Breaking News

CONTOH SOAL OGN (PEDAGOGIK) 2022

Dilla, S.Pd. Pemerhati Pendidikan dan Anak

    OGN (Olimpiade Guru Nasional) adalah kegiatan olimpiade yang dilaksanakan untuk para guru se-Indonesia. Adapaun tujuan dari OGN ini adalah untuk menguji kemampuan guru dalam bidang ilmu pengetahuan yang mereka ampu dan juga kemampuan pedagogi yang dimilki sebagai guru di sekolah. 
    Sudah dua tahun ini, OGN ditiadakan oleh pemerintah, karena efek dari pandemi, atau adanya covid-19. kalaupun ada hanya dilaksanakan oleh instansi atau organisasi yang dilaksanakan tidak secara global. 
    Berikut contoh saol OGN di bidang pedagogik. Semoga di tahun ini bisa terlaksana lagi OGN untuk guru ini. 

TANYA JAWAB SOAL LATIHAN OGN 2022 KOMPETENSI PEDAGOGIK

 KOMPETENSI PEDAGOGIK I : PEMAHAMAN PESERTA DIDIK SECARA MENDALAM: PRINSIP-PRINSIP PERKEMBANGAN KOGNITIF PESERTA DIDIK, PRINSIP-PRINSIP KEPRIBADIAN PESERTA DIDIK, DAN BEKAL AJAR AWAL PESERTA DIDIK.

 

1. Apakah yang dimaksud dengan kognitif?

    Jawab: Kognitif atau pemikiran adalah istilah yang digunakan oleh ahli psikologi untuk menjelaskan semua aktivitas mental yang berhubungan dengan persepsi, pikiran, ingatan dan pengolahan informasi yang memungkinkan seseorang memperoleh pengetahuan, memecahkan masalah, dan merencanakan masa depan, atau semua proses psikologis yang berkaitan bagaimana individu mempelajari, memperhatikan, mengamati, membayangkan, memperkirakan, menilai dan memikirkan lingkungannya. (Desmita, 2009) 

 

2.  Ada berapa tahapkah perkembangan kognitif menurut Piaget? Jelaskan secara singkat!

     Jawab : Ada empat tahap perkembangan kognitif siswa menurut Piaget, yaitu:  

 

1. Tahap sensori motor (0–2 tahun)

 

Pada tahap sensori motor (0-2 tahun) seorang anak akan belajar untuk menggunakan dan mengatur kegiatan fIsik dan mental menjadi rangkaian perbuatan yang bermakna. Pada tahap ini, pemahaman anak sangat bergantung pada kegiatan (gerakan) tubuh dan alat-alat indera mereka.

 

2.  Tahap pra-operasional (2–7 tahun)

     Pada tahap pra-operasional (2-7 tahun), seorang anak masih sangat dipengaruhi oleh hal-hal khusus yang didapat dari pengalaman menggunakan indera, sehingga ia belum mampu untuk melihat hubungan-hubungan dan menyimpulkan sesuatu secara konsisten

 

3. Tahap operasional konkret (7–11 tahun)

     Pada tahap Operasional konkret (7-11 tahun), umumnya anak sedang menempuh pendidikan di sekolah dasar. Di tahap ini, seorang anak dapat membuat kesimpulan dari suatu situasi nyata atau \dengan menggunakan benda konkret, dan mampu mempertimbangkan dua aspek dari suatu situasi nyata secara bersamasama (misalnya, antara bentuk dan ukuran).

 

4.  Tahap operasional formal (lebih dari 11 tahun)

     Pada tahap operasional formal (lebih dari 11 tahun), kegiatan kognitif seseorang tidak mesti menggunakan benda nyata. Tahap ini merupakan tahapan terakhir dalam perkembangan kognitif.   

 

3.    Ada berapa tahapkah perkembangan moral menurut Teori Kohlberg? Jelaskan secara singkat!

 

     Jawab: Ada tiga tahap perkembangan moral menurut Teori Kohlberg, yaitu: Penalaran     prakovensional, konvensional, dan pascakonvensional.

 

a.   Tingkat Satu: Penalaran Prakonvesional

 

 Penalaran prakonvensional adalah tingkat yang paling rendah dalam teori perkembangan moral Kohlberg. Pada tingkat ini, anak tidak memperlihatkan internalisasi nilai-nilai moral, penalaran moral dikendalikan oleh imbalan (hadiah) dan hukuman ekternal.

