Breaking News

Di Atas Jam Gadang, Waktu Berhenti Sejenak untuk Bercerita

 


BUKITTINGGI, Jumat (17/6/2026) Embun pagi masih menggantung di dedaunan ketika langkah kami usai dari kegiatan peringatan 1 Muharram di Masjid Jamiak Tigobaleh. Udara dingin Bukittinggi yang khas menggiring kami menuju Pasar Atas sekadar untuk menghangatkan perut dengan sarapan. Tak ada agenda besar pagi itu, hanya rutinitas pagi di kota yang sedang bersiap merayakan sejarahnya sendiri.

Namun, di antara hiruk-pikuk pedagang dan aroma kuliner pagi, takdir seolah mengatur skenario berbeda. Kami saling sapa dengan Indra Jaya, Koordinator Lapangan sekaligus "penjaga gawang" Jam Gadang. Senyum ramah pria yang telah mengabdi satu dekade di Dinas Pariwisata ini menyapa kami.

"Ibu-ibu, kalau mau, silakan naik. Boleh meliput, boleh membuat konten. Bulan ini Jam Gadang genap berumur 100 tahun," tawarnya tiba-tiba.

Gayung bersambut. Tawaran itu bagaikan kunci emas yang membuka pintu yang telah tertutup rapat selama hampir 40 tahun lebih. Sejak pertama kali mengenal landmark kebanggaan Sumatera Barat ini, ini adalah kali pertama kami diizinkan menapaki tangga dan masuk ke dalam inti bangunan fenomenal tersebut.

Usai sarapan, kami bergegas menuju lokasi. Pak Jaya ternyata sudah setia menunggu. Di sekeliling Jam Gadang, suasana sudah sibuk. Pentas melingkar sedang dibangun sebagai persiapan malam puncak perayaan seabad Jam Gadang pada 20 dan 21 Juni nanti.

"Besok dan lusa ada kuliner gratis dan pementasan. Khusus hari Minggu besok, 21 Juni, akan ada 20 ribu porsi makanan khas Minangkaba yang akan dihidangkan secara gratis untuk masyarakat," ucap Pak Jaya di sela kesibukannya. Matanya berbinar menceritakan event akbar ini. 

Menapaki Tangga Sejarah

Pak Jaya mengajak kami masuk. Jantung berdegup kencang saat pintu bangunan Jam Gadang terbuka. Kami bersama Bu Widyawati (Guru Kelas SDN 04 Birugo), Bu Enny Revita (Guru Matematika SMPN 5 Bukittinggi), dan Bu Tuti Khairina (SMPN 2 yang kami panggil untuk ikut serta) naik ke lantai atas.

Sensasi melihat Kota Bukittinggi dari ketinggian, tepat dari dalam rongga Jam Gadang, adalah pengalaman surealis yang tak ternilai. Angin pagi menerobos masuk, membawa serta pemandangan lembah Ngarai Sianok dan hiruk-pikuk kota yang mulai terjaga.

Di salah satu ruangan, kami menemukan ruang informasi yang terhubung dengan pengeras suara raksasa. Ruangan inilah yang suaranya bisa membahana ke seluruh penjuru Pasar Atas. Bu Widyawati, dengan raut wajah tak kuasa menyembunyikan kebahagiaannya, diizinkan oleh Pak Jaya untuk mencoba menyampaikan pesan di pelantang suara tersebut.

Suara Bu Widyawati pun menggelegar, memantul di atas atap-atap toko Pasar Atas. Ia mengajak warga Bukittinggi dan sekitarnya untuk tidak melewatkan rangkaian acara 100 tahun Jam Gadang, termasuk pemutaran film layar lebar dari berbagai negara yang digelar selama sepekan ini di area Jam Gadang. Dan pesan himbauan itu harus disampaikan dalam satu jam satu kali kata Pak Jaya

Menjaga Jantung Waktu Bukittinggi

Di sela kekaguman kami, Pak Jaya berbagi cerita tentang apa yang terjadi di balik dinding tebal Jam Gadang. Tugasnya dan lima rekan lainnya yang terbagi dalam dua shift bukanlah pekerjaan ringan.

