Breaking News

Catatan Syukur di Penghujung Tahun 2025


Tahun 2025 terasa seperti rangkaian ayat Ujian

Refleksi Akhir Tahun 2025

Tahun 2025 hadir seperti rangkaian ayat yang dibacakan Allah dengan tempo yang tidak selalu lembut. Ada ayat-ayat yang menenangkan jiwa, ada pula yang mengguncang iman. Namun semakin dibaca hingga akhir, semakin terasa bahwa semua disusun dengan cinta. Hadiah dan ujian datang bersamaan, seolah Allah sedang mendidik hamba-Nya agar matang dalam syukur dan sabar.

Januari dibuka dengan perjalanan panjang yang penuh makna. Yogyakarta, Malang, Bromo, hingga Jakarta menjadi saksi langkah-langkah yang ditempuh. di Februari bersama suami mengikuti kelas PPA, tidak hanya dunia, namun juga menuju surga-Nya. Perjalanan itu bukan sekadar wisata, melainkan perjalanan batin menata kembali niat sebagai pasangan, orang tua, dan pendidik. Dari sana, keyakinan diteguhkan bahwa keluarga adalah madrasah pertama, dan ilmu adalah cahaya yang harus terus dicari.

Pertengahan tahun menjadi fase amanah dan kepercayaan. Mei hingga Agustus, Allah membuka pintu-pintu yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Diundang menjadi narasumber di RRI Pro 2, Pro 4, dan Pro 1 Bukittinggi, berbagi gagasan dalam podcast, hingga mengisi ruang diskusi di Tampek Maota TVRI Sumbar. Kata-kata yang dahulu hanya lahir di ruang sunyi, diberi ruang untuk memberi manfaat yang lebih luas.

Di dunia pendidikan dan literasi, Allah mengizinkan langkah ini bergerak lebih jauh. Anak-anak didik dibimbing untuk tidak hanya membaca, tetapi berkarya. Dari proses yang panjang dan penuh kesabaran, lahirlah buku tunggal, antologi, serta majalah digital karya-karya yang menjadi bukti bahwa anak-anak mampu menulis masa depannya sendiri. Di saat yang sama, para guru juga dibantu untuk menerbitkan buku mereka, saling menguatkan dalam lingkaran ilmu dan kebermanfaatan.

Tahun ini pula, Allah menitipkan kepercayaan besar: terlibat langsung dalam penyelenggaraan acara besar launching buku MGMP Bahasa Indonesia. Sebuah peristiwa yang mempertemukan dunia literasi dengan para pemangku kebijakan, membuka ruang dialog langsung dengan para pejabat penting, dan memperlihatkan bahwa guru tidak hanya mengajar di kelas, tetapi juga mampu berdiri di ruang-ruang strategis membawa gagasan.

Namun, di sela cahaya itu, ujian datang tanpa jeda. Suami mengalami kecelakaan. Anak pertama kehilangan ponsel di Mesir. Anak kedua mengalami kecelakaan hingga motornya hancur. Hati sempat goyah, doa semakin panjang. Tetapi Allah kembali menunjukkan janji-Nya: luka diberi kesembuhan, kehilangan diganti, dan rezeki datang dari arah yang tidak disangka bahkan motor baru pun bisa dimiliki. Dari sini, iman dipertebal: tidak ada satu pun ujian yang datang tanpa kasih sayang-Nya.

Di akhir tahun, apresiasi datang sebagai penguat langkah: penghargaan Guru Penggerak Literasi di sekolah, kemenangan lomba menulis surat, penghargaan dari Bunda Literasi, serta kepercayaan mengikuti GTK Dedikatif tingkat Kota Bukittinggi. Semua itu bukan tujuan akhir, melainkan pengingat agar niat tetap lurus dan langkah tetap rendah hati.

Allah juga menghadirkan jeda yang menyejukkan. Masih diberi kesempatan berkumpul dengan sahabat lama SMP dan SMA serta bertemu teman-teman baru dalam lingkaran muhibah yang menghadirkan tawa dan cerita. Dari sana disadari bahwa persaudaraan juga bentuk rezeki.

Kini, di penghujung 31 Desember 2025, kami berada di Pekanbaru, membersamai anak-anak pesantren mengisi masa liburan mereka. Membangun quality time, menghadirkan diri sepenuh hati, meski satu hati lain sedang jauh di negeri seberang. Tahun ini ditutup dengan rasa cukup. Cukup dalam syukur, cukup dalam pasrah.

Jika ada satu doa yang ingin dipanjatkan untuk masa depan, maka itu adalah: semoga Allah terus menggerakkan langkah ini dalam jalan kebaikan. Tetap kuat saat diuji, tetap tenang saat diberi, dan tetap setia pada niat awal menjadi manusia yang bermanfaat.

Tahun 2025 mengajarkan satu pelajaran penting:
Hadiah dan ujian adalah dua cara Allah mendekatkan hamba-Nya kepada-Nya.

Tidak ada komentar