     Contoh dalam dunia pendidikan: Peserta didik mau belajar kalau mendapatkan hadiah uang.

 

b.   Tingkat Dua: Penalaran Konvensional

     Penalaran konvensional adalah tingkat kedua atau tingkat menengah dari teori perkembangan moral Kohlberg. Seorang menaati standar-standar (internal) tertentu, tetapi mereka tidak mentaati standar-standar (internal) orang lain, seperti orangtua atau masyarakat.

     Contoh: siswa di satu kesempatan mau belajar dengan tekun karena kesadaran sendiri tetapi tidak mau menaati perintah orang tua yang mengharuskan belajar dari pukul 19.00 sampai dengan pukul 21.00

 

c.   Tahap Tiga: Penalaran Pascakonvensional

     Penalaran pascakonvensional adalah tingkat tertinggi dari teori perkembangan moral Kohlberg. Pada tingkat ini, moralitas benar-benar diinternalisasikan dan tidak didasarkan pada standar-standar orang lain. Seorang mengenal tindakan moral alternatif, menjajaki

     pilihan-pilihan, dan kemudian memutuskan berdasarkan suatu kode moral pribadi.

     Contoh : Anak dengan penuh kesadaran menaati tata tertib sekolah baik diawasi atau tidak, ada sanksi atau tidak.

 

4.  Apakah yang dimaksud dengan bekal ajar awal siswa?

     Jawab: Bekal ajar awal peserta didik dapat pula diartikan kemampuan awal (entry behavior)

     adalah kemampuan yang yang telah diperoleh peserta didik sebelum dia memperoleh kemampuan terminal tertentu yang baru. Kemampuan awal menunjukkan status pengetahuan dan keterampilan peserta didik sekarang untuk menuju ke status yang akan datang yang diinginkan guru agar tercapai oleh peserta didik. Dengan kemampuan ini dapat ditentukan darimana pengajaran harus dimulai.

 

5.  Apakah yang dimaksud dengan kesulitan belajar siswa?

     Jawab: Menurut Hamalik kesulitan belajar dapat diartikan sebagai keadaan di mana peserta didik tidak dapat belajar sebagaimana mestinya. Wood (2007:33) menyatakan kesulitan belajar adalah suatu kondisi dalam proses belajar yang ditandai oleh adanya hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar. Hambatan-hambatan tersebut diakibatkan oleh faktor yang berasal dari dalam diri peserta didik maupun luar diri peserta didik.

 

6.  Ada berapa jeniskah kesulitan belajar siswa? Jelaskan secara singkat!

     Jawab: ada empat jenis kesulitan/gangguan belajar dalam perkembangan seorang anak, yaitu:

     a.  Kesulitan belajar akademis, meliputi kesulitan membaca, kesulitan menulis, dan kesulitan                 berhitung.

     b. Gangguan simbolik,  yaitu ketidakmampuan anak untuk dapat memahami suatu obyek                 sekalipun ia tidak memiliki kelainan pada organ tubuhnya.

     c. Gangguan nonsimbolik, yaitu ketidakmampuan anak untuk memahami isi pelajaran karena ia         mengalami kesulitan untuk mengulang kembali apa yang telah dipelajarinya.

     d. Ganguan sosial-emosional, yaitu gangguan yang berasal dari lingkungan dan emosi dalam diri         anak.

 

7. Apa sajakah faktor penyebab kesulitan belajar siswa ?

    Jawab: Penyebab kesulitan belajar antara lain sebagai berikut.


     a. Faktor intelektual, yaitu inteligensi yang rendah dan terbatas;

     b. Faktor kondisi fisik dan kesehatan, termasuk kondisi kelainan, seperti kurangnya gizi pada ibu         hamil, bayi dan anak, kerusakan susunan dan fungsi otak, dan penyakit persalinan;


     c. Faktor sosial,seperti pengaruh teman bermain, pergaulan dan lingkungan sekitar;


     d. Faktor keluarga, seperti keadaan keluarga yang tidak baik dan kurangnya dukungan belajar dari     orang tua.