Setiap pagi pukul 07.00 WIB, pintu bangunan harus dibuka lebar. "Matahari harus masuk, dan juga harus ada pergantian udara Bu. Itu penting untuk ketahanan bangunan, agar lembap hilang," jelasnya. Bangunan bersejarah ini baru akan "dipejamkan" kembali pada pukul 22.00 WIB.

“Untuk perawatan Jam Gadang ini harus ada koordinasi dengan  Badan Cagar Budaya (BCG) di Batusangkar. Untuk pengecatan jam dilakukan satu kali dalam satu tahun dengan warna yang sama, karena kita tidak boleh menghilangkan keaslian bangunan ini.” papar Pak Jaya

Tentang mesin jam raksasa itu, Pak Jaya menjelaskan bahwa mekanisme pengengkolan atau pemutaran mesin dilakukan secara manual tiga hari sekali. "Kalau jam 09.00, ia akan berdentang 9 kali. Jam 12.00, berdentang 12 kali. Iramanya tak pernah bohong," tambahnya.

Namun, tak sembarang orang bisa masuk ke dalam bangunan ini. Pak Jaya menegaskan, Jam Gadang hanya dibuka untuk kalangan terbatas: peneliti, budayawan, akademisi, dan mahasiswa yang sedang melakukan riset sejarah maupun arsitektur. Jam Gadang bukan sekadar menara, ia adalah ruang laboratorium sejarah yang harus dijaga sterilnya.

Mitos Putih Telur dan Seminar Bersejarah tentang Jam Gadang

Di ketinggian itu, kami tak tahan untuk tidak menanyakan satu pertanyaan klasik yang selalu hidup di lidah masyarakat: Benarkah Jam Gadang dibangun menggunakan campuran putih telur?

Pak Jaya tertawa kecil. Ia menjawab dengan logika yang membumi sekaligus memancing rasa penasaran. "Besok, tanggal 18 Juni, akan ada jawabannya. Kalau benar pakai putih telur, coba bayangkan berapa ton telur yang dibutuhkan?"

Ia kemudian mengundang kami dan seluruh masyarakat, khususnya akademisi, untuk hadir dalam Seminar Nasional di Rumah Walikota Bukittinggi pada 18 Juni. Seminar ini bukan main-main. Hadirin akan dipandu oleh wartawan senior Hasril Chaniago, dengan narasumber kelas kakap: Sri Sultan Hamengkubuwono X, sejarawan kondang Anhar Gonggong, dan berbagai pakar sejarah lainnya.

Rintik Hujan dan Janji yang Tertunda

Menjelang pukul 11.00 WIB, langit Bukittinggi mulai mendung. Rintik hujan turun perlahan, seolah memberi tanda bahwa perjalanan pagi itu harus diakhiri.

Kami pun turun dari Jam Gadang, membawa pulang lebih dari sekadar dokumentasi tetapi juga pengalaman menyentuh sejarah dari dekat.

Empat puluh tahun lebih menatapnya dari luar, hari ini kami akhirnya masuk ke dalamnya. Dan ternyata, Jam Gadang bukan sekadar penanda waktu. Ia adalah penanda ingatan, peradaban, dan cinta masyarakat Bukittinggi pada sejarahnya sendiri.

 Hari ini, kami tidak hanya masuk ke dalamnya, tetapi kami juga mendengar detak jantungnya, dan merasakan napasnya. Kami siap turut merayakan ulang tahunnya yang ke -100 tahun. 

Jam Gadang bukan lagi sekadar monumen. Ia adalah saksi waktu yang akhirnya mengizinkan kami menyentuh sejarahnya, sebelum ia kembali membahana, memanggil seluruh Nusantara untuk datang dan merayakannya.

 

Tidak ada komentar