Menanamkan Ketaqwaan dan Keteladanan kepada Anak


Oleh Dilla, S.Pd.
Praktisi Pendidikan dan Anak

       Mendambakan anak yang sholeh dan bertqwa kepada Allah adalah  cita-cita semua orang tua. setiap orang tua bisa dan mempunyai hak yang sama untuk bisa menjadikan anak-anaknya menjadi anak yang sholeh, bertakwa dan kaya. Kaya ilmu dan kaya harta, semua adalah dambaan semua insan. Bisakah kita melatih dan menjadikan anak-anak kita kaya dan takwa? Tentu sangat bisa, setiap orang tua mempunyai kesempatan yang sama untuk bisa mencetak anak-anak yang kaya dan taqwa kepada Allah. Bagaimana caranya, yaitu dengan mengisi otak anak dengan kata-kata dan hikmah yang bermanfaat.  Kata-kata adalah doa, jadi selalulah sebutkan dan ucapkan kata-kata penuh hikmah kepada anak-anak kita. Jangan menasihati anak ketika dia sedang emosi. Nasihatilah anak ketika dia sedang senang dan siap menerima nasihat. Kapan anak siap menerima nasihat, ketika mereka sedang senang, gembira dan bahagia. Kebiasaan kita sebagai orang tua menasihati anak justru ketika anak sedang kesal, karena kita marahi setelah melakuakan kesalahan. Asalkan tahu, otak anak tidak akan menerima satupun nasihat yang kita sampaikan,  karena dia sedang kesal dan juga marah. Dia hanya bisa diam dan menunduk, sedangkan hatinya dongkol tidak terkira. 

Lalu, bagaimana cara menanamkan keimanan dan ketakwaan kepada anak? Rasulullah SAW, menunjukkan betapa pentingnya menanamkan keimanan kepada anak. Rasulullah juga memberikan nasihat yang berharga dan luar biasa untuk ibnu ‘Abbas yang ketika itu masih kecil. Rasulullah bersabda: “ Wahai Anakku, sesungguhnya aku mengajarkanmu beberapa kata ini sebagai nasihat buatmu. Jagalah hak-hak Allah swt, niscaya Allah swt akan menjagamu. Jagalah dirimu dari berbuat dosa kepada Allah niscaya Allah swt akan berada di hadapanmu. Apabila Engkau menginginkan sesuatu mintalah kepada Allah swt. Dan apabila ingin meminta pertolongan mintalah pertolongan kepada Allah swt. Ketahuilah apabila seluruh umat manusia berkumpul untuk memberi manfaat kepadamu, mereka tidak akan mampu melakukannya kecuali apa yang telah dituliskan Allah swt di dalam takdirmu.  Juga sebaliknya apabila mereka berkumpul untuk mencelakai dirimu, niscaya mereka tidak akan mampu mencelakaimu sedikitpun kecuali atas kehendak Allah swt. Pena telah diangkat dan lembaran takdir telah kering.” (HR Tarmizi )

   Hadist tersebut mengajarkan kepada kita bahwa kita harus menggambarkan kepada anak dasar keimanan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah swt karena: tiada penolong kecuali Allah swt yang maha kuasa. Allah swt yang senantiasa membalas kebaikan. Tidak ada tempat meminta kecuali Allah swt. Dan tidak ada tempat bergantung kecuali kepada Allah swt. Selain meberikan nasihat kepada anak hal dasar yang harus ditunjukkan kepada anak adalah keteladan. Karena sebaik-baiknya dakwah adalah dengan keteladanan. Keteladanan adalah perkataan yang tercermin dalam tindakan atau sebaliknya.  Dalam memberikan keteladanan, lakukan dengan konsisten karena konsisten akan membuat keteladanan melekat dalam diri anak. Istiqomah, dan selalu lakukan setiap hari tanpa putus-putus. 

        Apa saja contoh keteladan yang mulai dapat dibiasakan di rumah? Keteladanan dalam membaca alquran setiap hari, salat berjamaah di masjid bagi laki-laki, berjilbab bagi perempuan, berdoa dan berkata lembut, tidak merokok, bersadakah jariyah, dan masih  banyak keteladanan dari Rasulullah saw yang dapat mulai dibiasakan dengan diri sendiri dan pasangan sebelum meminta anak melakukannya. Keteladan akan masuk ke otak anak, tanpa kita minta dan paksa. Anak akan melihat, dan dia akan melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan oleh orangtuanya.  Apa yang di dengar dan dilihat anak sejalan, tidak hanya omdo atau omong doang. Janganlah seorang ibu, menyuruh anak salat, namun si ibu tetap asik dengan gawainya. Anak akan menilai, kenapa berbeda ya apa yang dilihat dan apa yang di dengar. Seharusnya sama apa yang di dengar dan apa yang dilihat anak. Ketika kita menyuruh mereka salat, ya kita bergerak mengambil wuduk. Jadi kalau menyuruh anak, sang ayah atau ibu harus siap dulu melakukan apa yang diperintahkan. Maka anak pasti akan melakukan apa yang disuruh. Jadi antara mata dan telinga harus sejalan, barulah keteladanan itu berjalan. 

         Selain itu,  apalagi yang harus  dilakuakan untuk menumbuhkan rasa cinta (mahabbah) keimanan kepada anak?  Rasa cinta (mahabbah) itu bisa tumbuh dengan suatu pembiasaan. Yaitu mengubah lingkungan sekitar sehingga senantiasa mengingatkan kita pada sesuatu yang kita cintai. Dan akan timbul rasa cinta yang begitu kuat tertanam sangat dalam, apalagi saat kecil. Karena akan masuk ke otak anak. Bagaimana cara menumbuhkan rasa inta anak kepada Robnya. Yaitu  melalui keteladanan. Rasa cinta kepada Allah swt atau mahabbatullah adalah rasa cinta paling tinggi yang dapat diwujudkan seorang hamba kepada Robbnya. Caranya adalah dengan  sering menyebut asma Allah swt. Ajari anak untuk memahami sifat-sifat Allah swt, ajari untuk senantiasa bersyukur kepada Allah swt, dan kaitakan semua kebaikan dengan Allah swt, namun lakukan dengan cara dialogis. Atau dialog. Lakukan ketika anak sedang gembira, bukan ketika mereka sedang lelah dan capek atau anak sedang banyak masalah. Perdengarkan semua kalimat-kalimat toibah kepada mereka, seperti: basmalah, hamdalah, Allahuakbar, subhanallah, dan banyak kalimat toibah lainnya dalam setiap melakukan tindakan. Jika kita selalu mengucapkan kalimat-kalimat tersebut, mereka akan mendengar dan merekam semua ucapan kita, dan juga akan mempraktikannya.   

     

1 comment:

  1. Silakan tinggalkan komen nya ya.. kita bisa berbagi dan diskusi seputar perkembangan si buah hati 😊

    ReplyDelete