    

8. Bagaimanakah cara mengatasi kesulitan belajar siswa ?

    Jawab: Cara mengatasi mengatasi kesulitan belajar adalah sebagai berikut.

     a. pengaturan tempat duduk siswa

         Anak yang mengalami kesulitan pendengaran dan penglihatan hendaknya mengambil posisi             tempat duduk bagian depan.


     b. mengatasi gangguan kesehatan

         Anak yang mengalami gangguan kesehatan sebaiknya diistirahatkan di rumah dengan tetap memberinya bahan pelajaran dan dibimbing oleh orang tua dan keluarga lainnya.


     c. Program remedial

         Siswa yang gagal mencapai tujuan pembelajaran akibat gangguan internal, perlu ditolong dengan melaksanakan program remedial.


     d. Bantuan media dan alat peraga

         Penggunaan alat peraga pelajaran dan media belajar kiranya cukup membantu siswa yang mengalami kesulitan menerima materi pelajaran. Misalnya,  karena materi pelajaran bersifat abstrak sehingga sulit dipahami siswa.


    e. Suasana belajar menyenangkan

     Suasana belajar yang nyaman dan menggembirakan akan membantu siswa yang mengalami hambatan dalam menerima materi pelajaran.

 

TANYA JAWAB SOAL LATIHAN OGN 2022 KOMPETENSI PEDAGOGIK II

     PEMAHAMAN LANDASAN PENDIDIKAN, TEORI BELAJAR, DAN STRATEGI PEMBELAJARAN

 

1.  Apakah yang dimaksud dengan kurikulum?

 

    Jawab: Kurikulum adalah suatu rencana pendidikan, yang memberikan pedoman tentang jenis, lingkup, urutan isi, serta proses pendidikan. Dengan program itu para siswa melakukan berbagai kegiatan belajar sehingga terjadi perubahan dan perkembangan tingkah laku pada dirinya. Kurikulum sebagai rencana pembelajaran juga diartikan sebagai seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu

 

2. Apa sajakah fungsi kurikulum? Jelaskan secara singkat!

     Jawab : Fungsi kurikulum adalah sebagai berikut.

a.  Fungsi penyesuaian

     Kurikulum mengarahkan peserta didik agar memilki sifat untuk mampu menyesuaikan dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun sosial.

b. Fungsi pengintegrasian

     Kurikulum untuk mendidik peserta didik agar memilki pribadi yang integral. Siswa pada dasarnya merupakan anggota dan bagian integral dari masyarakat.

 c. Fungsi perbedaan

     Kurikulum untuk memberikan pelayanan terhadap perbedaan individu peserta didik.

 d. Fungsi persiapan

     Kurikulum untuk mempersiapkan peserta didik agar mampu melanjutkan studi lebih lanjut untuk suatu jangkauan yang lebih jauh, baik dalam memasuki pendidikan yang lebih tinggi ataupun dalam memasuki kehidupan dalam masyarakat.

 e. Fungsi pemilihan

     Kurikulum memberikan kesempatan kepada peserta didik dalam memilih program-program belajar sesuai dengan kemampuan dan minatnya.

 f.  Fungsi diagnostik

     Kurikulum membantu dan mengarahkan peserta didik untuk dapat memahami kemampuan dan potensi yang ada dalam dirinya.


 3. Apa sajakah prinsip-prinsip pengembangan kurikulum? Jelaskan secara singkat!

     Jawab: prinsip-prinsip pengembangan kurikulum adalah sebagai berikut.

     a. Ilmiah

         Keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam kurikulum harus benar dan dapat     dipertanggungjawabkan secara keilmuan.

 

    b. Konsisten

     Adanya hubungan yang konsisten (ajeg, taat asas) antara kompetensi dasar, indikator, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, serta teknik dan instrumen penilaian.

 

    c. Relevan

     Pengembangan kurikulum harus memiliki kesesuaian di antara komponen-komponennya, seperti tujuan, bahan, strategi, dan evaluasi. Pengembangan kurikulum juga harus relevan dengan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi, potensi peserta didik, serta tuntutan dan kebutuhan perkembangan masyarakat (relevansi sosilogis).


     d. Ketercukupan

     Cakupan indikator, materi pelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian kompetensi dasar.

 

    e. Menyeluruh

     Komponen silabus mencakup keseluruhan ranah kompetensi, baik pengetahuan, sikap, maupun praktik (psikomotor).


     f. Fleksibel

     Pengembangan kurikulum harus bersifat luwes dalam pelaksanaannya; memungkinkan terjadinya penyesuaian-penyesuaian dengan perkembangan zaman.


     g. Aktual dan Kontekstual

     Cakupan indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian memerhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata, dan peristiwa yang terjadi.

 

    h. Kontinuitas, pengembangan kurikulum harus memerhatikan kesinambungan, antara tingkat     kelas, antara jenjang pendidikan, maupun kontribusi dengan jenis pekerjaan.

