Rahasia Ilahi

Hidup ini seperti buku. Cover depan adalah tanggal lahir, cover belakang adalah tanggal kematian. Tiap lembar adalah hari-hari dalam hidup kita.


Satu yang pasti dan tak ada satupun manusia yang tau kapan datangnya yah, kematian. Tiga rahasia kematian yang tak pernah kita tahu, dimana, kapan dan karena apa. Tidak ada satu manusia yang paling hebat sekali pun yang bisa menebak dan menetukan kapan rahasia itu akan menemui dan datang menghampiri setiap insan. 
Katanya diusia 40 tahun kita akan diuji dengan berbagai ujian; seperti sakit, kehilangan, kematian orang yang dicinta, masalah anak, masalah dengan pasangan dan berbagai ujian kehidupan lainnya. Ternyata benar, di tahun ini menjelang 40 tahun umurku, ujian itu menghampiri diri ini. Aku kehilangan separuh jiwaku, kehilangan orangtua yang menjadi cinta pertama ku. 

Tumpuan dan tempat mengadu. Sakit, sesak dan sedih bercampur menjadi satu. Tak pernah terbayangkan sedikit pun,  di saat semua berjalan normal,  tanpa ada keluhan atau rintihan sakit dari mulut mu, tiba tiba saja kau pergi di senja itu.
Ya Allah, rasa tak rela, rasa tak percaya melihat kenyataan ini. Walaupun dokter langsung memvonis betapa kritisnya keadaan mu saat itu, aku tak percaya, karena kau adalah sosok yang kuat, semangat dan tak pernah mengeluh apapun sakit yang kau rasa.  Kalaupun ada paling hanya keluhan, asam urat yang memang sudah lama kau derita. 
Pa, di hari baik,  bulan baik dan tanggal cantik, 222021 di hari Selasa kau ukir cerita pilu dan sedih dalam hidupku, hidup kami. Hanya tinggal cerita dan kenangan yang bisa kami ingat. Tentangmu tentang kita, tentang kebersamaan kita. Kau beri makna hidup ini yang tanpa pamrih,  berbuat dan bermanfaat untuk sesama, dan jangan peduli apa kata orang. 
"Kita berbuat baik saja masih banyak orang yang protes, apalah lagi berbuat jahat," ucapmu. Yang penting berbuat untuk orang banyak, bermanfaat untuk semua.  Itu yang kini ku azzamkan di hati ini. Selagi tidak merugikan dan menyakiti hati orang lain, "Majuu, Lanjutkan!!" Kalau tidak kita yang berbuat siapa lagi. 
Alhamdulillah di akhir hidup mu, kau sibuk kan diri menjadi pengurus rumah Allah. Mushala yang dari nol, hancur. Kini tegak megah berdiri dengam ramainya jamaah yang datang setiap lima waktu. Walaupun di akhir masa tugasmu,  ada yang mau menjatuhkan dan mengaku menjadi 'pahlawan', bahkan untuk pembubaran pengurus saja dirimu tak di undang.😥  kau ikhlas melepas semua. Masih ku ingat kata-katamu, "Yang penting mushala sudah beridiri tunai tugasku, lanjutkan lah lagi, aku mau istirahat dan ibadah aja lagi." Ujarmu. 
Namun kalau Allah sudah mengangkat derajat seorang hamba tidak akan ada yang bisa menjatuhkan. Justru kau diminta untuk menjadi pengurus inti di kelurahan. 
Ketika namamu tak di undang dalam sebuah acara kampung,  kau justru berbicara atas nama pemerintah kota. Ya Allah, sangat indah kenangan tentangmu Pa. Ketika aku juga tak mau tampil, karena marah dirimu tak diundang,  namun kau ajarkan untuk bisa berhati besar dan berbuat dengan ikhlas. 

Pa, di saat terang matamu, setelah diangkat katarak di korneamu. Di saat lantunan ayat suci kembali kau dendangkan dengan irama merdu setelah dhuhamu. Kini kau kembali kepadanya dengan keadaan bersih, dengan senyuman mengembang di bibirmu.  Seolah berucap, "Selamat tinggal, dan papa sudah bahagia di sini di samping pemilik hidup." 
Lanjutkan perjuangan papa untuk bisa bermanfaat untuk orang banyak. 😥
Insyaallah Papa husnul khatimah.  Karena di alam bawah sadarmu kau selalu berzikir dan ikuti  kalimat yang ku talqin kan di telingamu, tepat jam 16.15 wib di ICU RSAM. Aku saksi hidup betapa dirimu adalah orang baik karena hanya sekejab merasakan sakit. Banjir manusia menanti kepulangan jenazahmu. Lautan manusia banjir air mata dan mengantar dirimu ke peristirahatan terakhirmu😥
Selamat jalan Pa, walaupun sesak, sedih dan sakit, kami ikhlas melepasmu kepada sang maha Pemilik hidup dan mati. Tunggu kami, bersama kita menuju JannahNya.🤲😥😭❤💝

0 comments:

Post a Comment