Cara Praktis Belajar Menulis bagi Pemula


Menulis merupakan salah satu dari empat keterampilan berbahasa. Saat ini,  keterampilan dan kemahiran dalam menulis sangat dibutuhkan dan harus dimilki oleh semua orang. Mau tidak mau dan suka tidak suka, kita harus mampu untuk menulis. Nantilah bagaimana bagus atau jeleknya tulisan kita, sebagai manusia yang hidup di zaman digital ini, kita harus mampu dan bisa untuk menulis. Kenapa? Karena setiap informasi yang kita beri dan terima semuanya berbentuk tulisan. 

Begitu pentingnya mampu menulis dalam kehidupan sehari hari, makanya setiap individu apalah lagi siswa dan mahasiswa atau semua insan yang bekerja di berbagai bidang, khususnya semua sivitas akademika harus mampu untuk menulis. Bagaimana caranya agar mampu menulis, tentu saja kita harus banyak membaca. Awalnya membaca apa saja yang sekarang ini tersebar di mana-mana, seperti di media sosial. 

Sejak zaman Internet ini, media sosial tidaklah suatu hal yang asing lagi bagi banyak orang. Hampir semua orang mempunyai berbagai akun media sosial. Dari anak anak yang sudah pandai membaca, sampai orang tua yang sudah pensiunan.  Mereka mempunyai akun media sosial yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber informasi. Di media sosial ini jugalah kita bisa belajar untuk menulis. 
Bagaimana caranya agar kita bisa menjadi penulis yang terampil dan handal? Mari kita bahas!


Menulislah di media sosial. Bagaimana caranya? Just write. Buat akun lalu tulis apa saja tapi jangan pendek-pendek. Mulai minimal 100 kata. Pelan-pelan tingkatkan. Menulislah tiap hari, bisa di blog, fb, twitter, instagram, whatsapp, telegram, dan lainnya. Semua media sosial apa saja, boleh. 

Mengapa harus di media sosial? Mengapa gak nulis di laptop saja, lalu disimpan di folder khusus. Boleh nulis di laptop, tapi tetap dipublikasikan di media sosial ya, yang ditulis di media sosial, sebaiknya juga diback up di laptop, drive, atau hardisk internal. Inilah cara, agar terbentuk karakter dan mental seorang penulis. Berani. Berani mempublikasikan tulisan. Gimana mau jadi penulis besar dengan pembaca jutaan, jika menulis di medsos saja masih maju-mundur? 

Gak perlu malu, selama yang ditulis adalah kebaikan. Gak perlu takut, bahwa tulisan kita terlalu buruk. Asal terbaca dan bisa dimengerti pembaca, itu sudah sangat baik. Jauh lebih baik, dari mereka yang berpikir untuk menulis tapi tak kunjung menulis. Teman-teman di media sosial akan membaca. Ada yang memberikan apresiasi lewat tombol "like" dan komentar. Itu akan menambah motivasi. Sehingga kita bersemangat untuk menulis lagi. 


Selain itu, kita bisa tahu, tulisan mana dan seperti apa yang paling banyak disukai. Tulisan bagaimana yang kurang disukai. Sebuah tahap awal untuk mengetahui karakter calon pembaca tulisan kita. Tapi jangan mundur dan kecil hati kalau mungkin saja ada yang mengkritik tulisan kita. Sebagai calon penulis handal kota harus siap. Sekaligus ini mengasah mental untuk tidak lemah terhadap kritik. Penulis tak boleh antikritik. Tidak boleh marah hanya karena dikomentari negatif atau dinyinyiri. Tak ada penulis di dunia ini yang tidak dikritik. J.K Rowling, Dan Brown, Buya Hamka, Andrea Hirata, semua pernah dikritik. Pernah dihujat, dimaki, dan difitnah pula karyanya. Penulis sejati tak akan marah hanya gara-gara dikritik. Justru ia semakin melaju. Menulis tanpa henti. 

Jadi lewat media sosial latihannya. Semoga dengan sering menulis di media sosial, kita justru bisa menjadi penulis hebat yang diperhitungkan.  Bahkan sekarang banyak aplikasi menulis yang bisa mendatangkan cuan. Jangan ragu lagi. Kuatkan tekad menjadi penulis. Lalu menulislah di medsos. Setiap hari. 

0 komentar:

Posting Komentar