 

4. Bagaimanakah pandangan belajar menurut teori behaviorisme?

 

    Jawab: Teori belajar tingkah laku (behaviorisme) memandang belajar sebagai hasil dari pembentukan hubungan antara rangsangan dari luar (stimulus) seperti ‘2 + 2’ dan balasan dari siswa (response) seperti ‘4’ yang dapat diamati. Semakin sering hubungan (bond) antara rangsangan dan balasan terjadi, maka akan semakin kuatlah hubungan keduanya (law of exercise). Teori belajar tingkah laku ini menekankan adanya ganjaran (reward) atau penguatan (reinforcement). Semakin banyak ganjaran yang diberikan maka respon yang diharapkan dari siswa akan lebih baik. Selain itu, jika respon siswa di luar yang diinginkan maka diperlukan adanya konsekuensi hukuman (punishment) sebagai stimulus agar respon yang muncul berbeda dengan respon yang sudah ada atau, dengan kata lain, agar perilaku siswa sesuai yang diinginkan.

 

5. Bagaimanakah teori belajar kognitif menurut Piaget?

     Jawab: Menurut Piaget, struktur kognitif atau skemata (schema) adalah suatu organisasi mental tingkat tinggi yang terbentuk pada saat orang itu berinterkasi dengan lingkungannya. Dua proses yang sangat penting adalah asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah suatu proses di mana suatu informasi atau pengalaman baru dapat disesuaikan dengan kerangka kognitif yang sudah ada di benak siswa; sedangkan akomodasi adalah suatu proses perubahan atau pengembangan kerangka kognitif yang sudah ada di benak siswa agar sesuai dengan pengalaman yang baru dialami.

 

6. Bagaimanakah teori belajar bermakna menurut David P. Ausubel ?

     Jawab: Teori belajar Ausubel menitikberatkan pada bagaimana seseorang memperoleh pengetahuannya. Menurut Ausubel terdapat 2 jenis belajar yaitu belajar hafalan (rote-learning) dan belajar bermakna (meaningfullearning). Jika seorang siswa berkeinginan untuk mengingat sesuatu tanpa mengaitkan hal yang satu dengan hal yang lain maka baik proses maupun hasil pembelajarannya dapat dinyatakan sebagai hafalan (rote) dan tidak akan bermakna (meaningless) sama sekali baginya. Pembelajaran yang mengacu pada ‘belajar bermakna’ atau ‘meaningful-learning’ adalah pembelajaran di mana pengetahuan atau pengalaman baru yang akan dipelajari siswa dapat terkait dengan pengetahuan lama yang sudah dimiliki siswa.

 

7. Bagaimanakah teori belajar presentasi menurut Bruner?

     Jawab: Bruner memunculkan teori presentasi. Bruner membagi penyajian proses pembelajaran dalam tiga tahap, yaitu tahap enaktif, ikonik, dan simbolik. Pada tahap enaktif, para siswa dituntut untuk mempelajari pengetahuan dengan menggunakan sesuatu yang “konkret” atau “nyata” yang berarti dapat diamati dengan menggunakan panca indera. Tahap berikutnya adalah tahap ikonik, dimana para siswa mempelajari suatu pengetahuan dalam bentuk gambar atau diagram sebagai perwujudan dari kegiatan yang menggunakan benda konkret atau nyata tadi. Tahap ketiga adalah tahap simbolik. Pada tahap simbolik para siswa harus melewati suatu tahap dimana pengetahuan tersebut diwujudkan dalam bentuk simbol-simbol abstrak. Dengan kata lain, siswa harus mengalami proses berabstraksi. Berabstraksi terjadi pada saat seseorang menyadari adanya kesamaan di atara perbedaan-perbedaan yang ada.

 

8. Bagaimanakah pandangan teori belajar konstruktivisme?

     Jawab: Bruner berpendapat bahwa belajar dengan penemuan adalah belajar untuk menemukan (learning by discovery is learning to discover). Para siswa dihadapkan dengan situasi di mana ia bebas untuk mengumpulkan data, membuat dugaan (hipotesis), mencoba-coba (trial and error), mencari dan menemukan keteraturan (pola), menggeneralisasi atau menyusun rumus beserta bentuk umum, membuktikan benar tidaknya dugaannya itu.

