereka lupa”, penyair menegaskan ironi bahwa kontribusi guru sering diabaikan.
Diksi seperti “kapur yang terkikis”, “kelas panas tanpa jendela”, dan “gaji tak
sepadan” menggambarkan kondisi nyata yang melelahkan. Namun di balik itu ada
keikhlasan dan doa yang tidak pernah padam. Puisi ini menempatkan guru sebagai
fondasi bangsa—“denyut nadi”—dan mengingatkan bahwa tanpa guru, sebuah
negara kehilangan ruhnya. Nada puisi tegas, emosional, dan penuh penghormatan.
Mungkin mereka lupa,
Bangsa ini tidak hanya berdiri di atas tanah dan batu,
Tetapi di atas keringat dan kesabaran seorang guru.
(Kutipan puisi “Mungkin Mereka Lupa” karya Ulan Oktafiyani, S.Pd., hlm. 164)
Di halaman selanjutnya, kita temukan puisi berjudul “Pelita” karya Veni Astetti,
S.Pd. Puisi ini menampilkan guru sebagai sumber cahaya dan inspirasi bagi murid-muridnya. Guru digambarkan sebagai sosok yang penuh pengorbanan: “letih
singgah di pundak” dan “suaraku serak di dengar”, namun tetap memberikan cinta
dan bimbingan. Imaji cahaya dan pelita melambangkan ilmu, petunjuk, dan
harapan. Nada puisi hangat, penuh kasih, dan motivatif, menekankan bahwa setiap
usaha guru bertujuan membentuk murid menjadi insan bijak dan generasi gemilang. Doa guru menjadi simbol perhatian dan pengabdian yang tak terlihat namun memberi dampak besar bagi masa depan bangsa.
Meski letih singgah dipundak
Suaraku serak di dengar
14. Namun cintaku mengilangkan semua itu
Asal kelak kalian menapak dengan langkah yang mulia
(Kutipan puisi “Pelita” karya Veni Astetti, S.Pd., hlm. 171)
Puisi “Ikatan Abadi” karya Venny Adisti, S.Pd. menyoroti hubungan emosional
antara guru dan murid yang melampaui sekadar interaksi akademik. Guru
digambarkan sebagai sosok yang sabar dan penuh perhatian, mengubah
ketidaktahuan murid menjadi pengetahuan melalui bimbingan dan kesabaran.
Metafora “pena menari di atas lembaran-lembaran kertas” dan momen “Oh, saya
mengerti” menegaskan proses belajar yang magis dan memuaskan. Nada puisi
hangat, penuh kasih, dan inspiratif, menekankan bahwa pendidikan bukan hanya
transfer ilmu, tetapi juga pembentukan ikatan batin. Ikatan ini menciptakan rasa
kebersamaan yang abadi antara guru dan murid, meski tanpa darah.
Ceritaku mereka dengar
Arahanku mereka simak
Hingga tantangan pun mereka taklukan
Ikatan batin yang tulus antar guru dan siswa ini
Membuat kami menjadi keluarga yang abadi
Walau tanpa ikatan darah yang mendasari
(Kutipan puisi “Ikatan Abadi” karya Venny Adisti, S.Pd., hlm. 178)
Puisi “Kamu dan Usahamu” karya Vina Lucya, S.Pd. menekankan hubungan
mendalam antara guru dan murid, serta nilai kerja keras dan doa dalam meraih cita-cita. Guru digambarkan penuh perhatian, mengenal semangat dan mimpi murid meski tidak selalu menyaksikan proses awal mereka. Metafora “setitik harapan dapat mengubah pola hidupmu” dan “engkau adalah tiang untuk masa depan” menegaskan bahwa usaha individu menentukan keberhasilan. Nada puisi hangat, motivatif, dan inspiratif, sekaligus mengajak murid menyadari tanggung jawab diri sendiri. Pesan kuatnya: keberhasilan bukan sekadar anugerah, tetapi buah dari usaha, doa, dan ketekunan.
Kami memang tak mengetahui kapan engkau mulai merangkak
Kapan engkau mulai berbicara dan berjalan
Tetapi kami tau banyak hal tentangmu saat ini
Tentang cita-cita dan berbagai mimpi masa depanmu
(Kutipan puisi “Kamu dan Usahamu” karya Vina Lucya, S.Pd., hlm. 184)
Secara keseluruhan, kandungan isi buku antologi puisi ini adalah simfoni guru—
harmoni dedikasi, ketulusan, dan perjuangan. Namun, jika dikritisi lebih dalam dan
secara kreatif, beberapa puisi masih terlalu sederhana dan perlu disempurnakan.
Beberapa puisi masih ditemukan diksi yang belum sepenuhnya dipadukan dengan
imaji yang kuat. Ritme perlu lebih konsisten dan simbol tidak sebatas literal. Puisi
yang lemah biasanya muncul karena pilihan kata yang umum, kurang dibawa ke
ruang kontemplasi dan terlalu terburu-buru, serta tidak menimbulkan resonansi
15emosional. Imaji kurang hidup atau terlalu generik sehingga sulit menimbulkan
pengalaman sensorik, struktur dan ritme belum sepenuhnya diperhatikan, sehingga
pesan tidak mengalir secara musical, tema dan emosi belum dielaborasi lebih
mendalam sehingga pembaca semakin tersentuh.
Meskipun demikian, buku antologi puisi karya MGMP Bahasa Indonesia SMP
Kota Bukittinggi ini berhasil menangkap semangat pendidikan dari perspektif guru.
Buku ini layak diapresiasi karena menghadirkan koleksi yang menyentuh, sekaligus
menjadi refleksi sosial tentang profesi yang sering tak terlihat namun sangat
menentukan masa depan bangsa. Di masa mendatang dengan pengolahan diksi
lebih puitis dan fokus pada ritme dan imaji, buku ini memiliki potensi menjadi karya yang lebih kuat, memikat, dan abadi.
Bukittinggi, 26 November 2025

Tidak ada komentar