Menjadi Nara Sumber di Sosialisasi Guru Penggerak


Guru Penggerak adalah salah satu program kementerian pendidikan yang sudah digulirkan dalam dua tahun ini. Saat ini di 2022, sudah memasuki angkatan ke-6. Alhamdulillah, Bukittinggi,  kotaku menjadi kota pilihan untuk bisa mengikuti seleksi menjadi guru penggerak yang bisa di akses di SIM PKB Guru masing-masing. 
Ketika pengumuman seleksi guru penggerak ini dimulai, aku langsung mengisi data-data dan persyaratan yang diminta. Ada beberapa berkas dan Surat rekomendasi yang harus di unggah ke laman Sim PKB Guru Penggerak, termasuk CV dan pengalaman berorganisasi dan menjadi sukarelawan di masyarakat. Setelah itu, seleksi lanjut kepada pengisian esai. Ada beberapa buah esai yang harus diisi, dengan berbagai pertanyaan yang menggali informasi dan pengalaman Guru masing-masing. 
Alhamdulillah setelah mengisi beberapa hari secara marathon,  aku bisa menyelesaikan esai waktu itu. Lumayan panjang dan banyak, karena harus ditentukan jumlah karakter yang harus diketik. Jadilah harus mengarang indah untuk menyelesaikannya.
Waktu terus berjalan,  sudah masuk kepada pengimbasan,  namun yang mau ikut terus lanjut dan yang malas tetap kekeh dengan kemalasannya.
Ternyata setelah di data sampai awal bulan Februari hanya 8 orang yang statusnya sudah diajukan. Dua orang dari Al Ishlah,  yaitu Zah Yurnita, atau Ayu BK, dan salah satunya adalah diri ini. 


Setelah sekian lama, ternyata masih banyak guru di Bukittinggi yang masih mengabaikan program guru penggerak ini, makanya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kota Bukittinggi mengambil kebijakan mengumpulkan semua guru di setiap perwakilan sekolah untuk mengikuti sosialisasi tentang guru penggerak ini. 
Pas di hari Sabtu, 5 Februari 2022 dikumpulkanlah pendidik calon guru penggerak ini di SMP 5 Bukittinggi, dengan dua sesi pertemuan. Satu sesi terdiri dari 220 orang guru, lanjut di sesi berikutnya dengan jumlah yang sama. 
Ketika itu, namaku tidak lagi ikut dalam sosialisasi tersebut. Katanya mungkin karena sudah menyelesaikan seleksi tahap pertama, makanya dengan senang hati dan berbagai planing yang akan kulakukan di hari itu karena tidak ikut berkumpul.
Namun, tidak berapa lama kepala sekolahku mendapat telepon, kalau aku harus mengikuti kedua sesi pertemuan tersebut dan memberikan materi serta menemani nara sumber dari dinas untuk sosialisasi tersebut. Masyaallah,  entah apalah rasanya ketika itu.  Antara ragu, malu senang dan takut menjadi satu.  Karena harus berbicara di depan orang banyak dan semua guru-guru hebat di Bukittinggi. 
Qadarullah Allah yang menguatkan dan menakdirkan, aku bisa dan mampu untuk melakukan dan menyelesaikan tugas ini. Walaupun hanya sebentar, namun ini sudah menjadi catatan penting bagi perjalanan hidupku ke depannya. Memang ini bukan yang pertama bagiku untuk menjadi nara sumber. Dari menjadi nara sumber secara daring dan luring sudah pernah aku jabani dan jalani, dan itupun dalam komunitas tersendiri, seperti di MGMP dan grup kepenulisan.
Namun, kali ini menjadi sebuah cerita, karena aku bisa berbicara di depan ratusan pasang mata ketika itu. Yang alhamdulillah menatap dengan khidmat dan fokus mendengarkan penjelasanku alhamdulillah.... 
Ini menjadi catatan penting di tahun ini. Februari awal bulan menjadi nara sumber dan berbicara di depan 400an guru se- Bukittinggi. Semoga ke depannya bisa lebih baik lagi aamiin yra 😉😘

0 komentar:

Posting Komentar