 

9. Apakah perbedaan antara pendekatan, strategi, metode, dan teknik pembelajaran?

     Jawab: Dalam Lampiran 3 Permendikbud Nomor 58 Tahun 2014 (233) pendekatan dimaknai sebagai cara menyikapi/melihat (a way of viewing); strategi dimaknai sebagai cara mencapai tujuan dengan sukses (a way of winning the game atau a way of achieving of objectif); metode dimaknai sebagai cara menangani sesuatu (a way of dealing). Sedangkan teknik dimaknai sebagai cara memperlakukan sesuatu (a way creating something); dan model dimaknai sebagai kerangka yang berisikan langkah-langkah/uruturutan kegiatan/sintakmatik yang secara operasional perlu dilakukan oleh guru dan siswa. Dalam referensi lain dijelaskan bahwa pendekatan adalah titik tolak atau sudut pandang terhadap proses pembelajaran; metode adalah cara yang digunakan untuk  mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran; teknik adalah cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifk; dan model adalah bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru (bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran). Pendekatan (approach) merupakan titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran. Roy Killen (1998) misalnya, mencatat ada dua pendekatan dalam pembelajaran, yaitu pendekatan yang berpusat pada guru (teacher-centered approaches) dan pendekatan yang berpusat pada siswa (student-centered approaches) yang digunakan dalam perancangan kurikulum dan pembelajaran saat ini. Strategi pembelajaran merupakan perencanaan tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya atau kekuatan dalam pembelajaran yang disusun untuk mencapai tujuan pembelajaran. Sedangkan metode merupakan upaya untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal. Metode digunakan sebagai cara untuk melaksanakan dan merealisasikan strategi yang telah ditetapkan. Dalam mengimplementasikan metode pembelajaran, seorang pendidik perlu menetapkan teknik atau cara tertentu agar proses pembelajaran berjaan efektif dan efsien, serta taktik atau gaya individu dalam melaksanakan suatu teknik atau metode tertentu misalnya dalam menggunakan ilustrasi atau menggunakan gaya bahasa atau idialek agar materi pembelajaran mudah dipahami.

 

10. Apa sajakah kriteria penyeleksian dan pemilihan materi pembelajaran? Jelaskan secara singkat!

     Jawab: kriteria penyeleksian dan pemilihan materi pembelajaran adalah sebagai berikut.

 

a. Sahih (Valid)

     Materi yang akan dituangkan dalam pembelajaran benar-benar telah teruji kebenaran dan kesahihannya.

 b. Tingkat Kepentingan (Significance)

     Dalam memilih materi perlu mempertimbangkan pertanyaan berikut:

     1). Bagaimana intensitas tingkat kepentingan materi tersebut sehingga harus dipelajari?

     2). Apakah penting materi tersebut diajarkan pada siswa?

     3). Dimana letak kepentingan materi tersebut dan mengapa penting?

     Dengan demikian, materi yang dipilih untuk diajarkan tentunya memang yang benar-benar diperlukan oleh siswa.

 c. Kebermanfaatan (utility)

     Manfaat harus dilihat dari semua sisi, baik secara akademis maupun nonakademis. Bermanfaat secara akademis artinya guru harus yakin bahwa materi yang diajarkan dapat memberikan dasar-dasar pengetahuan dan keterampilan yang akan dikembangkan lebih lanjut pada jenjang pendidikan berikutnya. Bermanfaat secara nonakademis maksudnya bahwa materi yang diajarkan dapat mengembangkan kecakapan hidup (life skills) dan sikap yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari

 d. Layak dipelajari (learnability)

     Materinya memungkinkan untuk dipelajari, baik dari aspek tingkat kesulitannya (tidak terlalu mudah, atau tidak terlalu sulit), maupun aspek kelayakannya terhadap pemanfaatan bahan ajar dan kondisi setempat.

 e.  Menarik minat (interest)

     Materi yang dipilih hendaknya menarik minat dan dapat memotivasi siswa untuk mempelajarinya lebih lanjut. Setiap materi yang diberikan kepada siswa harus mampu menumbuhkembangkan rasa ingin tahu sehingga memunculkan dorongan untuk mengembangkan sendiri kemampuan mereka. 

SOAL OGN 2022 JAWAB KOMPETENSI PEDAGOGIK III DAN V

PELAKSANAAN PEMBELAJARAN YANG KONDUSIF DAN PENGEMBANGAN POTENSI PESERTA DIDIK

    BAHAN PERSIAPAN OLIMPIADE GURU NASIONAL 2022

 

1. Bagaimanakah langkah-langkah pembelajaran dengan pendekatan saintifik? Berikan contoh!

     Pembelajaran dengan pendekatan saintifik dilaksanakan dengan lima langkah yang disingkat dengan 5M, yaitu mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengolah informasi/mengasosiasi, dan mengomunikasikan.

a. Mengamati

Kegiatan Belajarnya mengamati: melihat, membaca, mendengar, menyimak (tanpa atau dengan alat).

2.  Menanya

Kegiatan Belajarnya: Mengajukan pertanyaan tentang informasi yang tidak dipahami dari apa yang diamati atau pertanyaan untuk mendapatkan informasi tambahan tentang apa yang diamati dimulai dari pertanyaan faktual sampai ke pertanyaan yang bersifat hipotetik).

 3. Mengumpulkan Informasi/ Eksperimen

     Kegiatan Belajarnya: Melakukan eksperimen, Membaca sumber lain selain buku teks, Mengamati objek/kejadian, Aktivitas Wawancara dengan narasumber

 

4.  Mengasosiasikan/ Mengolah

     Kegiatan Belajarnya

     Mengolah informasi yang sudah dikumpulkan baik terbatas dari hasil kegiatan mengumpulkan/eksperimen maupun hasil mengamati dan kegiatan mengumpulkan informasi

5.  Mengkomunikasikan         

Kegiatan Belajarnya : Menyampaikan hasil pengamatan, kesimpulan berdasarkan  hasil analisis secara lisan, tertulis, atau media lainnnya.

 

2.    Apakah yang dimaksud dengan model pembelajaran discovery learning? Jelaskan langkah-langkah discovery learning dan buatlah contoh dalam perencanaan pembelajaran  

 

    Model Discovery Learning adalah teori belajar yang didefinisikan sebagai proses pembelajaran yang terjadi bila pelajar tidak disajikan dengan pelajaran dalam bentuk finalnya, tetapi diharapkan siswa mengorganisasi sendiri.

     Pelaksanaan pembelajaran dengan model discovery learning meliputi 6 tahap, yaitu

     a. Stimulation (stimulasi/pemberian rangsangan)   

     b.  Problem statement (pernyataan/ identifikasi masalah)     

     c.  Data collection (Pengumpulan Data).     

     d.  Data Processing (Pengolahan Data) 

    e.  Verification (Pembuktian)

     f.  Generalization (menarik kesimpulan/generalisasi)

 

3. Apakah yang dimaksud dengan model pembelajaran Problem Based Learning (Pembelajaran berbasis masalah ) ? Jelaskan langkah-langkah Problem Based Learning dan buatlah contoh dalam perencanaan pembelajaran

     Pembelajaran berbasis masalah merupakan sebuah pendekatan pembelajaran yang menyajikan masalah kontekstual sehingga merangsang peserta didik untuk belajar. Dalam kelas yang menerapkan pembelajaran berbasis masalah, peserta didik bekerja dalam tim untuk memecahkan masalah dunia nyata (real world)

 Tahapan-Tahapan Model PBL

 Fase 1: Orientasi peserta didik kepada masalah.

 

Fase 2: Mengorganisasikan peserta didik

 

Fase 3: Membimbing penyelidikan individu dan kelompok.

 

Fase 4: Mengembangkan dan menyajikan hasil karya.

 

Fase 5: Menganalisa dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.

 

4. Apakah yang dimaksud dengan model pembelajaran Project Based Learning (Pembelajaran berbasis proyek ) ? Jelaskan langkah-langkah Project Based Learning dan buatlah contoh dalam perencanaan pembelajaran

     Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning=PjBL) adalah metode pembelajaran yang menggunakan proyek/kegiatan sebagai media. Peserta didik melakukan eksplorasi, penilaian, interpretasi, sintesis, dan informasi untuk menghasilkan berbagai bentuk hasil belajar.

     Pembelajaran Berbasis Proyek merupakan metode belajar yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam beraktifitas secara nyata.

     

Langkah-langkah Pembelajaran Berbasis Proyek

 1. Penentuan Pertanyaan Mendasar (Start With the Essential Question).

 2. Mendesain Perencanaan Proyek (Design a Plan for the Project)

 3. Menyusun Jadwal (Create a Schedule)

 4. Memonitor peserta didik dan kemajuan proyek (Monitor the Students and the Progress of the Project)

 5. Menguji Hasil (Assess the Outcome).

 6. Mengevaluasi Pengalaman (Evaluate the Experience)


    Demikianlah contoh soal OGN untuk kategori Pedagogik. Semoga bermanfaat 

Tidak ada komentar